Mohon tunggu...
Bernadeta Hestya
Bernadeta Hestya Mohon Tunggu... Terbuka terhadap perubahan, terbuka untuk belajar

Status Menikah. Pekerjaan Penulis, Pemerhati Masalah Sosial

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Bereaksi di Dunia Internet Ibarat Bermain Catur

24 Mei 2021   05:45 Diperbarui: 24 Mei 2021   07:15 112 2 1 Mohon Tunggu...

Laporan terbaru Digital Civility Index (DCI) mengenai tingkat kesopanan menunjukkan warganet atau netizen Indonesia menempati urutan ke-29 dari 32 negara yang disurvey sekaligus menjadi yang terbawah se-Asia Tenggara. Ini mencengangkan, karena selama ini kita dikenal sebagai bangsa yang sopan dan penuh keramahan.

Hasil riset yang dirilis oleh Microsoft pada bulan Februari 2021, netizen Indonesia mendapat poin 76, lebih buruk 8 poin dibanding tahun lalu. Itu artinya tingkat kesopanan kita di dunia maya semakin menurun. Poin ini pada akhirnya tidak hanya menunjuk pada netizen, tetapi menunjukkan wajah bangsa Indonesia di mata dunia.

Lalu apa arti semua ini? Apakah kita menganggap ini sebagai hal biasa saja, tidak perlu ditanggapi secara serius, atau ini bisa menjadi momen untuk kita belajar menjadi pengguna internet yang bijak? Harapannya demikian. Semoga hasil laporan ini tidak membuat kita gusar dan makin bereaksi negatif, namun menjadi cermin untuk kita berkaca dan menjadi tonggak awal menuju netizen yang lebih baik.

Survey dilakukan dengan mengamati 16.000 responden dewasa dan remaja di 32 wilayah dan dilakukan selama bulan April hingga Mei 2020. Dari skor itu tiga penyumbang tertinggi adalah penyebaran berita hoaks dan penipuan, menyumbang 47%, ujaran kebencian 27% dan diskriminasi sebesar 13%.

Menanggapi peringkat tersebut, Alexander Madji, wartawan senior di Surat Kabar Suara Pembaruan, dalam webinar yang diselenggarakan Komsos KWI menyatakan dengan memasuki ranah media online, maka netizen harus menyadari bahwa ia masuk dalam ranah publik bukan lagi ranah pribadi. Setiap kalimat atau reaksi yang dikeluarkan di media online tersebut, langsung menjadi konsumsi publik. Maka semestinya netizen lebih berhati-hati dalam bereaksi.

Kalau melihat contoh-contoh kalimat yang diungkapkan netizen, memang kita sendiri merasa ucapan itu semestinya tak perlu diucapkan. Rasanya tidak menggambarkan bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang ramah dan penuh sopan santun.

Alexander berpendapat, budaya sopan santun ini harus dimulai di dalam rumah, diteruskan ke lingkungan sekitar dan terwujud pula dalam dunia maya. Selain itu, budaya literasi kita masih sangat rendah. Literasi di sini diartikan dengan melakukan cek terlebih dahulu dengan membaca data dan sumber-sumber informasi yang bisa dipercaya sehubungan dengan suatu berita.

Citizen Journalism

Dalam dunia media online juga dikenal istilah Citizen Journalism atau jurnalisme warga. Yaitu aktifitas jurnalistik yang dilakukan oleh seorang warga biasa bukan oleh seorang wartawan. Setiap warga internet bisa melakukan aktifitas jurnalistik. Shayne Bowman dan Chris Willis mempunyai definisi dari Citizen Journalism yaitu “... the act of citizens playing an active role in the process of collecting, reporting, analyzing, and disseminating news and information”.

Jadi siapa pun yang melakukan aktifitas mengumpulkan, melaporkan, menganalisa dan menyebarkan berita dan informasi bisa disebut melakukan kegiatan jurnalistik. Dengan menyadari bahwa netizen bisa melakukan kegiatan jurnalistik, maka selayaknya netizen tahu elemen-elemen dasar dari jurnalistik itu sendiri sebelum melakukan kegiatan jurnalistik.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001), dalam bukunya The Elements of Journalism, What Newspeople Should Know and the Public Should Expect (New York: Crown Publishers), merumuskan prinsip-prinsip itu dalam Sembilan Elemen Jurnalisme. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x