Abdul Adzim Irsad
Abdul Adzim Irsad mahasiswa

Menulis itu menyenangkan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Ketika Santri Menakukkan Pujaan Hati dengan Surah Al-Fatikhah

18 Oktober 2018   16:23 Diperbarui: 18 Oktober 2018   16:28 177 0 0

Allah SWT berfirman "Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaul husna  (QS. A'raf, 180). Ayat ini secara khusus menyebut Asmaul Khusna, padahal semua ayat-ayat Allah SWT jika dibaca dengan istikomah akan melahirkan miracle yang sangat dahsyat.

 Air yang sangat jernih, jika dibacakan ayat-ayat Allah SWT, akan menyimpan pesan-pesan yang terkandung dalam ayat tersebut. Bisa menjadi obat dari berbagai penyakit, kadang juga bisa menjadi mahabbah (pengikat cinta), sesuai dengan isi ayat tersebut.

Bagi para penghafal Al-Quran, lisan mereka sudah menyatu dengan ayat-ayat Al-Quran. secara tidak sengaja-pun, yang keluar dari lisannya adalah ayat-ayat Al-Quran. Mereka seolah-olah mengabdikan dirinya kepada Al-Quran. Mereka benar-benar merasakan lezatnya membaca Al-Quran.

Nah, sekarang kita bahas surat yang pertama dari Al-Quran, yaitu surat Al-Fatikah. Setiap muslim sudah pasti kenal dengan surat Al-fatihah, dan juga pernah membacanya. Satu-satunya surat yang paling banyak dibaca di alam semesta ini.

Jumlah surat Al-Fatihah itu tujuh ayat, mengisyaratkan jumlah tujuh langit dan bumi. Juga, ibadah thowaf (mengelilingi baitullah) tujuh putaran. Allah SWT juga menciptakan tujuh hari. Bahkan, Imam Al-Syafii mengharuskan membaca surat Al-Fatihah dalam sholat magrib, isak dan subuh harus menjaharkan (mengeraskan bacaan Basmallah), karena Basmallah itu bagian dari surat Al-Fatihah.

Ayat pertama dalam surat Al-fatihah adalah " Bismillahirahmani Al-Rahim" yang artinya "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Allah SWT mengenalkan dirinya kepada hamba-hamba-Nya, bahwa dirinya adalah dzat yang maha pengasih dan penyayang.  Rosulullah-pun berkata "Setiap urusan kehidupan yang tidak diawali dengan ucapan bimillahirrahmanirrahim maka dia akan terputus (HR Abdu Dawud).

Ayat pertama ini juga mengajak semua umat islam harus memiliki sifat welas asih kepada sesama, tidak perduli agama dan keyakinan. Allah SWT memberi rejeki kepada siapa-pun, dari hamba-Nya, walaupun hamba-Nya ingkar kepadanya. Juga, memberikan ujian kepada setiap hamba-Nya, tidak perduli agama dan keyakinannya. Namun, Allah SWT akan selalu membalas kebaikan setiap hamba-Nya, yang ber-iman kepada-Nya, walaupun didunia hidup dalam kondisi sengsara dan kekurangan.

Santri Nusantara dan Al-Fatikhah

Begitulah yang diajarkan para Ulama Nusantara di pondok pesantren hingga sekarang, selalu membaca surat Al-Fatikah. Jadi, setiap santri yang pernah mondok, biasanya memiliki rasa toleran yang tinggi kepada sesama, bahkan kepada alam sekitarnya. Karena terinspirasi dari ayat pertama (Bismillahi Rahman Al-Rahim) dari surat Al-Fatihah.

Bagi santri Nusantara, surat Al-Fatihah itu bukan dibaca pada setiap sholat lima waktu, tetapi dibaca pada setiap saat dan waktu. Setiap usai sholat lima waktu, misalnya santri-santri itu ngirimi surat Alfatihah kepada nenek moyangnya yang sudah wafat mendahuluinya. Mereka haqqul yakin bahwa bacaan surat Al-fatihah itu akan sampai pada arwah dan akan memberikan kenikmatan kubur kepada arwah-arwah yang wafat dalam kondisi iman dan islam.

