Teguh Hariawan
Teguh Hariawan Guru

Guru Fisika Pecinta Sejarah. Blusuker dan menulis yang di Blusuki "Menyurat yang Silam, Menggurat yang Menjelang " : (Nancy K Florida)

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

"Membaca" Prasasti dengan Air dan Tepung

7 September 2018   10:00 Diperbarui: 7 September 2018   21:07 1462 9 4
"Membaca" Prasasti dengan Air dan Tepung
Foto: dokumentasi Pribadi

Informasi di facebook tentang adanya Prasasti di Gunung Bendil menarik perhatian beberapa orang anggota komunitas sejarah. Salah satunya, Sudi Hardjanto, ketua Komunitas Tapak Jejak Kerajaan yang homebase-nya di Sidoarjo. 

Sore itu, sekira pukul 15.00, beliau menghubungi saya. "Saya mau ke Prasasti Watu Tulis. Kalau ada waktu, ayo blusukan ke sana sekitar pukul 16.00. Bareng-bareng ya," ajak Mbah Dokter, panggilan  akrab Sudi Hardjanto. Beliau sehari-hari memang seorang dokter umum yang praktik di Sidoarjo. 

Prasasti Watu Tulis, Bukit Bendil
Prasasti Watu Tulis, Bukit Bendil
Mumpung sore itu luang, saya hubungi beberapa rekan Komunitas Jelajah Sejarah Budaya Pasuruan. Sentot dan Pak Iman, serta Riky bisa terhubung. Segera, tanpa persiapan macam-macam kami berempat naik motor menuju lokasi. 

Senjata andalan saat blusukan  yang wajib dibawa adalah kamera plus sebotol air mineral. Lokasi prasasti, menurut   teman facebook  Asto Bowo, ada di Dusun Jeruk, Kelurahan Ledug. Sekitar 30 menit bermotor dari rumah. 

Gunung Penanggungan dari Bukit Bendil
Gunung Penanggungan dari Bukit Bendil
Foto: dokumentasi Pribadi
Foto: dokumentasi Pribadi
Foto: dokumentasi Pribadi
Foto: dokumentasi Pribadi
Foto: dokumentasi Pribadi
Foto: dokumentasi Pribadi
Mentari mulai jatuh. Sore itu, setelah kontak lewat handphone, ternyata Mbah Dokter sudah di lokasi. Segera kami berempat menyusulnya. Kami tiba di sebuah gang sempit di  ujung Timur Dusun Jeruk. 

Kami titipkan motor di salah satu rumah penduduk dan bergegas masuk gang, mengejar Mbah Dokter Sudi yang sudah menunggu di lokasi. Perjalanan hanya sekitar 10 menit jalan kaki dari tempat penitipan motor. 

Melewati kebun dan tegalan yang tanahnya kering.  Setelah melewati rimbun Bambu dan  Hutan Pinus, kami bersua Mbah Dokter yang sendirian di tengah hutan. Ditemani vespa kesayangannya yang sudah dipaksa lewat jalan-jalan sempit berbatu. 

Sikat Gigi, Air dan Tepung

Kami berlima segera melanjutkan perjalanan menuju  Gunung Bendil, dimana Prasasti Watu Tulis berada. Sebenarnya lokasi ini bukan gunung. Persisnya adalah sebuah bukit kecil di perbatasan kebun dan hutan milik Perhutani. Jalannya landai. 

Menyusuri Hutan Pinus yang asri. Sampai akhirnya kami tiba di bukit kecil. Di pelataran berumput itulah sebuah batu bertulis diletakkan. Karena ada batu bertulis, maka masyarakat menyebutnya Prasasti Watu Tulis. Di pinggir pelataran tumbuh semak dan sebuah pohon langka. Masyarakat menyebutnya  Pohon Kemlaka.                               

Mbah Sudi berjongkok di depan batu prasasti yang panjang dan lebar permukaannya masing tak lebih dari 50cm. Ditatapnya lamat-lamat permukaan batu yang penuh goresan-goresan aksara kuno. 

Goresan aksaranya tidak begitu jelas. Maka,  sesaat kemudian Mbah Sudi mengambil  gulungan plastik kresek dari dalam tas yang dibawanya. Saya perhatikan saja apa yang dilakukan pak dokter ini. Ternyata yang dikeluarkan adalah: sikat gigi dan satu plastik tepung kanji.  

Foto: dokumentasi Pribadi
Foto: dokumentasi Pribadi
Foto: dokumentasi Pribadi
Foto: dokumentasi Pribadi
Foto: dokumentasi Pribadi
Foto: dokumentasi Pribadi
"Saya minta airnya," kata Mbah Dokter. Sentot menyodorkan air mineral yang dibawanya. Segera Mbah Dokter memerciki permukaan batu prasasti dengan air. Tanpa komando, mereka berdua kemudian asyik menyikat jamur-jamur di permukaan prasasti. 

Setelah disikat berulang dan diguyur air, maka permukaan prasasti mulai bersih. Mulai tampak jelas huruf-hurufnya. Oooo, begini caranya memunculkan huruf-huruf di prasasti, pikir saya. 

Segera saya ambil HP. Saya foto permukaan prasasti dari beberapa sisi, agar aksara-aksara kuno itu makin jelas terbaca. Tanpa menunggu lama, segera saya kirim message ke Mbah Goenawan Sambodo. 

Pakar epigrafi dan baca tulis Aksara Jawa Kuno. Karena saya sendiri buta huruf Jawa Kuno, he he he he. Tidak pakai lama, beliau membalas. "Itu tahun 1128 Saka," saya baca pesan WA Mbah Goen. "Berarti sekitar Tahun 1206 Masehi. Sejaman dengan era Kediri" balas saya. Karena Tahun Saka harus ditambah 78 tahun agar jadi Tahun Masehi. "Kurang lebih begitu, " kata Mbah Goenawan. Prasasti mungil itu bertuliskan sebuah mantra, urai Mbah Goen. Saya sih percaya saja, lha wong memang gak bisa baca.

Foto: dokumentasi Pribadi
Foto: dokumentasi Pribadi
Mantra berangka Tahun 1128 saka atau 1206 Masehi
Mantra berangka Tahun 1128 saka atau 1206 Masehi
Sesaat kemudian, ternyata Mbah Dokter masih melanjutkan aksinya agar aksara-aksara kuno makin tampak jelas. "Ini jurus pamungkas," kata Mbah Dokter sambil membetulkan letak kacamatanya. Segera, ditaburi permukaan prasasti yang sudah kering dengan tepung kanji. Benar juga, aksara-aksara di permukaan batu itu makin kentara. 

Begitulah, sore itu Komunitas Tapak Jejak Kerajaan dan Komunitas Jelajah Sejarah Budaya Pasuruan, kembali blusukan. Sedikit berbuat untuk nguri-uri (merawat, memelihara dan melestarikan) warisan yang tercerai berai dari masa lalu. Sing penting tandang, ora golek kondang, (yang penting kerja, dilakukan. Tidak mencari pencitraan atau ingin terkenal). Konon begitu motto komunitas sejarah.... ayo Blusukan!

Foto: dokumentasi Pribadi
Foto: dokumentasi Pribadi