Mohon tunggu...
XAVIER QUENTIN PRANATA
XAVIER QUENTIN PRANATA Mohon Tunggu... Pelukis kehidupan di kanvas jiwa

Penulis, Surabaya

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Capres dan Tim Sukses Perlu Belajar dari Anak-anak

10 September 2018   10:22 Diperbarui: 10 September 2018   12:37 0 0 0 Mohon Tunggu...
Capres dan Tim Sukses Perlu Belajar dari Anak-anak
pexels-photo-225017-5b960317c112fe3cf53826e5.jpeg

Saat menyaksikan video kiriman temang tentang pandangan ortu terhadap anak dan pandangan anak terhadap ortu, saya terhenyak. Beberapa orang ibu ditanya tentang anak-anaknya. Mereka menyatakan bahwa anak-anaknya 'nakal', 'ngrepotin', 'sudah diatur' dan sebagainya. Ketika diminta memberi nilai, sebagian besar memberi 'rapor' sedang sampai jelek. Tidak satu pun yang memberi rapor baik.

Sebaliknya, saat anak-anak itu di-shooting secara candid, mereka rata-rata memuji ortunya. Kata-kata seperti 'mamaku baik', 'mamaku hebat' sampai 'I love you mom!' keluar dari mulut anak-anak yang masih polos itu. Ketika diminta untuk memberi 'rapor' mamanya, mereka semua memberi nilai baik bagi mamanya. Bagi bocah-bocah yang masih lugu ini, mama mereka 'is the best'.

Ketika candid video itu ditunjukkan kepada mama mereka, banjir airmata terjadi. Air tuba yang mereka berikan kepada anak-anak ternyata justru dibalas dengan air susu yang melimpah. Bukankah suatu ironi? Seharusnya mamalah yang memberi susu kepada anak-anaknya. Kini justru anak-anaknyalah yang memberi susu kepada mamanya. Bukankah pujian merupakan susu alami untuk pertumbuhan?

Apa saja kelebihan anak dibandingkan orang dewasa? Bagaimana capres dan tim sukses bisa belajar dari mereka?

1. Polos

Seorang anak mendekati ibunya yang sedang memasak di dapur dan bertanya, "Ma, mengapa rambut Mama mulai ada yang putih?"

"Setiap kali kamu berbuat nakal, sehelai rambut mama berubah menjadi putih," ujar ibunya sambil menyembunyikan senyum penuh arti.

Senyuman itu langsung menghilang saat anaknya bertanya lagi, "Kalau begitu mengapa rambut Nenek jadi putih semua?"

Bagi tim sukses, ketimbang terus menerus menyerang tim lawan, bukankah jauh lebih elok jika masing-masing melakukan introspeksi? Cara-cara seperti black campaign, hoax dan hate speech seharusnya disudahi.

2. Pengampun

Pernah melihat anak berkelahi? Apa yang terjadi setelah itu? Seringkali kedua ortu anak itulah yang berkelahi karena merasa anaknyalah yang paling benar. Saya mendengar kisah seorang sahabat yang menceritakan kegagalannya menjadi ortu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x