Yakobus Sila
Yakobus Sila Human Resources

Sarjana Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero dan Magister hukum di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Sekarang bekerja sebagai Praktisi di Perusahaan.

Selanjutnya

Tutup

Kandidat

Originalitas Kepemimpinan Jokowi

26 Maret 2019   17:01 Diperbarui: 26 Maret 2019   17:11 126 1 0

*Oleh Yakobus Sila, S.Fil., M.Hum

Fenomena kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) yang unik menjadi perbincangan umum yang kian meluas seluruh Indonesia. Gaya kepemimpin yang merakyat menjadi style  umum yang sekarang sudah ditiru semakin banyak pemimpin. Menjelang Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) terlihat banyak pemimpin mulai blusukan, menyapa rakyat dalam situasi paling konkret dan sederhana. Ada gaya kepimpinan Jokowi yang merasuk ke dalam visi dan misi pemimpin lain, karena gaya menyapa rakyat ala Jokowi menjadi model yang diinginkan rakyat dan mendongkrak eletabilitas Jokowi jelang Pilres. 

Masyarakat sudah muak dengan model pemimpin klasik yang terlampau birokratis dan protokoler. Rakyat membutuhkan pemimpin yang tampil luwes, meninggalkan gaya pemimpin yang terlampau santun dan tidak merakyat. Namun, tiruan blusukan Jokowi oleh pemimpin lain terlihat tidak orisinal (otentik) lantaran para pemimpin (lain) itu mulai menyapa rakyat saat pesta demokrasi sudah di ambang pintu. Blusukan dilakukan ketika sang calon pemimpin membutuhkan dukungan (suara) rakyat untuk memenangkan diri dalam pemilu. Sedangkan bagi Jokowi blusukan sudah menjadi style umum yang orisinal sejak beliau menjadi wali kota Solo (Jawa Tengah).

Ada Apa Dengan Tiruan Tersebut?

Tiruan yang tidak sempurna (plagiasi) menjadi gejala umum yang merasuk rasionalitas masyarakat Indonesia. Ada mahasiswa, misalnya, yang meniru atau mem-plagiasi hasil kerja mahasiswa lain, ketika sudah kehabisan ide atau tidak mempunyai ide cukup untuk mengerjakan paper kuliah yang ditugaskan para dosen. Selain itu juga, ada dosen yang memplagiasi (copy-paste) bahan kuliah dari media sosial seperti internet untuk menjadi bahan ajar bagi para mahasiswa. 

Sebenarnya, ada lingkaran tiruan (copy-paste) dalam dunia pendidikan yang turut membentuk generasi bangsa yang minim kreativitas, bersikap malas mencari gagasan baru untuk memecahkan suatu problem. Tidak bisa disangkal bahwa manusia dalam perkembangannya selalu meniru orang lain dalam usaha menemukan diri dan mengaktualisasikan potensi diri. 

Namun, tiruan yang diharapkan adalah model tiruan kreatif agar tidak terjadi pengulangan yang membosan. Ketika jokowi bergaya blusukan dalam memimpin, maka jenis blusukan oleh pemimpin lain menjadi model yang sangat membosankan dan tidak orisinal. Oleh karena itu, tiruan menjelang Pileg atau Pilpres termasuk gaya blusukan dadakan yang tidak otentik lantaran sang calon pemimpin hanya menciptakan pencitraan politik agar mendapat perhatian dan dipilih rakyat.

Rakyat harus mampu melihat perbedaan tegas antara pemimpin yang orisinal dan yang palsu. Keaslian tampak dari otentisitas (diri) yang integral dan komitmen yang kuat untuk melayani rakyat. Mereka (pemimpin yang orisinal) tidak membuat komitmen tersebut hanya saat menjelang pileg atau pilpres, tetapi hal itu sudah menjadi prinsip umum dan gaya khas dalam kepemimpinan. 

