Mohon tunggu...
Yakobus Sila
Yakobus Sila Mohon Tunggu... Human Resources

Sarjana Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero dan Magister hukum di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Sekarang bekerja sebagai Praktisi di Perusahaan.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Fobia People Power

21 Mei 2019   09:30 Diperbarui: 21 Mei 2019   09:38 0 1 0 Mohon Tunggu...

Banyak sahabat yang menceritakan ketakutan sejumlah kelompok terhadap people power yang sedianya akan terjadi besok Rabu, 22 Mei 2019. Mereka merasa trauma dengan peristiwa 1998 yang membuat beberapa kelompok etnis di ibu kota menjadi sasaran amuk massa. 

Sejujurnya, people power kali ini tidak perlu ditakutkan. Tidak ada alasan untuk menyamakan peristiwa berdarah 1998 dengan rencana people power besok, karena dua kondisi tersebut sangat jauh berbeda. 

Kali ini gerakan people power hanya dilakukan segelintir orang yang tidak menerima hasil pemilihan presiden. Mereka mencurigai kecurangan kemudian berencana untuk menurunkan pemerintahan yang sah. Ada kejanggalan dan keanehan yang tidak masuk akal yang membuat roh perjuangan people power menjadi hambar tanpa makna.

Sementara itu people power tahun 1998 sungguh-sungguh didukung oleh seluruh rakyat Indonesia karena Soeharto sudah berkuasa selama 32 Tahun. Ada penindasan, tindakan represif, dan ketimpangan ekonomi yang sangat besar membuat rakyat tidak tahan terhadap penderitaan tersebut. Soeharto atas tuntutan rakyat mesti turun dari takhta secara paksa. 

Beda dengan kondisi saat ini, ketika Jokowi sangat dekat dan dicintai rakyat, lalu ada kelompok yang merasa tidak puas, dan mereka yang merasa terancam dengan kehadiran serta kepemimpina prorakyat ala Jokowi. Mereka lalu menciptakan isu-isu tidak sedap seolah-olah pemerintah saat ini gagal dan harus diganti dengan calon presiden andalan mereka. 

Karena itu, sebutan people power untuk aksi besok salah kaprah sebab seharus istilah yang dipakai adalah people stupid karena mereka adalah kumpulan orang kalah yang bodoh. Mereka tidak mampu berpikir kreatif untuk keluar dari kemelut tapi malah berpikir kerdil dan sempit untuk membunuh kreativitas diri dan kelompok mereka sendiri. Orang-orang kerdil itu sebelum dan sesudah pilpres adalah penyebar hoaks dan merasa seolah-olah dengan hoaks mereka bisa menang dalam pemilu. 

Memalukan dan membuat diri malu di hadapan generasi muda yang kian kritis. Harusnya generasi tua tidak kerdil tapi kritis dan mengajarkan sikap penuh usaha dan kerja keras untuk mencapai cita-cita dan bukannya mengajarkan konsep people power yang salah sasar.

Karena itu, ketakutan berlebihan (fobia) people power kali ini tidak beralasan karena alasan untuk people power tidak masuk akal dan di luar nalar demokrasi.