Mohon tunggu...
Ina Tanaya
Ina Tanaya Mohon Tunggu... Penulis Lepas, Blogger dan Bidang Sosial

Blogger, Penulis , Traveller

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Pilihan

Kenapa Pengguna Mobil Pribadi Segan Beralih ke Angkutan Umum?

11 September 2019   14:49 Diperbarui: 11 September 2019   15:04 0 3 1 Mohon Tunggu...
Kenapa Pengguna Mobil Pribadi Segan Beralih ke Angkutan Umum?
Mobil Pribadi merajai jalan Sumber: tirto.id

Mengubah suatu kebiasaan itu bukan hal yang mudah. Kebiasaan apa pun yang dilakukan oleh manusia misalnya kebiasaan merokok, kebiasaan naik mobil, kebiasaan tidak mengembalikan barang di tempat awal. Dari kebiasaan yang kecil sampai kebiasaan besar, memang tak semudah membalikan telapak tangan. Kebiasaan itu memang menjadi suatu hal yang menyenangkan bagi yang melakukakannya. Hal yang menyenangkan jika direnggut dari diri sendiri akan membuat stres, sulit bahkan mempertahankannya.

Padahal kebiasaan yang dilakukan ngga semuanya berdampak baik, ada yang berdampak tidak baik bagi diri kita. Misalnya kebiasaan merokok, bagi perokok itu sendiri mengetahui dan membaca apa dampak buruk bagi kesehatannya  apabila dia tetap merokok. Namun, dia menganggap ada kenikmatan dalam merokok yang tak bisa digantikan oleh apa pun. Ketika dia berusaha untuk menghentikan, dia seringkali terjatuh beberapa kali untuk kembali kepada kebiasaan lama. Perlu motivasi dan dorongan yang kuat dalam dirinya untuk bisa mengubah kebiasaan itu.

Demikian juga dengan kebiasaan menggunakan mobil pribadi ke mana saja. Buat warga yang sudah terbiasa kemana-mana dengan mobil pribadi, dianggapnya lebih efisien dan mudah apabila naik mobil sendiri. Belum lagi pengguna mobil pribadi segan sekali naik transportasi umum dengan berbagai alasan yang dianggapnya tepat untuk dirinya. Dia menganggap bahwa transportasi umum seperti MRT, Bus Trans, kereta komuter line,  belum nyaman dan memadai. Berdesak-desakan di dalam bus, kereta api. Jadwalnya tidak tepat waktu, belum lagi tidak ada integrasi antar MRT dengan transportasi lainnya kecuali dengan gojek .  

"Sudah punya mobil pribadi,  sudah bayar pajak, kenapa kok diparkir di dalam rumah?" jelas seorang pekerja perempuan usia muda.

"Repot, harus ganti-ganti transportasi umum karena harus menunggu transportasi berikut!" jelas seorang lelaki pekerja muda.

"Enakan, naik mobil dong, gengsi jika ditanya tadi dari rumah naik apa oleh calon pacar!" kata seorang pemuda.

"Keamanan naik transportasi umum tidak terjamin karena ada pencopet dan supirnya suka mengebut," jelas seorang pekerja perempuan.

Begitu banyak alasan yang dikemukakan oleh para pengguna mobil yang segan sekali untuk beralih kepada Angkutan umum.  Saat ada kebijakan baru dengan adanya perluasan wilayah pembatasan kendaraan dengan sistem ganjil genap ternyata tidak mendorong warga beralih untuk gunakan transportasi umum.

Hampir 25 ruas jalan di Jakarta sudah terkena kebijakan ganjil-genap sejak tanggal 9 September.  Sebelumnya sudah ada sosialisasi sejak tanggal 1 September hingga  8 September.

Ketika kebijakan itu diberlakukan di lapangan, terutama dimulai pada hari Senin yang merupakan hari pertama dan hari yang padat untuk lalu lintas di Jakarta. Banyak anggota Polisi  yang bertugas untuk melakukan patroli menangkap mereka yang tidak mengindahkan peraturan kebijakan ganjil genap itu. Di hari kedua, jumlah pelanggar ganjil genap yang melanggar dan ditangkap sebanyak 1.761 orang, cukup besar, menandakan belum banyaknya kesadaran dari pengguna mobil untuk beralih kepada transportasi umum.

Ketika mereka tertangkap oleh petugas, ada yang ingin bermain kucing-kucingan dengan petugas, bahkan ada yang ingin menyogok atau ada yang berdalih bahwa dia tidak melihat rambu-rambu lalu lintas tentang adanya peraturan ganjil-genap.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2