Media Pilihan

Jurnalis Juga Niat Ngantor Kok

12 Februari 2019   16:09 Diperbarui: 12 Februari 2019   16:22 72 1 1
Jurnalis Juga Niat Ngantor Kok
123rf.com

Jika Anda punya alasan untuk benar tapi tetap disalahkan? Apa yang harus dilakukan? Mengalah? Tunduk dan menganut? Atau membungkam dengan kebenaran?

Pertanyaan saya di atas hanya salah satu implementasi terhadap tempat baru saya bernaung. Tempat dimana awalnya saya yakin bisa melakukan hal baru dan berkembang bersama dengan orang-orang hebat di dalamnya. Tantangan tempat baru kali ini memang cukup berbeda dengan yang terdahulu.

Sebagai jurnalis, mencicipi bekerja di sebuah startup media cukup membuat saya deg-deg ser. Sensasi menjadi salah satu generasi-generasi awal yang membangun sebuah perusahaan media baru tentu sangat saya harapkan.

Keyakinan dan semangat berapi-api itu tumbuh dan saya hadirkan pada hari pertama masuk kerja. Tanpa tedeng aling-aling saya langsung dipertemukan dengan dengan redaktur dan beberapa atasan kantor.

Lantas, saya diberikan briefing perihal alur kerja jurnalis disini. Dari titik inilah saya cukup merasa ada kejanggalan dalam cara kerja sebuah media online berbasis digital. 

Saya keheranan saat melihat rekan-rekan jurnalis lain yang lebih awal join kantor. Mereka diminta sang redaktur untuk menulis naskah, lalu mengeprintnya dan memberikan kepada redaktur.

 Hell what? Jujur saya kebingungan mampus disitu. Ini tahun 2019 coy. Tahunnya shio Babi dan pintu rezeki. Disaat pesaing-pesaing media startup sudah mulai beradu kecepatan ini malah memilih langkah kemunduran.

Sebenarnya saya bukan orang yang berhak menjudge atau mempertanyakan sebuah cara kerja di kantor startup. Saya orang baru disini. Tapi saya juga bukan orang baru di media. Meski saya baru bekerja dua tahun sebagai generasi terakhir jurnalis tabloid olahraga pertama di Indonesia, pengalaman itu tetap membawa saya untuk berpikir.

Meski tah sepaham dengan gaya kerjanya saya coba adaptasi. Ini semua berkat pesan orang tua dan teman-teman yang selalu bilang "Coba dulu aja, siapa tahu nanti berubah."

Persoalan bukan hanya di print tulisan yang cukup menguras waktu saja. Terdapat satu hal lagi yang membuat saya sulit mencerna keinginan dan tujuan startup media online ini.

Adanya aturan baru perusahaan mengenai potong gaji jika terlambat dari 15 menit cuga cukup memberatkan. Besaran potongannya pun tak sedikit. Cukup untuk makan dua hari anak kosan, yakni 50 ribu hingga 80 ribu perhari.

 Sangat berat bagi seorang jurnalis yang biasa bekerja di lapangan dan mementingkan efesiensi asal jangan terburu-buru. Kembali pada niatan awal, saya mencoba untuk teguh dan mencoba beradaptasi dengan gaya kantor.

 Jujur, saya selalu berusaha untuk mengerjakan apa yang ditugaskan kepada saya dengan baik. Juga menghasilkan karya yang memuaskan bagi saya pribadi dan kantor.

Entahlah, disini saya belum menemukan itu. Saya mencoba terus bertahan dan mengikuti sistem kerja disini.

Poin inilah yang menjawab lead pertanyaan saya di atas. Awal ceritanya cukup biasa dalam dunia kerja. Saya meminta izin dengan sangat sopan kepada redaktur kece ini untuk berhalangan hadir di kantor pada pagi dan baru bisa datang siang hari.

Tak dinyana, percakapan saya dengan beliau melalui aplikasi WhatApp itu berujung pada titik muak saya disini. Bukannya merespon permohonan izin saya, sang redaktur malah menembaki saya dengan kata-kata yang tak relevan dengan keadaan sebenarnya.

"Kamu sudah keseringan izin dan dapat penugasan liputan juga gak bisa. Niat kerja gak?," ujar sang redaktur.

Perkataan niat kerja gak? Cukup meruntuhkan kepercayaan saya terhadap beliau.

Karena balasan WA ia perihal keseringan izin dan menolak liputan itu salah besar dan sedikit hiperbola. Selama bekerja dua bulan di kantor ini saya izin baru sekali, karena sakit dan saya punya bukti surat dokter. 

Jadi, apakah bisa dibilang keseringan izin? Kedua, dapat penugasan liputan gak bisa? Selama di kantor saya tak pernah menolak liputan penugasan karena saya senang di lapangan. Saya hanya menolak satu peliputan dikarenakan saya sudah membeli tiket ke Bandung sebelum redaktur berbicara soal mandat liputan.

Memangnya jurnalis tak niat kerja? Saya pikir semangat saya ketika awal masuk kerja disini sudah menjawab semua. Jika saya tak niat kerja, mungkin saya sudah resain secepatnya karena merasa tak cocok dengan sistem kerja yang ada.

Maka, dari pertanyaan di lead tulisan, saya memilih untuk membungkam omongan-omongan tak valid dengan kebenaran. Karena sebagai jurnalis seumur jagung, saya juga punya hak untuk bersuara, apalagi jika itu berujung pada serangan yang berbicara tanpa fakta.

Janganlah menganggap semangat bekerja jurnalis itu omong kosong. Anda salah mba. Ya inti dan akhir cerita ini semua juga sudah tahu pasti langkah apa yang saya pilih untuk kedepan. Hehehe.

Ini adalah murni opini pribadi. Bagi ada yang merasa merugi boleh berdiskusi dan saling refleksi diri. Salam hangat.