Okky Dinova
Okky Dinova masih nganggur XD

Resensi Film / Serial TV / Video Game dan berbagai tulisan "iseng" lainnya XD visit my blog here (karena terkadang saya memotong beberapa konten dengan alasan spoiler / tidak pantas) http://okkydinova.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Resensi Film Koki-koki Cilik, Lapar "Yes" Sisanya "Ya Gitu Deh"

10 Juli 2018   22:57 Diperbarui: 10 Juli 2018   23:10 441 3 0
Resensi Film Koki-koki Cilik, Lapar "Yes" Sisanya "Ya Gitu Deh"
sumber : firar

Prolog

"Gua mau Sineas Indonesia bikin film untuk anak-anak!!!"

"Generasi sekarang "amburadul" karena tidak ada film yang menjadi panutan!!!"

"mending main "tok-tok" daripada nonton film buatan indonesia (lho!!!)

 Beberapa kalimat di atas (mungkin) sudah menjadi asupan harian bagi anda yang berada di dunia maya, tapi kalimat di atas memiliki satu persamaan yaitu "Indonesia butuh film untuk anak-anak" karena meskipun dunia perfilman indonesia mulai bangkit tetapi masih didominasi oleh genre horor, komedi dan romance. Film untuk anak-anak masih terbilang sangat jarang untuk jaman Now yang konon generasinya merasa sudah sangat dewasa.

 Selain "Koki-Koki cilik" ternyata masih ada film anak-anak pada bulan ini yaitu "kulari ke Mall" (judul sengaja saya samarkan biar anda bingung) yang kurang menarik perhatian saya karena berpikir jika film tersebut hanya akan sekedar "promosi tempat wisata" saja.

Saya memilih "Koki-Koki cilik" karena memiliki tema yang tergolong sangat jarang jarang di dunia perfilman Indonesia yaitu tentang masakan/kuliner (bahkan bisa dibilang film ini adalah pelopor untuk tema masakan). Menggabungkan dunia anak-anak dengan dunia kuliner seharusnya bisa menjadi senjata kuat film ini untuk mencuri banyak perhatian.

Tapi bagi saya pribadi, TUJUAN utama film tentang masakan adalah untuk membuat penonton LAPAR (standar saya memang aneh), bukan menghibur penonton dengan kualitas akting dan cerita yang ditampilkan. Karena alasan inilah sampai sekarang saya tidak bisa mengapresiasi penuh film "Chef" (2014) yang memiliki tema + jalan cerita yang seru karena selalu lapar dan "ngidam" cuban sandwiches setiap kali saya menonton film tersebut.

(aduh jadi laper...)

 Bisakah "Koki-Koki cilik" membuat saya kelaparan ???

Story

Bima adalah seorang anak yang berkeinginan mengikuti "Cooking Camp", sebuah acara kemping memasak yang sangat bergengsi dan mahal. Dengan melakukan berbagai hal akhirnya Bima mampu mengikuti "Cooking Camp" dan akhirnya berkesempatan mempelajari dunia kuliner sekaligus mengikuti kontes memasak tahunan di "Cooking Camp", berhasilkah Bima menghadapi semua hal tersebut ???

Karena film ini untuk anak-anak jadi berbagai karakter yang ada di film ini terlihat sangat stereotype (ada tukang bully, sok "Shantique", lebay, bersikap dingin, perfeksionis, dll), tapi kebanyakan dari karakter anak-anak hanya berfungsi dari segi komedi saja sih -_-. Cukup disayangkan beberapa pemeran dewasa kurang bisa tampil maksimal para beberapa adegan (mungkin karena film ini ditujukan untuk anak-anak).

Untuk kuliner/masakan saya acungi satu jempol karena mampu tampil menarik dan natural (baca : tidak ada elemen hiperbola) meskipun proses pembuatannya terkesan instant (baca : tidak ada penjelasan teknik memasak,bahan yang digunakan, dll), padahal hal-hal tersebut saya nilai cukup penting karena bisa "mengajak" penonton untuk membuat masakan yang serupa. Kritik terakhir dari segi masakan adalah MINIMNYA masakan yang berasal dari Indonesia karena didominasi oleh masakan dari luar negeri.

Tapi bakal terkesan aneh juga kalau "rendang" muncul dalam film seperti ini sih

Menjelang pertengahan film saya mulai sedikit bingung dengan esensi "Cooking Camp" yang ada pada film ini, apakah "Cooking Camp" sebuah acara belajar memasak KHUSUS untuk anak-anak atau sebuah kontes memasak yang hanya bisa diikuti individu tertentu ???, karena percaya atau tidak biaya masuk untuk "Cooking Camp"adalah 12,5 juta Rupiah untuk 1 anak!!!

Alhasil film ini berhasil membuat saya lapar sekaligus bengong.

Characters

Bima (Farras Fatik)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3