Monica Cicilia
Monica Cicilia

International Relations Student in Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

Selanjutnya

Tutup

Culinary Pilihan

Dijadikan Alat Diplomasi, Inilah Tantangan Terbesar Industri Kuliner Indonesia

17 April 2018   11:02 Diperbarui: 18 April 2018   07:07 846 1 0
Dijadikan Alat Diplomasi, Inilah Tantangan Terbesar Industri Kuliner Indonesia
dokpri

Dalam industri kreatif Indonesia, bidang apapun dapat dijadikan sebagai alat dalam mewujudkannya, salah satunya industri kuliner. Hal ini dikarenakan dalam CNNIndonesia, menurut menteri Pariwisata, Arief Yahya,  industri kuliner menyumbangkan 42% dari ekonomi kreatif Indonesia tahun 2017.

Dalam hal ini, Industri kuliner menduduki posisi tertinggi, kemudian industri fashion dengan 18% dan craft atau kriya dengan 15% dari data badan ekonomi kreatif (Bekaf). Dapat dikatakan, pencapaian ini tidak terlepas dari kegiatan belanja dan kuliner dalam dunia pariwisata. Total belanja dan kuliner mencapai 75% dan industri kuliner sendiri menduduki posisi tiga besar dalam pariwisata.

www.123rf.com
www.123rf.com
Meski menduduki peringkat pertama, industri kuliner di Indonesia masih jauh tertinggal dari negara tetangganya seperti Thailand bahkan China. Saat ini, rumah makan kedua negara itu sudah banyak dan menjamur di berbagai belahan dunia. 

Pembaca kompasiana dapat melihat Chinatown di mana-mana, bahkan di Indonesia seperti di glodok dan pasar senen. Sedangkan kuliner Thailand memiliki daya tarik sendiri yaitu rasa yang khas dengan rempah-rempahnya. Boleh disimpulkan, baik China dan Thailand sukses menjadikan industri kuliner sebagai bentuk diplomasi baru.

www.aseantourism.travel
www.aseantourism.travel
Berkaca dari keberhasilan industri kuliner negara tetangga, inilah beberapa tantangan yang perlu dihadapi Indonesia dalam meningkatkan dan menjadi industri kuliner sebagai diplomasi baru Indonesia:

1. Belum memiliki makanan nasional

www.shutterstock.com
www.shutterstock.com
Ini menjadi persoalan pertama bagi industri kuliner di Indonesia. Indonesia belum memiliki makanan khas karena begitu beragamnya makanan yang dimiliki sehingga tidak difokuskan pada satu kuliner. Sedangkan negara tetangga seperti Thailand memiliki Tom Yum sebagai ikon makanan Thailand. Meski menjadi persoalan, namun pertemuan antara Bekraf, Kemenlu, Kemenpar dan Kemendag telah menghasilkan keputusan bahwa Soto sebagai makanan khas Indonesia.


2. Tidak memiliki destinasi kuliner

www.shutterstock.com
www.shutterstock.com
Persoala kedua ini juga masih berkaitan dengan persoalan pertama, dimana banyaknya rumah makan Indonesia di berbagai negara tapi tidak menyediakan kuliner khas Indonesia karena beragamnya makanan di Indonesia. Dalam pertemuan ini akhirnya Kemenpar menetapkan tiga destinasi wisata kuliner dengan adanya sertifikasi yaitu di Bali, Bandung dan Joglosemar (Jogja-Solo-Semarang). 

Menurut Ketua Tim Percepatan Wisata Kuliner dan Belanja Kementerian Pariwisata, Vita Datau, pemilihan ketiga destinasi wisata kuliner ini tak hanya karena digemari masyarkarat maupun wisatawan, namun dari penilaian tim pada tahun 2015, produk, pelaku, dan pemda atau 3P dari ketiga daerah itu mencapai standar nilai yang ditetapkan. 

Tidak hanya itu, produk yang disajikan harus unik,otentik dan populer dikalangan wisatawan, tempatnya seperti apa, kebersihannya dan yang paling penting adalah komitmen pemda memajukan industi kuliner di daerahnya.


3. Tidak memiliki restoran yang disponsori pemerintah

dokpri
dokpri
Meski restoran Indonesia di luar negeri sudah banyak, namun tidak ada satupun dari mereka yang disponsori atau didukung pemerintah. Dalam hal ini restoran Indonesia masih berdiri secara independen dan tidak banyak yang populer di kancah internasional.

Oleh karena itu, 'wonderful Indonesia' dari Kemenpar akan merangkul 10 restoran Indonesia seperti di Belanda dan Australia untuk menjadikan diplomasi kuliner Indonesia lebih dikenal masyarakat internasional. Jika respon masyarakat internasional menyukai masakan Indonesia, diharapkan juga berdampak bagi pariwisata di Indonesia

Harus diakui, posisi tawar Indonesia di dunia internasional dalam hal politik dan ekonomi masih sangat lemah sehingga kita sering mengikuti alur negara-negara barat. 

Sudah saatnya Indonesia menemukan kekuatannya sendiri dalam berdiplomasi dan industri kuliner adalah alat yang sempurna untuk mewujudkannnya. Meski berpotensi sebagai alat diplomasi baru Indonesia di kancah internasional, berbagai pihak harus serius dan berkomitmen untuk mendukung dalam mewujudkannya. 

Pemerintah dapat mendukung dalam memberikan fasilitas maupun pendanaan serta membantu promosi dari G to G atau dari negara ke negara lain. Sedangkan bagi pelaku industri kuliner indonesia diharapkan semakin kreatif agar industri kuliner Indonesia terus berkembang.