Bagi orangtua yang pernah nyanti, ketika memiliki putra-putri, mereka selalu membacakan surat Al-Fatikhah kepada mereka yang sedang belajar. Dengan harapan, Allah SWT membukan kesulitan-kesulitan belajar yang dihadapinya. Bukan satu kali membaca surat Al-Fatikhah, tetapi ratusan kali, bahkan ada yang ribuan kali.

Seorang psikiater Malang istri dari dokter Subandi dalam diskusi kecil, pernah mengemukakan "saya itu kalau ingat kepada anak, selalu saya bacakan surat Al-Fatihah, agar supaya Allah SWT senantiasa melindunginya". Sebagai orangtua, dia tidak bisa mendampingi kemana putra-putranya pergi sepanjang hari. Biarkan Al-Fatihah yang saya bacakan, senantiasa menjadi pendamping, sehingga Allah SWT memberikan perlindungan.

Nah, salah satu dari rahasia sukses para santri Nusantara, mereka tidak hanya mengirim bacaan Al-Fatihah kepada putra-putrinya, tetapi juga kepada guru-gurunya yang telah mengajari nya ilmu agama. Sebagi bentuk rasa terima kasih. Itu juga pernah disampaikan Syekh Abdul Fattah Rowah Makkah kepada saya. Dengan penuh keyakinan, bahwa surat Al-Fatihah itu benar-benar memberikan perubahan yang sangat dahsyat bagi mereka.

Surat Al-Fatihah, sesuai dengan artinya "menjadi pembuka kesulitan-kesulitan" yang dihadapi. Dengan catatan, ihlas dan benar-benar tawajjuh (focus) meminta kepada Allah SWT. 

Sebuah kisah menarik seorang Santri Nusantara yang ngaji di pesantren salaf. Dia sedang jatuh cinta kepada lawan jenisnya. Tetapi, mereka tidak mungkin berpacaran, disamping dilarang, merasa malu, juga tidak percaya diri. Namun, seorang santri cita-citanya memiliki istri yang amat cantik, walaupun dirinya tidak ganteng sama sekali.

Sebagai seorang pria sejati, Santri itu tetap tidak bisa menyembunyikan rasa cintanya. Terjadilah sebuah persaingan ketat antara Santri. Sampai suatu ketika, santri-santri yang terlibat dalam asmara itu, setiap tengah malam bangun dan membacakan surat Al-Fatikah kepada wanita pujaan hatinya. Siapa yang kuat, maka dialah yang akan memenangkan pertarungan perebutan cinta, melalui kekuatan dan rahasia surat Al-Fatikah.

Seorang santri memiliki sebuah semboyan tersendiri. Buruk rupa, harus kuat berdoa kepada Allah SWT. Tidak banyak duit, namun kuat membaca wirid. Dan merasa bukan anak seorang pejabat pasti kuat tirakat. Seorang santri sejati, sudah pasti kuat berdoa, kuat membaca wirid, dan kuat tirakat (puasa). Jangan pernah ngaku menjadi santri, jika tidak pernah membaca wirid yang disertai dengan tirakat hingga berhari-hari.

Saya sendiri mempunyai seorang guru yang bernama KH Abu Fadlin Al-Marhum Jember. Beliau pernah memberikan amalan khusus agar supaya saya membaca surat Al-Fatikhah sebanyak 2000 kali ketika memiliki hajat yang sangat penting. Itulah salah satu amalan para ulama Nusantara yang diajarkan pada santri-santri. Masih banyak kisah Santri yang menaklukkan kesulitan dengan banyak wirid, bukan dengan duit. 

Saya-pun sempat berseloroh, capres 2019, yang akan memenangkan adalah mereka yang kuat membaca wirid dan tirakat. Tentu saja, atas kuasa Allah SWT yang maha segalanya.