Mohon tunggu...
Edison Hulu
Edison Hulu Mohon Tunggu... Ekonomi dan Keuangan

Dosen, Peneliti, dan Pelaku Ekonomi.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Tiga Musuh Ekonomi Harus Diatasi agar Cepat Sembuh dari Dampak Covid-19!

13 Mei 2020   14:44 Diperbarui: 13 Mei 2020   14:56 36 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tiga Musuh Ekonomi Harus Diatasi agar Cepat Sembuh dari Dampak Covid-19!
indonesia-1961-sd-2020-5ebb9ec5d541df317f5896d2.jpg

Ada dua kali angka pertumbuhan tahunan perekonomian  Indonesia berada dalam kondisi negatif, yaitu, pada tahun 1963, pada tahun 1998, untuk lebih jelas lihat Tabel terlampir.  Pada setiap terjadi negatif pertumbuhan ekonomi tersebut, ada tiga musuh ekonomi yang bersama dengan peristiwa tersebut. Pertama, inflasi yang tinggi.  Kedua, nilai tukar yang tidak stabil. Ketiga, suku bunga yang tidak stabil dan cukup tinggi.

Kalau menghendaki bahwa dampak ekonomi dari Covid-19 tidak menjadi perangkap terjadinya instabilitas ekonomi Indonesia secara keseluruhan, maka pemerintah bersama Bank Indonesia dan Otoritas Jasa keuangan (OJK) berusaha agar tidak terjadi gejolak suku bunga yang semakin tinggi seperti pada tahun 1998,  dan menjaga agar tidak terjadi inflasi seperti pada tahun 1963 sebagai dampak dari cetak uang untuk membiayai program pemerintah, serta memelihara stabilitas nilai tukar rupiah agar terhindar seperti yang terjadi pada tahun 1998.

Dilaporkan di beberapa media, bahwa Bank Indonesia telah melakukan pembelian surat berharga pemerintah dengan nilai sebesar 120 triliun rupiah untuk pembiayaan berkaitan dengan wabah Covid-19.  Beberapa usul dari anggota DPR untuk menambah sekitar 600 triliun rupiah dari Bank Indonesia untuk stimulus ekonomi agar cepat pulih, walaupun Gubernur Bank Indonesia menolah usul tersebut.  Intinya ialah sejarah pada tahun 1960-an menunjukkan bahwa cetak uang akan membawa malapetaka inflasi dan menyebabkan pertumbuhan ekonomi semakin buruk pada saat itu. Saya percaya bahwa Bank Indonesia akan memperhitungkan dampak cetak uang agar terkendali, sehingga tidak menyebabkan penyakit inflasi yang memperburuk  kondisi ekonomi untuk sembuh dalam jangka pendek.

Dari media juga diketahui bahwa perbankan nasional menunjukkan tanda-tanda persaingan untuk mendapatklan dana segar dengan meningkatkan suku bunga.  Pola seperti ini adalah awal malapetaka peningkatan suku bunga pada tahun 1998 yang lalu, sehingga suku bunga pada saat itu mencaai 50-60 persen per tahun.  Diharapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengendalikan situasi yang cenderung persaingan suku bunga untuk mendapatkan dana segar agar tidak terjadi ketidakstabilan suku bunga yang menganggu pengembangan investasi dalam berbagai sendi ekonomi secara keseluruhan.

Dari media juga diberitakan dan data transkasi saham pihak asing yang lebih banyak nilai jual dari pada nilai beli, akan cenderung modal lari ke luar negeri. Kondisi seperti ini terjadi karena ekspektasi semakin buruk ekonomi ke depan, dan juga dengan larinya modal ke luar negeri, maka berpeluang terjadi ketidakstabilan nilai tukar.

Menjaga agar modal tidak lari ke luar negeri tidak gampang dalam kondisi jangka pendek.  Salah satu cara yang paling rasional ialah pemerintah merumuskan kebijakan ekonomi dengan jelas dan prospektif, sehingga para pemodal dalam menilai secara objektif bahwa prosespek masa depan ekonomi Indonesia akan cerah.  Pemerintah menyediakan dokumen yang lengkap yang terdiri dari rumusan kebijakan yang objektif untuk memulihkan kondisi ekonomi yang terganggu dari dampak Covid-19.   Sampai saat ini belum ada dokumen yang lengkap yang gampak dibaca para pemodal.

Intinya, tiga musuh ekonomi yang harus singkirkan kalau ingin cepat pemulihan ekonomi, yaitu, (1) ciptakan kondisi suku bunga yang stabil, (2) kendalikan agar tidak terjadi inflasi, dan (3)  ciptakan stabilitas nilai tukar rupiah.   

 

VIDEO PILIHAN