Mohon tunggu...
Abdul Adzim Irsad
Abdul Adzim Irsad Mohon Tunggu... Mengajar di Universitas Negeri Malang

Menulis itu menyenangkan.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Relefansi Kontektualitas Gagasan KH Hasyim Asaary

10 Agustus 2020   13:32 Diperbarui: 10 Agustus 2020   13:50 76 2 0 Mohon Tunggu...

 

Dalam catatan sejarah, Indonesia memiliki cara terbaik di dalam mengelola sebuah perbedaan, mulai beda keyakinan, suku, bahasa, etnis, hingga perbedaan organisasi dan parta politik. Itu semua tidak lepas dari peran para Ulama Nusantara yang memahami dan mengajarkan kepada umat tentang nilai-nilai islam yang wasati (moderat) yang bersumber dari teks Alquran dan Rasulullah SAW. Menariknya, para ulama Nusantara mampu menerangkan bagaimana membangun rasa cinta terhadap tanah air dan merawatnya dalam perbedaan.

Semua tahu Indonesia itu terdiri dari berbagai suku, budaya dan bahasa. Sehingga berbagai negeri heran "Bisa Hidup Bersama dalam Payung Pancasila". Karena Pancasila itu rumuskan dari teks-teks Alquran dan hadis Rasulullah SAW yang dikemas dengan apik nan asyik, sehingga semua orang bisa merasa aman dan nyaman dalam bingkai Pancasila. 

Negara Indonesia berdiri atas kesepakatan bersama antara semua pemeluk agama dengan beragam agama dan keyakinan. Indonesia adalah kita. Apa-pun agama yang disepakati di Indonesia bisa hidup berdampingan, tanpa harus saling mencurigai dan ketakutan. Kondisi ini membuat negara lain kadang iri dengan keberagamaan bangsa Indonesia.

Perbedaan sudah pasti ada terjadi, karena itu sunnatullah. Manusia tercipta itu karena berbeda. Indonesia sudah biasa berbeda, namun tetap dalam bingkai "Pancasila". Agama telah mengajarkan bagaimana bernegara dengan baik dan benar, dengan tidak menyakiti pemeluk agama lainnya. 

Keberagamaan Indonesia itu mencerminkan keterangan dari QS Alquran yang artinya "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".

Ke Bhinnekaan itulah yang meng-ilhami para ulama Nusantara membangun negara "Indonesia". Padahal, saat itu umat Islam dunia, seperti Jamaluddin Al-Afgani (Hizb al-Wathani (partai Kebangsaan), Muhammad Abduh kecendrungan terhadap Ibn Taimiyah, Syekh Abdul Wahab (Wahabi), Syekh Hasan Al-Banna (Ihwanul Muslimin), Syekh Taqiyuddin Al-Bani (Hizbu Tahrir), Abu A'la Al-Maududi Pakistan (Jamaah Al-Islami), berusaha membangkitkan semangat umat islam dengan mendirikan organisasi politik, menulis karya ilmiah untuk melawan keterpurukan.

KH Muhammad Hasyim Mendirikan NU

Ketika di Makkah beliau terkenal sebagai sosok penghafal Alquran. Guru dan teman-temanya memuji kecerdasan KH Muhammad Hasyim Asaary. Ketika kembali ke Indonesia, KH Hasyim Asaary berusaha menjaga akidah umat islam, juga berusaha mengusir penjajah Belanda. KH Hasyim Asaary mendirikan NU, bukan atas dasar ADT dan ART, tetapi atas dasar isarat langit. Puluhan para ulama dan habaib dililabatkan, mulai dari segi Lambang, nama, hingga tantangan di masa mendatang. NU berdiri juga merespon kondisi politik yang terjadi saat itu. 

Apalagi KH Muhammad Hasyim Asaary yang bersumpah di depan pintu Multazam Baitullah tepatnya pada Bulan Ramadhan. Beliau ingin berjuang hingga titik darah penghabisan hanya ingin merdeka. Kemudian mendirikan Jamiyah Nahdatul Ulama Bersama para santri-santri lulusan Halaqoh Masjidil Haram dan Madrasah Al-Soulatiyah. 

Terbukti, KH Muhammad Hasyim Asaary dengan kedalam pemahaman Alquran dan hadis Rasulullah SAW. Berguru kepada ulama-ulama fiqih terkemuka dengan berbagai mazhab fikih, beliau tetap tidak berusaha pola berfikirnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN