Mohon tunggu...
Billy N.
Billy N. Mohon Tunggu...

Tinggal di Bandung, pernah sekolah di bidang kesehatan, tapi sekarang malah jadi pedagang 'asongan' & lebih banyak di depan komputer...\r\n\r\nProfil saya: www.YAHrapha.web.id

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Membuat Sistem Jaminan Kesehatan Sendiri yang Mandiri

17 September 2011   11:05 Diperbarui: 26 Juni 2015   01:53 213 0 0 Mohon Tunggu...

Dokter itu fungsinya bukan hanya untuk pengobatan, tapi untuk pencegahan penyakit (prevensi) & peningkatan kesehatan (promosi), termasuk untuk mendidik masyarakat (orang biasa sebut penyuluhan). Komunikasi yang baik juga sangat diperlukan dalam hal-hal ini. Fungsi ini sering kali dilupakan baik oleh dokter maupun masyarakat. Salah satu korporasi berpikir dokter kerjanya obati pasien, juga dokternya berpikir begitu, maka ketika pasiennya sedikit & dokternya banyak menganggur tunggu pasien. Lalu dokter dikurangi jam kerjanya sampai akhirnya dokternya diberhentikan. Ini karena tidak lakukan program prevensi & promosi.
Di kota-kota besar, ada sangat banyak lokasi pabrik, perkantoran, sekolah/kampus, pusat belanja, atau pusat hiburan/wisata besar dengan pekerja/siswa/mahasiswa di atas 1000 orang, tapi tidak ada dokter yang bekerja di lokasi, padahal sangat membantu kalau ada. Saya pernah lihat di salah satu gedung perkantoran yang memang secara ketentuan harus punya ruangan klinik ternyata kliniknya dipakai sebagai gudang setelah sekian lama kosong. Padahal di gedung itu ada minimal 1000 orang bekerja setiap hari & ratusan tamu datang. Kalau ada, dengan sistem jaminan kesehatan, lalu korporat & dokternya punya program prevensi & promosi, pasti sangat bagus. Dalam 1 gedung yang berbagai macam korporasi (banyak juga yang kecil-kecil) bisa bergabung mengadakannya karena kalau masing-masing jadinya mahal & tidak efisien.
Saya pernah ditelepon malam-malam oleh seorang pekerja di salah satu gedung perkantoran di Jkt yang menangis karena di kantornya yang tidak ada jaminan kesehatan (perusahaan kecil), dia harus membayar Rp 500 ribu untuk berobat flu-pilek saja, hampir separuh dari gajinya. Mungkin harus utang atau bulan itu dia bisa jadi 'puasa'. Masalah ini mungkin dihadapi oleh jutaan orang. Ini baru sakit ringan, kalau sakit berat memang betul bisa langsung buat miskin orang yang tadinya tidak miskin.
Mungkin sistem jaminan kesehatan ini bisa diterapkan saat pengembang/perusahaan/yayasan membangun gedung perkantoran, perbelanjaan, tempat wisata, hotel, industri, perumahan, rusun, atau kampus baru, menyediakan 1 ruangan klinik sebagai salah satu fasilitas umum lalu dibantu pembentukan sistemnya. Sangat manusiawi kalau penghuni, pekerja, atau yang belajar itu diperlakukan sebagai aset juga, bukan obyek.
Ini sekadar contoh, kalau gaji dokter Rp 7 juta/bulan (tidak perlu pakai perawat) untuk bekerja 40 jam/minggu, dalam 1 lokasi ada 2000 orang, maka per orang hanya membayar Rp 3500/bulan untuk pelayanan dokter tanpa pikir harus bayar tiap kali berkonsultasi saat jam kerja. Kalau jumlah orang lebih besar/kecil tinggal disesuaikan bilangan pembaginya. Di sekolah/kampus yang sekarang SPP-nya sudah sangat mahal, jika dibandingkan maka uang sebesar itu sangat kecil.
Beralih ke soal tarif. Bisa jadi tarif murah, tapi kalau kolusi dengan pabrik obat? Ada dokter tarif konsulnya 'hanya' Rp 20 ribu, tapi kalau resepkan obat atau pemeriksaan lab tidak pernah lebih rendah dari Rp 100 ribu karena kolusi tersebut. Jadi selain moralitas/karakternya harus bagus, sistem juga harus mencegah hal ini terjadi. Orang yang tadinya 'lurus' bisa jadi 'bengkok' ketika ada kesempatan & pikirannya mulai dipengaruhi kebutuhan sampai ketamakan.
Semoga berguna.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x