Ina Tanaya
Ina Tanaya ibu rumah tangga

Blogger, Penulis , Traveller

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Wisata Kuliner dan Blusukan di Kampung Pecinan Tua, Tangerang

12 Februari 2018   16:31 Diperbarui: 12 Februari 2018   17:26 448 3 4
Wisata Kuliner dan Blusukan di Kampung Pecinan Tua, Tangerang
travel.kompas.com

Begitu membaca flyer dari Food Jakarta Travel berjudul "Tangerang China Town (Pasar Lama)", saya tertarik untuk ikut serta. Alasannya saya sudah lama tidak pernah blusukan, apalagi menjelang Imlek, rasanya ingin melihat suasana kota Cina tua di Tangerang.

Tanpa berpikir panjang saya mendaftar walaupun teman-teman saya berguguran satu persatu. Namun, saat H-1, justru ada 3 teman dekat yang ingin ikut. Wah kesempatan emas juga karena kami dalam satu area untuk bisa berangkat bersama-sama ke meeting point, yakni Stasiun Tangerang.

Sempat berpikir bahwa City Tour ini perlu naik mobil, jadi saya pikir lebih efisien naik mobil rental saja. Apalagi setelah sempat melihat rute naik kereta dari tempat saya, harus tiga kali transit kereta. Maklum, saya membawa grup oma-oma. Wah, sampai di sana saya baru sadar bahwa City Tour ini adalah "walk in tour" alias jalan kaki. Sempat kaget sebentar, tapi ngga apa-apalah karena perlengkapan saya, topi, baju, dan sepatu khusus untuk walk, sudah siap.

Jam 8 tepat kami berangkat bersama-sama dengan teman dari Bintaro. Kami menuju ke Stasiun Tangerang. Tepat sekita rpukul 9.15 kami sudah tiba di sana. Belum banyak teman-teman yang datang. Ini terlihat dari kaos yang dikenakan, yaitu kaos merah yang ditentukan oleh panitia. Setelah pukul 9.40, pendaftaran dan pembayaran pun dibuka.

Ada dua guide: Pak Aji dan Pak Irawan siap memimpin dua grup kami. Saya masuk ke dalam grup pertama. Grup pertama ada 21 orang, anak-anak muda dan ibu-ibu dan dua orang lelaki. Perjalanan dimulai dengan naik angkot. Udara panas dan kemacetan menambah suasana tambah hiruk-pikuk. 

Beruntung perjalanan hanya singkat kira-kira 10 menit, kami sudah tiba di depan Gang "Sukaria". Menyusuri gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu mobil, kami berjalan sekitar 50 meter. Lalu, di depan gang, terlihatlah suatu papan nama "Nasi Uduk Encim Sukaria". Kami tinggal menyeberang jalan. Rumah kecil itu dipenuhi dengan berbagai macam makanan mulai dari nasi uduk, ketupat, nasi ulam, semur jengkol, dan bakwan udang.

Nasi Uduk Encim Sukaria . Dokumen Pribadi
Nasi Uduk Encim Sukaria . Dokumen Pribadi
Dari penampilannya memang tidak terlihat nikmat, tapi begitu membeli semua makanan di sini sangat nikmat dan sedap karena resep yang telah dibuat turun temurun setelah generasi kedua yang meneruskan usaha ini. Seorang Chinese yang disebut Encim Sukaria telah menurunkan ilmunya kepada anaknya. Pelanggannya banyak dan orang terkenal pun berdatangan ke sini.

Penggilingan Kopi Jadul. Sumber foto: Pribadi
Penggilingan Kopi Jadul. Sumber foto: Pribadi

Beberapa meter dari Warung Encim Sukaria, kami mengunjungi penggilingan kopi jadul. Penggilingan yang sangat kuno itu terbuat dari besi yang masih kokoh sekali. Penjualnya, seorang lelaki berambut putih keturunan China dengan senyumnya yang mengambang melayani kami. Menjelaskan bahwa mesin tua itu sudah hampir belasan tahun digunakan. Kopi yang belum digiling sangat harum tercium. Tinggal pilih ingin kopi yang mana, Arabica atau Robusta. Tak kalah dengan kopi kafe mana pun.

Sungai Cisadane. Sumber foto: Pribadi
Sungai Cisadane. Sumber foto: Pribadi
Setelah perut kenyang dengan makan di Encim Sukaria, kami menyebarang lagi , masuk ke jalan yang sama Jalan Sukaria, lalu menyeberang jalan, masuk ke gang yang sangat sempit hanya muat satu orang. Wow, saya sendiri terkejut kok masih ada jalan tembus yang begitu sempit sekali tapi cukup memudahkan untuk potong jalan. Setelah jalan lagi beberapa puluh meter, dari kejauhan kami melihat lintasan sungai. "Itu dia, Sungai Cisadane!" seru teman saya.
Foto Bersama di tepi Sungai Cisadane. Foto: Pribadi
Foto Bersama di tepi Sungai Cisadane. Foto: Pribadi

Dikelilingi dengan pagar besi yang telah dicat dengan bersih, lalu ada trotoar khusus untuk naik ke atas menuju dekat pinggiran Sungai Cisadane. Kami dapat melihat dengan jelas aliran sungai Cisadane yang lancar tanpa hambatan karena tidak ada kotoran sampah. Walaupun airnya kecoklatan tetapi kelihatan bersih tanpa sampah.

