Mohon tunggu...
Abdul Adzim Irsad
Abdul Adzim Irsad Mohon Tunggu... Mengajar di Universitas Negeri Malang

Menulis itu menyenangkan.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Prabowo Presiden Tanpa Istana dan Permaisuri

20 April 2019   11:36 Diperbarui: 20 April 2019   12:02 0 0 0 Mohon Tunggu...

Setiap mahasiswa yang lulus kuliah, dan belajar metode penelitian ilmiah, sudah pasti paham apa itu metode sampling untuk pengujian suatu hipotesis dan penarikan kesimpulan. Oleh karena itulah, dunia academic mengakui Quic Count sebagai informasi awal hasil dalam sebuah Pilpres, Pulgub. Hitung Cepat (Quick Count) itu merupakan kerja profesional dan ilmiah dan bisa di bertanggung jawab kan.

Namun, sabar dan bijaksana merupakan sifat terpuji di dalam menyikapi hasil Quick Qount. Jangan sampai menyikapi hasil hitungan cepat dengan Grusah Grusuh (sembrono), karena ini merupakan sifat setan (Al-Ujlatu min Al-Syaiton) (HT Al-Tirmidzi). Kecuali sudah ada konfirmasi hasil akhir Hitung Manual yang akan di umumkan oleh KPU. Siapa yang memenangkan pertandingan lima tahunan ini.

Mau Tertawa Takut Dosa
Usai Pilpres 17 April, 2019 para pendukung Prabowo Subianto ramai-ramai mengatakan pada dunia "kami tidak percaya hasil quick count". Mereka tidak mau mengakui hasil hitungan cepat yang memenangkan pasangan Jokowi dan KH Ma'ruf Amin. Prabowo dan pendukungnya memiliki hitungan cepat internal yang memenangkan dirinya. Wal hasil, mereka mengatakan kepada dunia bahwa dirinya telah memenangkan Pilpres berdasarkan quick count internal.

Teringat kisah HTI yang sekarang sudah tiada lagi. Mereka berkata "demokrasi itu adalah haram karena bukan bersumber dari islam". Menariknya HTI itu paling demen demonstrasi. Padahal, demonstrasi itu merupakan bagian dari demokrasi". Persis dengan melarang merayakan hari valentine, namun di sisi lain, mereka jualan bunga untuk merayakan hari valentine. Begitulah warna warna demokrasi dunia maya ini.

Tertawalah, sesungguhnya dengan tertawa itu menjadi sehat. Namun, jangan sampai tertawa sendiri, sehingga membuat diri sendiri lupa akan dirinya. Orang tidak akan bisa menilai dirinya sendiri, justru orang lain yang bisa menilai kewarasan seseorang dalam berfikir.

Usai sholat Jumat pendukung Prabowo merayakan kemenangan. Mereka bertakbir, seperti takbir nya merayakan hari raya. Mereka tertawa riang gembira, ter hanyut dalam suasana kemenangan semu. Mereka yakin dengan hasil hitungan cepat, namun tidak menerima hitungan cepat yang dirilis oleh berbagai hitungan cepat KPU. Partai koalisi satu persatu mulai meninggalkan Prabowo. Satu-satunya orang yang mengakui kemenangan Prabowo adalah Habib Riziq Sihab. Inilah yang membuat orang menahan tawa. Dunia mau tertawa, tetapi takut dosa.

Presiden Tanpa Tanpa Istana
Bingung, galau dan sedih, begitulah saat melihat Prabowo mendeklarasikan diri atas klaim kemenangan dirinya. Dirinya ngaku suaranya lebih dari 62 %. Ini sangat keren. Ketika mendeklarasikan, Prabowo tanpa di Sandi. Namun, sesepuh nya selalu mendampinginya, dialah "Amin Rais" yang dulu pernah mengatakan " Tankap Prabowo dan adili", itu pada tahun 2009.

Prabowo klaim menang, namun tanpa tanpa di dampingi orang ter cintanya. Mestinya, istri yang sudah menanti ingin rujuk, pasti kembali begitu yakin dirinya menang. Begitu juga dengan anak semata wayang nya, pasti pulang dari Italia begitu mendengar ayahnya menang dan menjadi presiden lagi. Keluarga cendana, sudah pasti memberikan ucapan selamat. Namun, Prabowo tanpa mereka. Justru Fadli Zoon dan Amin Rais yang mendampinginya.

Dan yang lebih menyedihkan lagi deklarasi kemenangan, hanya di akui oleh orang sekitarnya. Dunia tidak mengakuinya, bahkan sebagian besar menjadikan lelucon dan bahan ketawaan, bahkan sudah ada video yang main presiden Kepresidenan.

Begitu menyedihkan kondisi Prabowo sekarang, merasa dirinya menang dan menjadi presiden, tanpa pengakuan dunia dan juga tanpa istana, bahkan tanpa istri dan keluarga. Tidak ada yang lebih menyedihkan, melebih kesedihan Prabowo. Semakin menyedihkan lagi, ketika Prabowo 3 Kali Klaim Menang Pilpres 2019. 

 Semoga Indonesia tetap damai, sebagaimana pada Ulama NU. Mereka pernah berbeda dalam pemilihan Capres, namun mereka lebih penting melihat Indonesia ke depan. Pilpres hanya bersifat lima tahunan, sementara NKRI harus dijaga bersama-sama. Biarkan Amin Aris bercanda politik dengan SBY, dengan menyindir pedas "Jadi safety player", keduanya sebentar lagi akan masuk babak baru panggung politik yang sengit. Sementara anak bangsa yang lain tetap melihat masa depan berkemajuan,