Mohon tunggu...
Munir Sara
Munir Sara Mohon Tunggu... Yakin Usaha Sampai

Menulis adalah cara kami dari seberang Timur meraba-raba separoh dinamika di negeri ini. Anak pesisir dari Timur-NTT. Menulis untuk memuaskan diri saja, meski baru memulai. Lebih suka mendengar daripada banyak bicara. Menulis sebatas cara mengecap cita rasa keindonesiaan. Karena kompasiana ini miniatur Indonesia. Kontak : 081212450014

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Corona Virus dan Manusia Virus

5 Maret 2020   07:10 Diperbarui: 5 Maret 2020   07:29 132 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Corona Virus dan Manusia Virus
Ilustrasi (Foto: indozone.id)

Sekarang ini lagi ramai-ramainya netizen nyinyir soal harga masker yang amit-amit mahalnya. Omongan Komedian Aming itu ada benarnya, bahwa naga-naganya, bukan Covid-19 yang membunuh orang Indonesia, tapi tabiat rent seeking yang bakal membuat sesama manusia saling membunuh. Mati bukan gegara virus tapi karena kelakuan produsen bajingan. Manusialah virus berbahaya itu?

Dua hari lalu saya order masker di salah satu belanja daring lewat smartphone. Saya pesan dua masker Xiomi seharga Rp.99.000 + ongkir, jadinya Rp.104.000. Saya kira Xiomi ini produsen smartphone, tapi juga bikin masker. Dengar-dengar Apple dan Microsoft juga mau bikin masker, gegara permintaan global terhadap core product lagi melorot.

Bahkan kini Apple dan Microsoft mau hengkang dari China ke Vietnam gegara wabah Covid-19. Bukan ke Indonesia. Google yang tadinya mau bikin acara tahunan juga tunda. Beberapa korporasi global ini lagi tekor habis-habisan. Permintaan global turun drastis. Makanya mereka mau pindah ke produksi masker.  

Masker Xiomi yang mau saya beli ini termasuk masker yang canggih. Selain filter yang apik juga punya saluran oksigen. Pasalnya, saya sudah wara wiri ke semua ritel terdekat, tapi masker sudah ludes. Di apotek juga sama.

Di notifikasi, masker Xiomi ini akan dikirim tiga hari. Saya tunggu dan harap-harap cemas. Satu hari sebelum tanggal penerimaan, saya dinotif lagi, isinya soal pengembalian dana (refund) karena stok barang habis.

Dalam hati saya dongkol setenga mati. Mestinya kalau barangnya habis, jangan terima orderan di kanal penjualan. Beberapa saat setelah pembatalan itu, tiba-tiba saya lihat di display, harga masker Xiomi sudah terkerek menjadi Rp.225.000. Perubahan harga meningkat dua kali lipat---lebih (116%).

Di kanal sosmed, salah satu akun menulis di timeline-nya, harga masker di Glodok per dos Rp.850.000. Isinya 50 buah. Berarti @masker harganya Rp.17.000. Biasanya sepuluh rebu perak juga dapat tiga masker.  

China yang komunis, atau Amerika yang biangnya kapitalisme, tidak begitu-begitu amat. Di negeri yang Pancasilais ini, kala nyawa manusia sudah di tubir kematian, masih saja dieksploitasi. Sekarang beritanya berbalik, dari kekhawatiran soal penyebaran virus, menjadi penimbunan dan kelangkaan masker.

Ada saja yang mau berburu untung di tengah situasi bangsa yang tengah was-was. Gegara itu, sekarang ini di kanal-kanal group WA, mulai di-share bagaimana caranya bikin masker dari tisu dan karet gelang. Saya juga mulai pikir-pikir memanfaatkan sarbet sebagai pengganti masker.

Apa jadi, setelah ditelusuri aparat, banyak produsen bandel yang menimbun masker. Kalau rantai suplai sudah acak-acakan, baru mau dia jual dengan harga selangit. Manusia begini, lebih jahat dari Covid-19.

Lalu datanglah edukasi medis, bahwa masker tak begitu penting untuk mitigasi. Lah, bagaimana ini, satu Indonesia ini pada sugesti semua. Lalu tiba-tiba dibilang ga penting pakai masker.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x