Bung Stev
Bung Stev Pembelajar

Buruh negara. Sedang berusaha menjadi (pembaca dan penulis) yang baik. Email: stevanmanihuruk@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola

Keturunan Tionghoa dan Sepak Bola Indonesia

13 Maret 2018   00:43 Diperbarui: 13 Maret 2018   01:33 7894 0 0
Keturunan Tionghoa dan Sepak Bola Indonesia
Ilustrasi (Foto: Metrotvnews.com)

Jika sekadar menyebutkan nama atlet Indonesia yang memiliki garis keturunan Tionghoa di cabang olahraga badminton mungkin banyak yang bisa.

Tapi coba sebutkan untuk cabang olahraga sepakbola. Bisa? Atau jangan-jangan kita langsung menjawab "tidak ada".

Berdasarkan catatan sejarah, peran warga Indonesia yang memiliki garis keturunan Tionghoa dalam perkembangan sepakbola kita ternyata tak bisa dipandang sebelah mata.

Di Padang, Medan, Makassar, Bandung, Semarang, dan Solo terutama Surabaya, asosiasi sepakbola keturunan Tionghoa memainkan peranan penting dalam kompetisi nasional di akhir periode kolonial.

HNVB, asosiasi sepakbola keturunan Tionghoa lewat berbagai cara telah berpartisipasi dalam pembentukan gagasan nasionalisme melalui PSSI tahun 1930 yang dilatari suasana pergerakan melawan Belanda.

Pada masa itu, pemain-pemain bintang dari klub-klub elite seperti Persib Bandung, Persis Solo, Persebaya, dan Persija berasal dari keturunan Tionghoa.

Tak hanya pada level klub, saat mengikuti Asian Games di New Delhi (1950) dan Manila (1954), hampir separuh pemain inti tim nasional kita adalah keturunan Tionghoa.     

Sampai pertengahan 1950-an, pemain timnas keturunan Tionghoa bahkan memakai nama aslinya. Beng Ing Hien, Tee San Liong, Bing Moheng, Taan Liong Houw dan Han Siong bermain dengan nama aslinya hingga menjelang penyisihan Piala Dunia Swedia 1958. Mereka nyaris tak tergantikan baik untuk klub profesional maupun untuk tim nasional.

Menariknya selama ada pemain-pemain keturunan Tionghoa beberapa prestasi membanggakan diraih. Lolos ke Olimpiade Melbourne 1956, semifinalis Asian Games 1956, peringkat ke-3 Asian Games 1958, dan hampir lolos ke Piala Dunia 1978 adalah beberapa contohnya.

Di Olimpiade Melbourne 1956, Tim Merah Putih bahkan pernah menahan imbang Uni Soviet 0-0.  Hasil fantastis karena kala itu Uni Soviet (sekarang Rusia) termasuk salah satu raksasa sepak bola dunia

Meskipun demikian, sempat terjadi satu peristiwa, sebelum melawan RRC (sekarang Tiongkok) tahun 1957, beberapa media nasional justru meragukan nasionalisme pemain keturunan Tionghoa tersebut. Itu benar-benar membuat mereka terpukul, meskipun akhirnya pertandingan tetap dimenangkan Indonesia dengan skor 2-0.

Nuansa diskriminasi kemudian kian meningkat di tanah air. Terjadi konflik etnis Dayak dan keturunan Tionghoa di Kalimantan Barat (1959) dan kerusuhan anti Tionghoa di Bandung (1963).

Bukan suatu kebetulan pula jika salah satu pemain keturunan Tionghoa terbaik kita yaitu Taan Liong Houw harus mengubah nama menjadi L.H, Tanoto setelah tahun 1958.

Periode 1960-1970-an menandai lenyapnya keterlibatan pemain-pemain keturunan Tionghoa dalam sepakbola nasional. Sebagian mantan pemain hebat itu membina klub dan sebagian memilih menyepi ke kota kelahirannya.

Dari fakta sejarah diatas, kita belajar bahwa sepakbola merupakan olahraga yang demokratis dan inklusif. Ia bisa menjadi alat pemersatu seluruh anak bangsa tanpa pernah mempersoalkan garis keturunan "pribumi" atau "non pribumi".

Di berbagai belahan dunia, sepakbola bahkan bisa menjadi alat politik menentang rasisme. Sementara di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir, kondisi sosial politik yang carut marut turut berkontribusi membuat persepakbolaan kita belum bisa beranjak ke arah yang lebih baik.       

Jambi, 13 Maret 2018