Mohon tunggu...
May Lee
May Lee Mohon Tunggu... Guru - Just an ordinary woman who loves to write

Just an ordinary woman who loves to write

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

[Novel] You Are (Not) My Destiny [52]

21 September 2021   17:38 Diperbarui: 21 September 2021   17:41 232
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

"Noona... noona maafkan aku. Apakah sekarang noona yang marah? Noona, mau ngapain?"

"Kira-kira mau ngapain lagi aku kalau sudah di dapur. Tentunya aku mau masak. Kau pasti belum makan kan? Aku juga lapar lagi. Sebenarnya aku sudah makan di desa tadi... tapi membujukmu menghabiskan tenagaku, jadi aku lapar lagi."

Akhirnya kami berdua memakai celemek dan aku sibuk memeriksa lemari es, ada bahan makanan apa saja yang bisa dimasak. Ternyata ada beberapa bungkus tteokbokki beku di dalam sana. Aku memutuskan akan memasak tteokbokki itu, jadi aku mengambil beberapa sayuran dan mulai sibuk memotongnya. Lalu mendadak, Dongsun memelukku dari belakang dan membuatku nyaris memotong jariku.

"Dongsun! Apa sih yang kau lakukan? Aku nyaris memotong jariku nih!"

Sama mendadaknya seperti dia memelukku, dia lalu membalikkan badanku dan dia meletakkan tangannya di meja dapur dan mengunci tubuhku.

"Yah, apa sih maumu? Aku sudah lapar, jadi biarkan aku memasak, oke?"

Dongsun tampak diam dan serius ketika menatapku lurus di mataku. Aku merasa sangat gugup sekarang.

"Apa kau mau bertengkar denganku lagi? Aku kan sudah minta maaf karena aku sibuk beberapa hari ini..."

"Mianhae noona," ucapnya perlahan dengan suaranya yang tenang dan dalam, "maaf ya aku sudah cemburu buta. Maaf juga aku sudah membohongi noona. Aku hanya ingin noona lebih memperhatikanku... aku merindukan noona."

Ternyata dia bukan mengajakku bertengkar. Dia malah semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku... dan dia mencium bibirku lembut. Apakah kau tak tau kalau aku juga merindukanmu, Dongsun? Apakah hanya karena aku tak pernah mengatakannya, kaupun tak tau aku merindukanmu? Aku hanya tak ingin menganggumu dan perkerjaan barumu, jadi aku tak pernah mengatakannya. Tapi kurasa ini kesempatan yang baik bagiku untuk mengungkapkannya padamu. Ciumannya dalam dan menuntut, dan aku bisa merasakan dia mengucapkan "aku merindukanmu" dalam tiap kecupannya. Kulingkarkan tanganku di lehernya dan aku balas menciuminya dengan intens. Aku merindukanmu, Dongsun... aku juga merindukanmu. Entah berapa lama kami berciuman sampai akhirnya akulah yang menghentikannya. Dia masih menatap mataku dan aku masih sangat gugup, sampai aku merasakan pipiku panas.

"Bagaimana kalau kita pesan saja?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
  15. 15
  16. 16
  17. 17
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun