Mohon tunggu...
Yakobus Sila
Yakobus Sila Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Sarjana Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero dan Magister hukum di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Sekarang bekerja sebagai Praktisi di Perusahaan.

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Negara Federasi Indonesia

17 Mei 2019   09:00 Diperbarui: 17 Mei 2019   09:08 0 0 0 Mohon Tunggu...

Sejak kemerdekaan dikumandangkan tahun 1945 hingga kini, kondisi Indonesia tidak baik-baik amat, malah makin terjal ketimpangan sosial. Baru pada pemerintahan Jokowi, pembangun sudah mulai merata dan dirasakan oleh mereka yang berada dipelosok negeri. 

Mereka yang  selama ini tidak pernah merasakan enaknya jalan tol, dan terangnya lampu listrik, sudah mulai merasakan dampak pembangunan seperti masyarakat di Pulau Jawa yang selama kemerdekaan Indonesia paling merasakan pembangunan. 

Artinya, di zaman Jokowi, mama-mama di kampung bisa tertawa lepas karena mereka tidak pusing lagi cari minyak tanah untuk nyalakan kompor manual, karena listrik dan kompor gas sudah bisa dinikmati oleh mereka di kampung sana, sehingga mereka juga ikut merasakan pembangunan. Lalu, pemerintahan sebelumnya ke mana saja? Pertanyaan tersebut mesti dijawab dengan beberapa alasan.

Pertama, Konsep pembangunan Jawasentris. Artinya pembangunan selama ini selalu berpusat di pulau Jawa, sehingga kondisi ekonomi pulau ini terlihat lebih baik dari pulau-pulau lain di Indonesia.

Kedua, secara historis pulau Jawa selalu dikultuskan sebagai tempat kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Hal tersebut membuat pulau Jawa mesti mendapat perhatian istimewa. Selain itu, secara politik, perolehan suara saat pilpres pun pulau Jawa berdampak sangat besar untuk memenangkan paslon tertentu.

Ketiga, konsep federasi yang setengah hati. Yah, negara federasi sebenarnya sangat cocok dengan kondisi geografis dan keragaman budaya, dan watak orang Indonesia. Orang Timur, akan menganggap remeh atau enggan menjalankan aturan yang dibuat di Jakarta, karena mereka merasa dianaktirikan dalam pembangunan, selain mereka menuding bahwa Jakarta memang penuh sesak dengan para mafia pembangunan, sehingga mereka di Timur ingin membangun diri mereka sendiri (mandiri). 

Dari segi karakter, orang di Indonesia bagian Timur lebih terbuka menyampaikan maksud atau isi hati, dibandingkan dengan orang di Indonesia bagian Barat yang diplomatis dan membungkus sesuatu secara lebih rapi dan santun sebelum disampaikan. Perbedaan karakter ini, bisa menjadi alasan, mengapa orang-orang Timur diberi pekerjaan yang bersifat konfrontatif (keras, kasar, gigih, mati-matian), sedangkan orang-orang bagian Barat mendapatkan pekerjaan untuk urusan diplomasi (halus, santun). 

Penggambaran dua karakter tersebut membuat orang Timur akan bicara seenaknya saja kepada orang Indonesia bagian Barat yang halus dan diplomatis. Dan mereka di bagian Barat memahami bahwa itulah karakter orang Timur. 

Penggabungan dua karakter ini sangat menolong perkembangan Indonesia ke depan, namun lagi-lagi orang di bagian Timur sudah merasa tidak diperhatikan bertahun-tahun sehingga pembangunan di Indonesia bagian Timur sangat timpang, jika di bandingkan Indonesia bagian Barat yang sudah maju. Hal tersebut bisa juga terjadi karena pemimpin Indonesia selama ini selalu berasal dari Jawa. Hanya wakil presiden seperti Jusuf Kalla diberi jatah mewakili Indonesia bagian Timur.

Lalu bagaimana konsep federasi?

Jika terus memaksakan bentuk pemerintahan seperti saat ini, maka Indonesia tidak akan maju pesat, dan bahkan menjadi bahan tertawaan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Karena itu, Indonesia mesti menjadi negara federal yang semua urusan menjadi tanggungjawab negara bagian, tapi konsep persatuan Indonesia tetap utuh dijaga. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x