Mohon tunggu...
Edison Hulu
Edison Hulu Mohon Tunggu... Ekonomi dan Keuangan

Dosen, Peneliti, dan Pelaku Ekonomi.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Sekilas Pendekatan "Long Tong" dalam Pembangunan Ekonomi

28 Desember 2019   21:49 Diperbarui: 29 Desember 2019   20:55 15 0 0 Mohon Tunggu...

Pendekatan negara memberdayakan "Long Tong" dicatat sukses di Tiongkok, tetapi "bukan gagal, tetapi masih belum optimal" diberdayakan di Indonesia dalam perannya mengentaskan kemiskinan dan memperkecil ketimpangan pendapatan.  Dalam kegiatan ekonomi sebuah negara,  pada umumnya sebagian besar kegiatan ekonomi dikelola operasiaonalnya oleh para "Long Tong".

Upaya pemberdayaan "Long Tong" untuk tujuan pengentasan kemiskinan, baik di Tiongkok maupun di Indonesia, dimulai hampir pada waktu yang sama (1970-an), dua negara tersebut adalah negara berkembang, dan juga termasuk dua negara yang memiliki penduduk terbanyak di planet bumi ini, yaitu, Tiongkok dan Indonesia.  Dua negara yang memiliki jumlah penduduk yang banyak ini,  penduduknya banyak yang miskin dan relatif cukup tinggi tingkat ketimpangan pendapatan. Konon, pada awal pendekatan "Long Tong" di dua negara tersebut, awalnya  dibiayai dari bantuan Bank Dunia, dan setelah program "Long Tong" dijalankan selama sekitar 40-an tahun,  dipuji berhasil di Tiongkok tetapi kurang optimal berhasil  di Indonesia.

Apa itu pendekatan pemberdayaan "Long Tong" dalam pembangunan ekonomi?  Long tong dalam bahasa Cina artinya wiraswasta "kepala naga", bukan wirawasta biasa.  Wiraswasta kepala naga adalah wiraswasta yang murah hati, dan bersedia membantu kegiatan ekonomi kelompok miskin menjadi ekor atau bagian kecil yang ikut berkembang sejalan dengan berkembang usahanya.   Konsep pendekatan "Long Tong" di Tiongkok diprioritaskan untuk membangun kegiatan produksi dan jasa yang terkait dengan kegiatan ekonomi kelompok miskin, khususnya di daerah pedesaan yang terisolir dari akses ekonomi dalam berbagai aspek.  Tanpa peran para "Long Tong" akan sulit berkembang kegiatan kegiatan ekonomi kelompok miskin, karena kelompok miskin menghadapi berbagai kendala dan keterbatasan sehingga mereka sulit menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, karena kelompok miskin tidak memiliki keahlian kewiraswastaan dan networking, serta akses pasar dan teknologi.

Konsep yang mirip pendekatan "Long Tong" di Indonesia, yaitu, konsep menggunakan pendekatan "bapak angkat" dalam meningkatkan ekonomi kegiatan miskin.  Model pendekatan "bapak angkat" di Indonesia,  kurang berhasil, bahkan "gagal".   Perusahaan yang dijadikan sebagai Bapak Angkat sangat berbeda dengan karakteristik "Long Tong (Kepala Naga) " di Tiongkok.

Pendekatan pemberdayaan pengusaha "Long Tong " di Tiongkok dicatat berhasil, tidak hanya mengentaskan ratusan juta penduduk yang miskin dan juga mengurangi ketimpangan pendapatan, tetapi yang "patut dipuji dunia" ialah sukses merubah sebagian gurun pasir (suatu hal yang tidak mungkin) menjadi sumber penghidupan dan memperbaiki lingkungan hidup (menjadi mungkin), karena menggunakan pendekatan pengusaha kepala naga.

Atas keberhasilan Tiongkok, tidak salah bila Indonesia meniru pendekatan "Long Tong" dalam pembangunan ekonomi kelompok miskin. Indonesia dapat belajar bagaimana memilih wiraswasta yang dijadikan "Long Tong" dalam membangun ekonomi kelompok miskin dan yang terisolir dalam akses ekonomi, serta tehnik opreasional dalam pengendalian agar sukses berhasil.  Tanpa  peran wiraswasta "Long Tong", kelihatannya akan sulit dalam upaya mempercepat proses peningkatan pertumbuhan ekonomi kelompok rakyat miskin.

Kelighatannya banyak wirawasta yang berhasil sebagai potensi  menjadi "Long Tong" di Indonesia dan diharapkan perannya dalam meningkatkan kegiatan ekonomi kelompok miskin,  pada gilirannya akan semakin cepat meningkatkan kesejahteraan umum bagi seluruh rakyat Indonesia ke depan. 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x