Mohon tunggu...
Syarifah Lestari
Syarifah Lestari Mohon Tunggu... Freelancer - www.iluvtari.com

iluvtari.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Taaruf Online, Ada Nggak Sih?

1 November 2020   17:52 Diperbarui: 1 November 2020   18:02 440
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto oleh Markus Winkler di Unsplash.com

Sebentar, kutegaskan dulu ya. Bahwa memilih taaruf daripada pacaran adalah upaya untuk menaati aturan Islam. Tapi yang dulunya pacaran kemudian sekarang telah menikah dengan pacarnya, bukan berarti lebih buruk dari yang proses nikahnya lewat taaruf.

"Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya." (HR Bukhari, no. 6607).

Maksudnya, ada orang yang biasa berbuat baik, tapi di ujung usia justru berbuat sebaliknya. Atau orang yang dulu sering maksiat, ternyata belakangan ia bertobat.

Hadits di atas bukan nyuruh santai, Bos. Masih ada besok untuk tobat, bukan itu. Tapi supaya kita tidak gampang memvonis orang. Yang dulu kacau bisa jadi besok baik. Yang sekarang baik belum tentu konsisten sampai ajal datang.

Balik lagi ke taaruf, gimana proses yang tepat? Sederhana sekali. Kamu cukup cari orang yang kamu percaya agamanya, minta tolong dia menjadi perantara jika sudah ada orang yang kamu target jadi calon pasangan.

Kalau belum ada, bisa minta bantu carikan pada yang kamu percaya itu. Beri daftar kriteria, berapa tingginya, warna kulit, penghasilan, dll. Isi kriteria yang diinginkan, dan tulis juga datamu sendiri. Biar adil.

Jadi kalau kamu pilih yang kulit putih, tuliskan juga kondisi kulitmu, warnanya apa. Ingin yang kaya, tulis berapa penghasilanmu. Biar ketauan, kamu cari yang selevel atau mau numpang makan. Ih jahatnya penulis artikel ini!

Kok kayak beli kucing dalam karung?

Nggak bakal berpikir begitu kalau percaya pada Allah. Sebab Allah gak mungkin zalim memberimu pasangan yang laknat banget kalau kamu bukan orang yang serupa. Kecuali untuk ujian, dan itu dipastikan kamu mampu.

Setelah bertukar data, dan kalian saling menerima. Selanjutnya kamu bisa salat untuk menguatkan hati, dan minta saran pada orang yang juga dipercaya agamanya. Jangan lupa, ngobrol sama orang tua!

Kamu yang paling tau bagaimana pemahaman orangtuamu. Jadi kamulah yang memutuskan, ke orangtua dulu atau ke ustaz/ustazah dulu. Yang jelas keduanya jangan sampai dilewatkan kalau kamu memang berniat taaruf.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun