Mohon tunggu...
Edison Hulu
Edison Hulu Mohon Tunggu... Ekonomi dan Keuangan

Dosen, Peneliti, dan Pelaku Ekonomi.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Kebijakan Harga BBM Agar Tidak Menjadi "Penganggu" Kestabilan Ekonomi

25 Desember 2015   16:28 Diperbarui: 25 Desember 2015   20:11 167 0 0 Mohon Tunggu...

Tidak ada satupun negara yang mampu mewujudkan kemakmuran bagi rakyatnya bila sekali enam bulan, atau sekali tiga bulan terjadi gejolak harga, bahkan sekali seminggu, apalagi bila gejolak harga tersebut disebabkan karena kebijakan yang dilakukan pemerintah.  Pengalaman beberapa negara yang mengalami gejolak harga (baik inflasi maupun deflasi), seperti Indonesia pada masa Orde Lama, negara-negara Amerika Latin sepert Brazil, Argentina, dan negara-negara Afrika, telah mengalami pahitnya dampak ketidakstabilan harga, dan ternyata setelah harga stabil negara-negara tersebut menjadi inspirasi dunia, termasuk Indonesia disebut oleh Bank Dunia sebagai "the miracle economy" pada tahun 1990-an.  Kuncinya adalah kestabilan harga yang mampu diwujudkan dalam jangka waktu yang cukup lama, maka berpeluang besar berkembang industri pengolahan, mulai dari penerapan teknologi tepat guna sampai pada peneraparan teknologi canggih.

Bagi Indonesia,  peran harga BBM, dilihat dari sisi permintaan dalam negeri (domestic demand),  dalam kestabilan harga umum sangat penting (sekalipun dilaporkan Badan Pusat Statistik relatif kecil, tetapi secara psikologi besar dampak pengganda perubahan harga BBM terhadap harga umum), karena masih belum sukses diversifikasi dan substitusi penggunaan energi BBM, baik pada sektor industri manufaktur maupun pada sektor sarana transportasi darat, laut, dan udara. 

Pada sisi penawaran (supply sides),  Indonesia negara pengimpor terbesar di ASEAN, dengan demikian, harga minyak mentah dunia yang berfluktuasi yang tak menenetu, akan mempengaruhi secara langsung harga BBM dalam negeri.  Harga minyak mentah dunia tidak hanya ditentukan faktor ekonomi semata, tetapi cenderung lebih banyak ditentukan oleh faktor politik dunia, dan sulit dijamin kepastian kestabilan harga minyak mentah dunia dalam jangka panjang, bahkan diprediksipun sulit dengan hasil yang dipercaya.

Strategi penentuan harga BBM dalam negeri, pemerintah Jokowi telah berjanji bahwa,  (a) harga BBM dalam negeri disesuaikan dengan harga BBM dunia, (b) dalam jangka panjang akan makin dikurangi subdisi BBM dan dialihkan ke sektor lain.  Implementasi strategi penentuan harga BBM, kelihatannya dilakukan secara coba-coba, untuk mencari strategi yang jitu, dan sampai saat ini juga masih coba-coba.

Ada beberapa bahan pertimbangan dalam menentukan sttraegi yang tepat dalam menentukan jadual penentuan harga BBM dalam negeri seirama dengan perubahan harga minyak mentah dunia.

Pertama, metode Amerika, yaitu setiap hari (harga di pompa bensin) mengalami perubahan (mekansime pasar yang melakukan penyesuaian, tanpa pengumuman dari pemerintah) seirama dengan perubahan harga minyak mentah dunia. Sekalipun banyak negara yang mengikuti pola seperti ini, namun metode ini akan sukses pada negara yang fasilitas transpotasi dan komunikasi yang memadai, dan kecil perbedaan tingkat kemajuan pembangunan antardaerah.  Dalam jangka pendek, sulit diterapkan metode seperti ini di Indonesia.

Kedua, metode penjadualan waktu, misalnya sekali tiga bulan atau sekali enam bulan, dan seterusnya.  Menggunakan metode ini, para pelaku pasar mengetahui secara pasti kapan ada perubahan harga BBM, asalkan jelas rumus perhitungannya secara transparan.  Untuk Indonesia, kelihatnnya agak cocok metode ini, tetapi masalahnya, kadang tidak jelas rumus perhitungan penentuan harga BBM dalam negeri, banyak faktor yang ditetapkan sepihak oleh negara.

Kalau jelas formulasi, dalam arti pihak masyarakat bisa melakukan perhitungan, maka penerapan metode ini cukup baik.  Tetapi, kadang-kadang, sekalipun perubahannya hanya kecil, dan dampaknha juga kecil, maka terpaksa harus dilakukan pengumuman perubahan harga BBM sesuai jadual, inilah kelemahan metode ini. 

Ketiga, kebijakan perubahan tidak terjadual, tetapi tergantung pada tingkat perubahan yang dipandang signifikan oleh pemerintah. Mislanya (hanya contoh, masih belum diuji apakah signifikan atau tidak), kalau harga BBM sudah harus disesuaikan bila turun atau naik sebesar Rp 250 per liter.  Penentuan sebesar angka Rp 250 per liter dipandang singifikan. 

Walaupun apapun metode penentuan harga BBM, tetapi karena Indonesia bukan negara yang menganut sistem ekonomi komando, maka akan terjadi perbedaan dampak ketika harga naik dan ketika harga turun.  Saya sarankan untuk menggunakan metode yang ketiga, biasanya tidak sering dilakukan, karena perubahan yang signifikan biasanya relatif jarang terjadi.

 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x