Cerpen

[Becak] Balada Cinta Jamila

15 September 2018   01:16 Diperbarui: 15 September 2018   01:31 450 17 12
[Becak] Balada Cinta Jamila
Sumber gambar : Pos Kupang - Tribunnews.com

Jamila yang berkulit putih mulus itu duduk sendirian dibelakang rumah sambil memegang dua pucuk surat dua rupa. Yang satu dari Saipul berwarna biru langit, dan satu lagi dari Toyib berwarna merah muda.

Toyib adalah teman Jamila sesama guru di SD Negeri Pondok Aren. Toyib berkulit putih, sopan, pintar, rupawan dan sedikit pendiam. Dia cucu Haji Miing, guru mengaji terkenal dari Sawangan.

Saipul yang bukan Jamil ini asli lelaki beneran luar dalam! Berkulit hitam manis, tinggi, jantan dan senyumnya sangat memikat hati, membuat banyak perawan di kampung klepek-klepek kalau beradu pandang dengannya. Walaupun bukan sarjana, Saipul adalah juragan muda yang memiliki usaha bengkel dan showroom motor, organ tunggal, ayam potong dan usaha sablonan.

Untuk ukuran kampung, Saipul ini termasuk tajir. Tapi untuk proyek jangka panjang, Toyib juga masuk hitungan karena dia PNS yang sebentar lagi menyelesaikan studi S2 nya. Sebagai cucu tunggal Haji Miing yang sudah "adem" itu, dia juga bakal mewarisi tanah di Sawangan dan Pondok Aren kelak. Walaupun bini bapaknya empat, tapi hanya Toyib seorang saja anak bapaknya.

Baik Toyib maupun Saipul sudah menyatakan cintanya secara terus terang kepada Jamila, dan cinta mereka itu pun terang terus adanya! Itu membuat Jamila senang tapi susah. Tersenyum sekaligus sedih.

Jamila bukan cuma bingung untuk memilih, tetapi dia juga tidak ingin menyakiti salah satu dari keduanya kelak, karena mereka berdua sangat baik kepadanya. Babe dan emaknya pun kini tidur punggung-punggungan. Emaknya lebih memilih Toyib, babenya lebih demen sama motor dan organ tunggal Saipul!

Jamila suka kepada keduanya, karena mereka itu termasuk pemuda "Gentlemen konservatif." Mereka ini punya tatakrama yang baik, sehingga menyenangkan semua anggota rumah termasuk juga si bleki, anjing tetangga! Keduanya rajin berkirim surat, sesuatu hal yang jarang dilakukan pemuda masa kini. Suratnya pun harum baunya, dan meninggalkan jejak khusus diujung bawah surat...

***

Di kamar tidurnya, Jamila kemudian membuka kotak kecil yang diberikan Saipul bersama surat tadi. Isinya sebuah cincin terbungkus kain putih bersih. Dibawahnya ada tulisan di kertas, "Jangan dilihat dari harganya" Jamila lalu  membongkar isi kotak itu, tapi dia tidak menemukan "tag" harga yang dimaksud.

Jamila lalu membuka kitab primbon dan erek-erek togel. Disitu ada tertulis, Cincin diatas kain putih. Artinya, Cincin melambangkan ikatan yang tak berkesudahan, karena tak jelas mana pangkal dan ujungnya, Kecuali kalau dijual ke tukang emas, karena bisa saja diubah menjadi kerabu atau giwang!

Kain putih melambangkan niat baik dan suci, seperti tape singkong yang sudah melewati proses pematangan oleh ragi, jujur dan sudah teruji! Karena yang memberikan berkulit hitam manis, niatannya itu seperti melati yang mekar harum mewangi yang mengundang kumbang untuk menghisap madunya, dalam sebuah ikatan yang jelas, "Hitam diatas Putih!" Hitam diatas putih dibawah!

Jamila lalu memakai cincin itu di jari manisnya. "Aih..!" cincin itu berjodoh di jarinya dan terlihat manis! Dalam sekejab cincin itu mengharubirukan sanubarinya, menggelitik sukmanya, memaksa bibir mungilnya untuk selalu tersenyum merekah ketika memandang cincin itu.

kemudian Jamila membuka kotak yang diberikan Toyib bersama suratnya, sebuah Pashmina indah campuran wool dan sutra. Pashmina artinya, penutup aurat, kerudung, selimut pelindung multi fungsi dari kepala hingga kaki, pemanis penampilan, dan juga bisa dipakai membawa kue-kue dan makanan sisa dari pesta atau kondangan...

Pemuda berkulit putih yang memberikan pashmina, mempunyai niat suci seperti awan putih di angkasa. Melindungi kekasihnya dari terik mentari siang dan dinginnya malam. Melindunginya dari segala hal yang jahat, termasuk kejaran debt collector dan copet!

Menerima pashmina dari lelaki bekulit hitam juga tetap bagus, tetapi jangan sekali-sekali mau menerimanya dari lelaki yang tak berkulit! Jamila lalu mencium pashmina itu.

Kini Jamila galau, keduanya menunggu jawaban dari Jamila. Jamila mungkin akan bertanya kepada pembaca. Tidak mungkin lagi bertanya kepada rumput yang bergoyang. Rumput kini tidak lagi bergoyang, karena tidak ada lagi rumput di tanah lapang. Tanah lapang kini sudah berganti menjadi apartemen...

Aditya Anggara