Apakah rakyat Indonesia mampu melihat orisinalitas gaya menyapa rakyat dari para calon pemimpin yang saat ini sudah ramai-ramai melakukan blusukan? Rakyat perlu hati-hati dalam menilai, agar kehalusan budi dan kebaikan hati yang dadakan tidak serta-merta dinilai sebagai kebaikan hati yang tulus.  Jokowi memang bukan satu-satunya pemimpin yang orisinal dalam gaya blusukannya, karena masih banyak pemimpin dunia yang sudah lama melakukan hal yang sama. 

Namun, gaya blusukan Jokowi menjadi khas karena tiruan kreatif yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia. Boleh jadi, Jokowi adalah sosok pemimpin yang lahir dan dihadiahkan oleh alam Nusantara yang sudah jenuh dengan gaya kepemimpinan sebelumnya, yang terlalu protokoler, mengandalkan otoritas dan kekuasaan yang dituntut untuk dihormati.

Kecerdasan rakyat sangat dibutuhkan jelang pileg dan pilpres, karena pencitraan politik calon pemimpin dan tiruan yang tidak orisinal akan membawa petaka besar bagi kemajuan bangsa Indonesia lima tahun mendatang. Karena itu, dalam konteks tersebut, rakyat membutuhkan pemimpin (calon pemimpin) yang menampilkan kekhasan dan keaslian tanpa tiruan-tiruan palsu (plagiasi) yang mengaburkan sekaligus memanipulasi pilihan politik rakyat.

Jokowi Sebagai Referensi

Sejak dideklarasikan sebagai capres oleh ketua umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, sosok Jokowi menjadi presiden sudah meluas di jejaring sosial dan perbincangan harian masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena ada yang merasa mendapatkan kompetitor baru dalam pilres, juga karena sebagian masyarakat merasa tugas Jokowi membangun dan membereskan problem Ibu Kota (Jakarta) belum tuntas. Namun, majunya Jokowi dalam bursa calon presiden menjadi berita gembira bagi seluruh rakyat Indonesia yang sudah mendengar desas-desus tentang sosok kepemimpinannya yang merakyat. 

Masyarakat Indonesia mau menyaksikan presidennya menyapa mereka dalam kesederhanaan harian warganya. Masyarakat di pelosok Indonesia yang terpencil dan jauh dari hiru pikuk pembangunan ingin menyapa langsung sang presiden yang mau hadir bersama dalam kesederhanaan mereka dan membangkitkan semangat mereka untuk bangun dari keterpurukan hidup. Walaupun Jokowi berpenampilan terlalu sederhana cenderung deso (watak kedesaannya), namun masyarakat Indonesia yang kebanyakan warga desa dan terbelakang membutuhkan seorang pemimpin yang mencintai kesederhanaan dan tidak berpenampilan mencolok agar bisa berjabatan tangan dengan rakyat, menyapa rakyat dalam keterbelakangannya. 

Oleh karena itu, rakyat membutuhkan sosok presiden yang tampil sederhana, memahami kondisi warga negaranya, dan membuat rencana pembangunan yang realistis dan tepat sasar. Itulah sosok yang terpancar dari ke-desa-an seorang Jokowi yang oleh lawan politiknya, dikatakan tidak pantas menjadi presiden RI.

Akhirnya, untuk lima tahun mendatang masyarakat Indonesia membutuhkan calon pemimpin yang berani menampilkan orisinalitas, otentisitas gaya kepemimpinan, bukan pemimpin yang suka membangun citra diri dengan meniru style blusukan pemimpin lain, bukan pemimpin yang minim kreativitas dan tidak mampu menyapa rakyat dalam kesederhanaan dan keterbelakangannya. 

Masyarakat menghendaki calon pemimpin yang mampu membangkitkan dan membangunkan warganya dari keterpurukan ekonomi dan pembangunan sambil menawarkan alternatif pembangunan yang konstruktif, serentak melakukan kontrol ketat agar alternatif tersebut berjalan sesuai rencana sehingga kesejateraan sosial dirasakan oleh semua warga bangsa.

*Penulis: Alumnus Pascasarjana Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Anngota KMK Ledalero, Praktisi Perusahaan, dan Pendiri Serikat Tani di Anaranda