RUmah Sarang Walet. Sumber foto: Pribadi
RUmah Sarang Walet. Sumber foto: Pribadi

Lalu, kami menyeberang jalan dan berjalan menuju sebuah gang sempit lagi. Di gang ini kami menjumpai sebuah bangunan kuno, Rumah Sarang Walet terletak di Jalan Cilangkap No.44. Rumah itu dulunya adalah sebuah bangunan dikenal dengan nama "Roemah Boeroeng". Dihiasi dengan ornamen-ornamen bernuansa oriental sebagai bagian kawasan pecinan. Bangunan yang tidak terawat, tempat burung walet bersarang itu direstorasi oleh seorang bernama Udaya Halim. Beliau merubah bangunan kuno menjadi tempat yang sangat berguna sebagai peninggalan yang bermanfaat bagi wisata Kota Tangerang.

Rumah PEnulis Oey K.T. Sumber foto: Pribadi
Rumah PEnulis Oey K.T. Sumber foto: Pribadi
Di seberang Rumah Burung, terdapat satu rumah kuno berwarna hijau pucat. Rumah ini merupakan rumah penulis Oey K.T. , penulis yang dikenal sebagai penulis silat Kung Fu.

Dari sini kami berjalan lebih masuk ke gang sempit penuh dengan rumah China yang digunakan untuk berjualan makanan. Kami memasuki salah satu rumah. Di depan rumah, tempat memanggang lapis legit yang masih memakai oven yang lama dengan panggangan menggunakan batu bara. Di dalam rumah ini seorang ibu yang sedang memotong-motong lapis legit.

Pemilik Lapis Legit. Sumber foto: Pribadi
Pemilik Lapis Legit. Sumber foto: Pribadi
Enaknya lapis legit sangat terkenal, dari bahan pembuatan lapis legit itu dari 40 telur, margarin satu kotak dan pembuatannya yang butuh ketelatenan karena satu lapis dimatangkan, dimasukkan lagi lapis berikutnya. Harga yang mahal dari lapis legit ukuran 22x22 yaitu Rp500,000. Sebanding dengan kelezatannya yang sangat legit.
Vihara Boen Tek Bio. Sumber foto: Pribadi
Vihara Boen Tek Bio. Sumber foto: Pribadi
Selesai, menikmati lapis legit, kami melihat sebuah kelenteng yang disebut dengan Boen Tek Bio, tidak begitu besar tapi kesibukan persiapan untuk menyambut Imlek sudah terlihat. Semua patung-patung dibersihkan, hio (alat untuk sembahyang sudah disiapkan), di tengah-tengah dari tempat sembahyang terdapat tempat dupa dan buah-buahan segar. Belum begitu banyak orang berdatangan karena hari itu belum Imlek.

Di dalam kelenteng, kami masuk ke dalam, kami mendapatkan sebuah vihara Paddumutara. Tempatnya bersih, tenang, dan ada beberapa umat Buddha sedang bersemedi dengan cara berjalan terus tanpa henti. Memfokuskan diri tanpa terganggu dengan kondisi sekitarnya.

Es Campur. Sumber foto: Pribadi
Es Campur. Sumber foto: Pribadi

Berlanjut, kami mampir di seberang ada es campur yang berwarna merah dan bentuknya seperti kerucut. Harganya tidak mahal, Rp10,000 , untuk menghilangkan rasa haus karena teriknya matahari.

Di samping dari es itu ada sebuah kafe kopi yang disebut Roemboer, berbagai macam kopi yang sudah digiling, tinggal diorder.

Kami berjalan melewati pasar yang baunya agak kurang menyenangkan, ikan, ayam dan genangan air dari penyucian ayam itu. Setelah melewatinya, kami berhenti di sebuah rumah yang disebut dengan Museum Benteng Heritage. Museum Benteng Heritage adalah museum yang penuh dengan cerita dari mulai pakaian, rumah, tradisi, pekerjaan dari warga China Benteng di Tangerang.

Museum Benteng Heritage. Sumber Foto: Pribadi
Museum Benteng Heritage. Sumber Foto: Pribadi

Di situ berlangsung diskusi antara International Non-Government Organization (INGO) dan Asian Development Bank (ADB). Pemerintah Kota Tangerang melakukan diskusi dengan INGO dan ADB seputar masalah kesejahteraan dan juga pembangunan masyarakat.

Berakhirlah kunjungan blusukan kami di Kota Lama Tangerang. Puas dengan kuliner dan melihat peninggalan kuno yang menjadi Heritage China, warga Cina Banteng, Tangerang.