Mohon tunggu...
Munir Sara
Munir Sara Mohon Tunggu... Yakin Usaha Sampai

Menulis adalah cara kami dari seberang Timur meraba-raba separoh dinamika di negeri ini. Anak pesisir dari Timur-NTT. Menulis untuk memuaskan diri saja, meski baru memulai. Lebih suka mendengar daripada banyak bicara. Menulis sebatas cara mengecap cita rasa keindonesiaan. Karena kompasiana ini miniatur Indonesia. Kontak : 081212450014

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

PAN Pasca Zulkifli Hasan

9 Desember 2019   06:42 Diperbarui: 9 Desember 2019   06:44 317 0 0 Mohon Tunggu...
PAN Pasca Zulkifli Hasan
Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (foto : Munir.doc)

Kenapa PAN pasca Zulkifli Hasan? Karena secara metodologi, bang Zul dibaca sebagai bagian masa lalu (past time), yang tertinggalkan. Membaca PAN sesudah bang Zul, adalah membaca masa depan. Bukan mundur ke belakang dan status quo

Oleh sebab itu, membaca PAN pasca bang Zul, adalah dengan dua pendekatan. Pertama, mendekonstruksi hal-hal buruk PAN di eranya, dan merekonstruksi hal-hal baik, yang ditinggalkan.

Pada saat pembukaan Rakernas PAN 7/12/2019 di Jakarta, Amien Rais menyodorkan suatu narasi besar tugas kesejarahan PAN, yakni sebagai role bagi partai modern ! Tuntutan itu ada pada sifat modernitas PAN (baca modernitas). Termasuk dalamnya adalah cenderung pada proses kaderisasi/regenerasi kepemimpinan dan tak menganggkangi kekuasaa---terus ingin berkuasa.  

Pertanyaan paling serius bagi kader PAN adalah, apakah partai ini yakin menjadi role bagi partai modern? Mengawetkan demokrasi dan kepemimpinan melalu proses kaderisasi? Terbuka dan gandrung pada keunikan masa kini yang menempatkan anak muda/milenial sebagai arus utama perubahan di berbagai bidang, termasuk politik?

#Pasca bang Zul

Ada problem fundamental yang perlu dibenahi PAN pasca era bang Zul. Pertama, perlu adanya konsolidasi ideologi untuk meluruskan khittah perjuangan partai. Kedua mengembalikan karakter atau corak politik PAN sebagai tafsir asas dalam praksis kehidupan perpolitikannya. Ketiga, menguatkan PAN pada basis sosialnya dan membuka diri atau lebih akseptabel pada segmen sosial lainnya.

Penegasan bang Zul akan tuntutan "PAN perlu pragmatis" adalah klimaks dari bergesernya PAN dari idealitas sebagaimana tuntutan sejarahnya. Idealitas tersebut, mengandaikan, tuntutan sosial di luar PAN menjadi lebih penting, ketimbang PAN bicara soal pragmatis untuk dirinya.

Berbeda dengan bang Zul, wakil ketua umum PAN, Mulfachri Harahap lebih cerdas dalam meluruskan terminologi pragmatism. Menurut Mulfachri, pragmatis hanya dibutuhkan untuk hal-hal taktis-strategis dalam rangka memperjuangkan kepentingan rakyat. Bang Zul memberikan narasi kosong tentang prgamtisme. Ini bahaya, karena bisa saja terjadi abuse terhadap keharusan prgamatisme itu sendiri.

Khittah PAN adalah sebagaimana tertuju pada asas partai, yang mana, salah satunya ada dalam tuntutan akhlak politik. Pragmatisme yang ugal-ugalan---meski diberi label "pragmatism positif, sangat membahayan akhlak politik PAN. Karena sudah pasti terjadi abuse di dalamnya. Sekelompok kecil orang yang mengangkangi dan menumpuk-numpuk sumber daya politik untuk dirinya dan kelompok. Dan mereka ingin terus berkuasa !

Ketidakjelasan sikap politik, selalu bermain di zona nyaman---blurred area, adalah bagian dari mereduksi PAN dari karakternya. Pada generasi awal PAN, partai ini dikenal sangat tegas, kritis dan bernas dalam melakukan kritik-kritik sosial dan pemerintahan. Posisinya jelas dan tegas.

PAN pasca Zulkifli Hasan, adalah mengembalikan partai ini pada karakter awalnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN