Mohon tunggu...
Didik Fitrianto
Didik Fitrianto Mohon Tunggu... Mencintai Laut, Lumpur dan Hujan

Terinspirasi dari kata-kata ini "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Pangeran Kunang-Kunang Berburu Petani Kata-kata (Kasus Plagiarisme Cerpen Agus Noor)

27 Juni 2020   09:53 Diperbarui: 27 Juni 2020   09:50 335 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pangeran Kunang-Kunang Berburu Petani Kata-kata (Kasus Plagiarisme Cerpen Agus Noor)
Twitter/agusnoor

Perempuan Perias Mayat selalu mengingat seloroh kawan-kawannya, "Ah kamu saja yang rumit." Begitu juga Lelaki Penggali Kubur, kawan-kawannya selalu berpetuah, "Ah jodoh itu kita yang memilih." Mengingat itu semua keduanya tersenyum, barangkali hanya kematian yang bisa mencintai mereka berdua.

Status pekerjaan mereka menghalangi untuk menikah, kata Perempuan Perias Mayat, anak-anak dari lelaki yang menyukainya takut dengan pekerjaannya sebagai perias mayat. Begitu juga dengan Lelaki Penggali Kubur, Ketika mulai serius membicarakan perkawinan kepada perempuan yang menyukainya, perempuan itu pun ketakutan karena ia seorang penggali kubur.

Perempuan Perias Mayat dan Lelaki Penggali Kubur sering kali putus asa, apa dosa kami? Di saat seperti itu Perempuan Perias Mayat terkenang dengan Pangeran Kunang-kunang, lelaki yang pertama kali menemukannya. Sedangkan Lelaki Penggali Kubur hanya bisa mengutuki masa lalunya, Petani Kata-kata yang pernah merawat mencampakkannya begitu saja.

Cerita di atas menarik, bukan? Cerita yang saya rangkai dari cerpen Agus Noor yang berjudul 'Kisah Cinta Perempuan Perias Mayat' yang pernah dimuat di Harian Kompas 29 Desember 2009, dengan cerpen karya Budi Setiawan yang berjudul 'Lelaki Penggali Kubur'. Cerpen ini telah dimuat di Detik.com, 6 Juni 2020, dan di Suara Merdeka, 7 Juni 2020.

Saya hanya ingin menunjukkan bahwa membuat cerita dari hasil karya orang lain itu sangat mudah, curi idenya, plotnya kita ubah dan ganti tokoh-tokohnya. Praktik culas seperti inilah yang dilakukan oleh Budi Setiawan, seorang yang mengaku penulis dan mengeklaim dirinya sebagai Petani Kata-Kata, kejahatan plagiarisme!

Menulis itu gampang, kata Bung Arswendo Atmowiloto, tapi tidak bagi Budi Setiawan; bagi dia, menulis itu berat apalagi menulis cerpen. Maka jalan pintas pun ia gunakan, menjiplak karya orang lain. Ia tidak butuh tema, menyusun plot, membangun karakter tokoh, dan tak peduli sudut pandang. Cukup mengganti jenis kelamin tokoh, diksi dan judul, jadi sudah.

Sayangnya praktik kotor seperti itu sering kali diberi tempat oleh beberapa media, entah kelalaian atau kebodohan para redakturnya sehingga cerpen hasil plagiat seperti Budi Setiawan ini bisa diterbitkan. Sikap media pun bisa kita tebak, tidak ada pernyataan atau klarifikasi secara resmi dari redaksi. Cukup permintaan maaf secara pribadi dari redakturnya.

Sikap media seperti itu sama pengecutnya dengan pelaku plagiat, Menurut Agus Noor, sikap media menjadi preseden buruk yang membuat plagiarisme dalam sastra kita seperti bisa ditoleransi hanya dengan mengatakan "penulisnya sudah minta maaf". Menggampangkan masalah, dan membuat seakan "tak punya masalah" dengan plagiarisme.

Plagiarisme yang dilakukan Budi Setiawan memang sangat menjijikkan. Kejahatannya dimulai sejak dari paragraf pertama, cerpennya yang diberi judul Lelaki Penggali Kubur, ia menulis: Empat dari lima perempuan yang jatuh cinta padanya seketika menjauh begitu tahu lelaki itu penggali kubur. Sepertinya pekerjaan dan cintanya selalu mempunyai kisah yang menakutkan.

Di cerpen aslinya, Kisah Cinta Perempuan Perias Mayat, Agus Noor menulis, Enam laki-laki yang menyatakan cinta seketika menjauhinya begitu tahu ia perias mayat. Sepertinya kematian dan cinta bukan jodoh yang baik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN