Mohon tunggu...
Haniffa Iffa
Haniffa Iffa Mohon Tunggu... Penulis & Editor

"Mimpi adalah sebuah keyakinan kepada Tuhanmu, jika kau mempunyai keyakinan yang baik kepada Tuhanmu, maka kau akan bertemu dengan mimpimu." #Haniffa Iffa

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Ini Foto Selfieku, Kak

29 Mei 2019   03:04 Diperbarui: 29 Mei 2019   03:50 42 4 1 Mohon Tunggu...

Beberapa hari ini dia memang menunjukkan sikap yang tak seperti biasanya. Aneh, benar-benar aneh. Namun siapa yang tahu jika hal itu adalah bagian dari tanda-tanda kepergiannya. Andai saja aku bisa memahaminya dari awal Tuhan. Andai saja.

"Kirim foto selfie dong," Begitulah pesan singkatnya padaku malam itu.
"Apaan sih, ga ah kak," Balasku singkat.
"Buruan," Balasnya lagi.
"Mana dek?" Kirimnya lagi setelah aku tak membalas pesannya selama 1 jam.

Itulah pesan terakhir darinya yang bisa ku simpan dalam memori handphoneku. Iya, terakhir darinya. Dan hingga detik ini, aku tak berhenti menyesalinya karena mengabaikan keinginannya untuk melihat foto selfieku.

Ahhh, andai saja waktu bisa diputar kembali. Ini kak, foto selfieku. Bahkan akan ku kirimkan berapapun yang kau mau. Iya, andai waktu bisa diulang kembali.

Hingga detik ini, aku belum bisa mempercayai bahwa dia benar-benar tiada. Bagaimana bisa aku tak membaca dengan baik tanda-tanda kepergiannya. Ahh Tuhan, aku ingin dia kembali.

Malam itu, aku memang sangat sibuk dengan pekerjaanku. Banyak sekali yang harus ku selesaikan. Namun jika ku ingat kembali, foto selfie sejenak bukanlah hal yang sulit jika saat itu aku memprioritaskan dirinya. Iya, andai saja.

Paginya, aku mendapatkan sebuah pesan yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak.

"Rif, kak Risa kecelakaan tadi malam, sekarang kritis," Begitulah pesan singkat yang dikirimkan Tsania.

Seketika ku telfon Tsania menanyakan bagaimana kronologi kecelakaan kak Risa dan kondisinya saat itu.

Setelah mendengar kondisi kak Risa yang kritis, aku langsung bertolak ke Malang. Iya, dengan hati yang sangat tidak tenang.

Kurang lebih setelah 30 menit perjalanan berlangsung, aku kembali  mendapatkan pesan singkat dari Tsania.

"Rif, kak Risa udah ga ada", Tulisnya singkat.

Innalillahi wainna ilaihi raji'un. Astaghfirullahal 'adzim. Allah Yaa Rabb. Sungguh semua milik-Mu dan akan kembali pada-Mu. Allah. Betapa menyesalnya aku telah mengabaikannya di saat-saat terakhirnya. Astaghfirullahal 'adzim.

Di tengah perjalanan, aku tak bisa menyembunyikan isak tangisku. Dadaku tiba-tiba terasa sangat sesak. Tiba-tiba saja, senyum manis kak Risa terlintas dalam benakku. Tiba-tiba saja, aku ingat semua kebaikannya padaku. Tiba-tiba saja, aku ingat ketika dia menolongku saat tak satupun orang tau kondisiku yang sebenarnya. Ahh, kak Risa, bagaimana bisa Tuhan sebegitunya mencintaimu.

Harusnya aku tak melupakan pesannya yang berulang kali disampaikan padaku. "Kelak kau akan mengerti bahwa ada saat-saat yang tak akan terulang kembali dalam hidupmu. Dengan demikian, kau akan belajar untuk lebih menghargai waktu, menghargai setiap momen yang ada, dan pastinya, kau akan lebih menghargai orang lain." Pesannya padaku beberapa waktu yang lalu.

Ahhh kak Risa. Bagaimana bisa aku melupakan kerudung panjangmu yang menjuntai itu. Bagaimana bisa aku melupakan teh hangat manis yang selalu  kau sajikan setiap kali aku dan teman-temanku menumpang untuk mengerjakan tugas di kostmu. Kau memang kakak tingkat yang tiada duanya. Sudah seperti kakak kandungku sendiri.

Tuhan mencintai orang-orang yang baik. Dan orang baik itu salah satunya adalah dirimu kak. Maaf karena belum bisa menjadi adik yang baik untukmu. Maaf tak bisa mengabulkan permintaan terakhirmu. Aku tahu, kau memintaku mengirim foto selfieku adalah karena rasa rindu kakak kepada adik yang teramat dalam.

Maaf karena mengabaikanmu di saat-saat terakhirmu kak. Kini, setiap kali ada kata selfie, aku selalu merasa bersalah karena teringat akan permintaan terakhirmu. Kak Risa, aku sungguh-sungguh minta maaf karena telah membuatmu khawatir di saat-saat terakhirmu. Andai waktu dapat diulang kembali, aku sungguh ingin meluangkan banyak waktuku untuk sekedar menikmati teh hangat manis khas buatanmu. Berselfie ria denganmu. Bahkan aku ingin berkolaborasi menulis puisi kembali denganmu. Iya, andai saja.

Sumber gambar : umroh.com

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x