Mohon tunggu...
Munir Sara
Munir Sara Mohon Tunggu... Yakin Usaha Sampai

Menulis adalah cara kami dari seberang Timur meraba-raba separoh dinamika di negeri ini. Anak pesisir dari Timur-NTT. Menulis untuk memuaskan diri saja, meski baru memulai. Lebih suka mendengar daripada banyak bicara. Menulis sebatas cara mengecap cita rasa keindonesiaan. Karena kompasiana ini miniatur Indonesia. Kontak : 081212450014

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Menyoal Koalisi Tanpa Syarat ala PAN

16 Februari 2020   10:17 Diperbarui: 17 Februari 2020   08:27 5088 8 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menyoal Koalisi Tanpa Syarat ala PAN
AFP/GETTY IMAGES

Jauh-jauh hari, PAN sudah beri signal, bakal mepet-mepet ke pemerintah. Tidak perduli, mau dapat job di pemerintahan atau tidak. Itu namanya koalisi tanpa syarat.  Kalau ditafsir cepat-cepat, maka ini koalisi paling ikhlas dalam sejarah politik Indonesia.

Saya juga heran bukan kepalang, di zaman politik Neolib seperti saat ini, masih ada politik tanpa syarat. Di era Neolib, politik adalah komoditas. Dengan demikian, dukungan politik adalah alat tukar tambah kekuasaan. Engga ada makan siang gratis.

Terkecuali PAN ini Departemen Agama, punya motto Ikhlas Beramal. PAN ini partai politik. Dan partai politik adalah salah satu infrastruktur dalam mengelola kekuasaan untuk rakyat. Lalu bagaimana ceritanya ada koalisi tanpa syarat?

Menurut saya, kita ga perlu jualan eufemisme dengan jargon-jargon klise. Justru itu mengesankan PAN engga punya nyali. Ciut di hadapan kekuasaan. Akan vis a vis dengan basis kultural PAN yang masih diametral dengan rezim. Apakah kefakiran dalam ijtihad politik, membuat PAN tak punya pilihan?

Kalau sudah koalisi tanpa syarat, maka pilihannya begini. Kita harus diam terhadap defisit BPJS kesehatan akibat tata kelola (governance) yang dibebankan ke rakyat. 

Sementara dalam rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja; akan membebaskan royalti atau royalti nol persen untuk perusahaan tambang batu bara.

Ini aneh bin ajaib, pajak untuk rakyat kecil; seperti pedagang kaki lima dan Warteg, diuber-uber. Sementara royalti dari para kapitalis mau dinolkan. Apakah dengan model-model pengelolaan pemerintahan begini, PAN harus diam dengan koalisi tanpa syarat?

Kita juga diam terhadap fraud di tubuh asuransi BUMN PT Jiwasraya  (Persero), yang merugi hingga triliunan rupiah. Kita juga ga usah protes soal current account deficit (CAD) pada neraca dagang hingga jutaan USD per Januari 2020. Pertumbuhan ekonomi yang terkoreksi di awal tahun.

Kita punya kerentananan dengan soal darurat energi dan pangan. Kalau semuanya manut-manut atas nama koalisi tanpa syarat, lalu mau jadi apa negeri ini? Terus terang, nalar dan akal sehat saya tidak mampu menjangkau jargon koalisi tanpa syarat ala PAN.

PAN juga tidak usah banyak cincong atau protes terhadap ASABRI yang merugi hingga puluhan triliun rupiah. Pokoknya kita diam saja. Itu sebagai konsekuensi dari koalisi tanpa sayarat.

Memang fatsun politiknya sudah begitu. Kalau sudah koalisi dengan pemerintah plus tanpa syarat, maka tidak boleh ikutan nyinyir seperti PKS dan Demokrat yang tetap jaga nyali politiknya. Punya pamor dan harga diri sebagai sebuah partai politik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x