Mohon tunggu...
Ina Tanaya
Ina Tanaya Mohon Tunggu... Penulis Lepas, Blogger dan Bidang Sosial

Blogger, Penulis , Traveller

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Hari Anak Nasional: Jangan Jauhi Anak dengan HIV/AIDS!

23 Juli 2019   15:13 Diperbarui: 23 Juli 2019   20:13 0 10 3 Mohon Tunggu...
Hari Anak Nasional: Jangan Jauhi Anak dengan HIV/AIDS!
gettyimages-bullied-5d36ff230d8230614258e262.jpg

Sumber ilustrasi: Getty Images"May all the children of the world be blessed and have a wonderful childhood. May they become good responsible adults in the future"

Kemarin, pencanangan Hari Anak Nasional. Namun, Hari Anak Nasional itu belum menjadi hari yang sepenuhnya menggembirakan seluruh anak Indonesia. Di tengah gegap gempita anak-anak yang seharusnya menikmati hari-harinya penuh keceriaan sebagai anak, ternyata ada segelintir anak yang harus merayakannya dengan getir hatinya. 

Getir hatinya karena dia belum menerima haknya sebagai anak Indonesia. Hak pendidikan dan hak kesehatan. Dia masih disingkirkan bahkan didiskriminasikan karena orangtuanya atau malah dirinya ikut menyandang HIV/AIDS. Anak-anak yang mengidap HIV/AIDS disebut Anak Dengan HIV/AIDS atau disingkat ADHA.  

Diskriminasi yang diterima oleh anak-anak ADHA itu sangat berat sekali. Ketika mereka ditinggalkan oleh ayah dan ibunya yang meninggal oleh HIV/AID, masyarakat sekitarnya yang belum mengetahui tentang apa itu HIV/AIDS menganggap bahwa anak ini juga akan menularkan HIV/AIDS kepada anak-anaknya jika mereka bergaul dengan mereka. Beban psikologisnya sangat berat, apalagi mereka belum dewasa.

Salah satu contoh yang sangat menyedihakan adalah 14 ADHA di Solo, Jawa Tengah didiskriminasi dan ditolak dari orangtua siswa lain.  Keempatbelas anak ADHA ini menuntut ilmu di SD Negeri di Kecamatan Laweyan. Penolakan itu muncul dalam rapat wali siswa. Bahkan, orangtua sempat mengancam Kepala Sekolah apabila ke 14 anak ADHA itu tetap diterima, mereka semua akan ke luar dari sekolah itu.  Akibatnya ke 14 anak ADHA itu harus keluar dari sekolah itu dan mereka harus di rumah penampungan belajar sendiri tanpa pendampingan.

dokumen pribadi
dokumen pribadi
Hal serupa terjadi dialami oleh  6 anak ADHA si Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Keenam anak ADHA itu yang ditampung di suatu rumah penampungan disebut House of Love. Semua tetangga sekitar melarang anaknya bergaul dengan ke 6 anak ADHA itu. Bahkan ada sebuah warung yang melarang anak-anak itu jajan di tempatnya.

Menyedihkan lagi, salah seorang anak bernama SS ditolak bersekolah di taman kanak-kanak. ST dan PL ditolak masuk sekolah SD Negeri. Mereka diminta segera pulang. Orangtua siswa lainnya mendesak mereka segera keluar karena takut anaknya tertular.  

House of Love menjadi tempat satu-satunya untuk perlindungan dan mencari cinta bagi anak penyandang HIV/AIDS itu. Bahkan mereka memanggil "mamah" kepada pengasuhnya yaitu Eni dan Elisabeth. Sebaliknya, Eni dan Elisabeth memanggil anak-anak itu "anak". Keenam anak-anak itu sudah seperti kakak-beradik karena tak ada tempat lagi bagi mereka untuk mendapatkan pendidikan maupun kasih sayang yang sebenarnya.

Penolakan dan diskriminasi anak ODHA dan ADHA ini tak terlepas kurang pengetahuannya para orangtua tentang bagaimana cara penularan HIV/AIDS. Orang yang tidak mengetahui cara penularan HIV/AIDS menanggap jika anaknya bergaul dengan anak-anak ODHA dan ADHA, maka anaknya akan tertular.

Sangat disayangkan bahwa menurut survei secara acak yang diadakan oleh Litbang  Kompas, dari 518 responden ketika ditanyakan apakah Anda mengenal penyakit HIV-AIDS? Jawabannya, yang mengenal  53,1%,  yang mengenal sedikit 36,8%, dan tidak tahu 10,1%.  Ketika pertanyaan berikutnya diajukan, apakah seandainya ada orang HIV AIDS di sekitar Anda, apakah Anda menerima? Yang menerima sebanyak 68,3%, menjauh 16,4%, menolak 10% dan tidak tahu 5,3%.

Anak yang dilahirkan dari orangtua penyandang ODHA dan ADHA itu secara otomatis akan terinveksi HIV/AIDS. Gejalanya anak-anak yang menyandang HIV tidak bisa dilihat dengan kasat mata.  Human Immunodeficiency Virus atau HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Saat terinfeksi, virus akan menggerogoti sistem kekebalan tubuh dalam waktu yang lama tanpa menunjukkan gejala apa pun. Ketika kekebalan tubuh sudah lemah, tubuh menjadi rentan terhadap serangan segala macam penyakit. Di sinilah fase muncul penyakit AIDS pada tubuh seseorang yang terinfeksi  HIV.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x