Bung Stev
Bung Stev Pembelajar

Buruh negara. Sedang berusaha menjadi (pembaca dan penulis) yang baik. Email: stevanmanihuruk@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Anthony Sinisuka "Si Pembunuh Raksasa" Bulutangkis Tunggal Putra

21 September 2018   18:02 Diperbarui: 21 September 2018   18:26 716 4 1
Anthony Sinisuka "Si Pembunuh Raksasa" Bulutangkis Tunggal Putra
Anthony Sinisuka Ginting (Foto: Humas PBSI)

Melalui pertandingan yang seru dan dramatis di babak perempat final China Terbuka 2018, Anthony Sinisuka Ginting berhasil mengalahkan pebulutangkis tuan rumah, Chen Long. Ginting berhasil memenangi laga lewat pertarungan ketat tiga set, 18-21, 22-20, dan 21-16. 

Dengan kemenangan ini, Ginting berhasil mempertajam rekor kemenangannya atas Chen Long menjadi 5-2. Pertemuan terakhir sebelumnya, Ginting juga berhasil mengalahkan Chen Long pada pertandingan Asian Games 2018 dengan dua set langsung 21-19 dan 21-11. 

Usai mengalahkan Chen Long, Ginting akan berhadapan dengan wakil Taiwan, Chou Tien-Chen di babak semifinal. Pemain Taiwan ini yang menggagalkan terciptanya "all Indonesian final" bulutangkis tunggal putra Asian Games 2018. Di babak semifinal, Chou mengalahkan Ginting lewat pertarungan tiga set, 16-21, 23-21, dan 21-17. 

Dengan demikian, ini menjadi kesempatan emas bagi Ginting untuk segera membalaskan kekalahannya. Kebetulan, laga kali ini pun sudah menyentuh babak semifinal. 

Satu hal yang menarik dari penampilan Ginting di China Terbuka 2018 ini, ia sukses menjadi "pembunuh raksasa" pebulutangkis tunggal putra dunia. Selain Chen Long, Ginting juga sukses mengalahkan pemain-pemain top dunia yaitu Lin Dan (China) serta pemain peringkat satu dunia sekaligus unggulan pertama turnamen, Victor Axelsen (Denmark).  

Ginting menjadi satu-satunya harapan tunggal putra Indonesia di China Terbuka 2018 ini setelah Jonatan Christie dan Tommy Sugiarto gagal melangkah ke babak selanjutnya. Jonatan "Jojo" Christie dikalahkan Ng Ka Long Angus (Hongkong). Sementara Tommy Sugiarto menyerah atas pemain tuan rumah, Shi Yuqi.

Keberhasilan Ginting mencapai babak semifinal China Terbuka sekaligus memperbaiki catatan penampilan sebelumnya di Jepang Terbuka, pekan lalu. Saat itu, langkah Ginting terhenti di babak perempat final usai dikalahkan Victor Axelsen, 17-21 dan 15-21.

Bulan Agustus lalu di ajang Asian Games 2018, penampilan Ginting pun banyak menuai pujian meski ia hanya berhasil menyumbangkan medali perunggu buat Indonesia dari nomor tunggal putra setelah kalah di babak semifinal. Ginting sempat mengalahkan Chen Long dan pemain andalan Jepang, Kento Momota.

Perjuangan paling mengesankan bahkan dipertontonkan di nomor beregu putra. Ginting yang menjadi andalan di nomor tunggal putra berhasil membawa Indonesia melaju ke babak final menghadapi China.

Ginting langsung turun di pertandingan pertama menghadapi andalan China, Shi Yuqi. Di set pertama, Ginting menang dengan skor 21-14. Di set kedua, Ginting sempat memimpin sebelum akhirnya menyerah 21-23. Drama terjadi di set penentuan, pertandingan harus dihentikan pada skor 20-21 untuk keunggulan Shi Yuqi karena Ginting mengalami cedera.

Kondisi itu sempat membuat Indonesia cemas karena beberapa hari berikutnya Ginting dijadwalkan turun di nomor perseorangan. Indonesia bisa bernafas lega saat menyaksikan Ginting bisa hadir bersama rekan-rekannya di acara penyerahan medali nomor beregu putra.

Anthony Ginting, pemuda kelahiran Cimahi, 20 Oktober 1996 merupakan salah satu pemain andalan Indonesia di sektor tunggal putra. Di usianya yang relatif muda, penampilannya terbilang cukup mumpuni.

Kecerdasan, kesabaran dan ketenangannya di lapangan pertandingan sudah diakui pemain-pemain top dunia. Sudah banyak pemain unggulan yang berhasil dikalahkannya. Satu-satunya persoalan Ginting adalah penampilannya yang kerap kurang konsisten.

Namun, perjalanan karier Ginting masih cukup panjang. Ginting menjadi simbol dan harapan untuk mengharumkan nama Indonesia di tingkat dunia, melalui cabang olahraga bulutangkis tunggal putra.

Setelah berakhirnya era Taufik Hidayat, Indonesia sepertinya masih terus mencari "idola" baru di sektor tunggal putra. Beberapa nama sempat muncul, namun tidak konsistennya penampilan membuat mereka perlahan-lahan hilang dari ingatan publik.

Harapan itu kini ada di pundak pemain-pemain muda kita, salah satunya Anthony Sinisuka Ginting. Kita berharap Ginting bisa mewujudkannya yaitu dengan meraih gelar juara sebanyak-banyaknya.

Bayangan bisa menambah koleksi satu gelar juara sudah ada di depan mata, China Terbuka. Di babak semifinal, kita berdoa supaya Ginting bisa mengalahkan Chou Tien Chen, demikian selanjutnya di babak final, hingga Ginting berhasil meraih gelar juara. Mejuah-juah, Ginting.

***

Jambi, 21 September 2018