Mohon tunggu...
Stevan Manihuruk
Stevan Manihuruk Mohon Tunggu... Penulis - ASN

Buruh negara yang suka ngomongin politik (dan) uang

Selanjutnya

Tutup

Cerita Pemilih Artikel Utama

Kegentingan Memaksa, Alasan Menunda Pilkada

21 September 2020   00:10 Diperbarui: 21 September 2020   07:49 1734
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Terus bertambahnya kasus positif Covid-19 membuat sejumlah tokoh mengusulkan agar pemerintah menunda pelaksanaan pilkada.| Ilustrasi: Kompas/Priyombodo

Dengan simulasi yang sederhana, diduga ada 34 juta orang yang berpotensi terpapar Covid-19 bila Pilkada tetap dilaksanakan Desember nanti. Sekadar informasi, ada sebanyak 270 daerah yang direncanakan melaksanakan Pilkada dengan rincian 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota.

Saya tak sanggup membayangkan kengerian yang bakal ditimbulkan bila simulasi Mujani itu nyata terjadi. Di mana pasien-pasien akan dirawat? Siapa yang akan merawat? Ke mana lagi pasien yang meninggal harus dimakamkan?

Sehingga sangat masuk akal bila desakan menunda pelaksanaan pilkada akan kian gencar disuarakan kelompok masyarakat maupun tokoh nasional. Menuntut sampai pemerintah benar-benar membuka mata, telinga dan hatinya agar bangsa ini benar-benar terhindar dari potensi bencana yang mengerikan.

Menunda pilkada di tengah kondisi sekarang jelas bukanlah sebuah indikasi kegagalan. Tiada gunanya memaksakan pelaksanaan pilkada sesuai jadwal, kalau itu akhirnya bisa menjadi sumber petaka bagi keselamatan warga. 

Bukankah mengupayakan keselamatan dan kesehatan warga harus selalu menjadi prioritas yang terutama bagi pemerintah?

Tidak perlu mencari-cari alasan bahwa pilkada tetap bisa dilaksanakan dengan tetap mematuhi aturan protokol kesehatan secara ketat. Mari jujur mengakui, hari-hari ini saja, seberapa mampu pemerintah kita (pusat dan daerah) untuk memastikan itu benar-benar terlaksana?

Seberapa disiplin pula warga kita untuk secara sadar dan sukarela untuk mematuhinya? Silakan cek sendiri sekeliling kita. Tingginya data harian jumlah warga kita yang positif virus Covid-19, bukankah sudah bisa menjadi gambaran?

Salah satu kolom harian Kompas (16/9) memuat tulisan Dr. Handrawan Nadesul yang berjudul "Cegah Kluster Pilkada". Handrawan menuliskan, penularan Covid-19 bukan semata lewat percikan liur. Ada temuan butiran microdroplets Covid-19 yang melayang-layang, menjangkau lebih jauh dari jarak percikan dua meteran.

Hasil penelitian menunjukkan, di udara tempat publik berkerumun, satu saja hadir pembawa Covid-19 tanpa masker, virus akan mencemari udara karena faktanya sebaran Covid-19 bisa menjangkau lebih dari 10 meter. Orang tanpa masker dalam radius sebaran pasti tertular. Makin padat kerumunan orang, makin tinggi jumlah virus yang beredar.

Sudah jelas bukan? Memakai masker dan rajin mencuci tangan ternyata tidak cukup membuat kita terhindar dari potensi tertular virus. Ketika berada di tengah kerumunan, kita tak pernah tahu siapa-siapa saja yang sudah berstatus sebagai pembawa virus. 

Bukankah kita juga mengenal istilah orang tanpa gejala (OTG), yaitu mereka yang sebenarnya sudah terinfeksi virus tapi tidak ada gejala-gejala yang umum dialami penderita yang lain?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerita Pemilih Selengkapnya
Lihat Cerita Pemilih Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun