Mohon tunggu...
A. Dahri
A. Dahri Mohon Tunggu... Sapa saja dengan Lek Dah

Santri kelahiran 1993 di Malang Selatan, sedang menerjemah, mari berbagi (Lekdah91@gmail.com)

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Senyum Itu Disimpan Saja

30 April 2021   10:56 Diperbarui: 30 April 2021   10:59 181 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen: Senyum Itu Disimpan Saja
Dokpri. Lukisan Ahmad Dahri

Aku mencintai Fia, pun sebaliknya. Hubungan ini sudah berjalan tahun ke tiga. Pesantren menjadi tempat di mana segala pengetahuan tumbuh dan disebarkan. Salah satunya tentang cinta. Nafsu? Siapa yang tidak punya nafsu di dunia ini? Selagi masih memiliki jiwa hewani maka manusia manapun pasti memiliki nafsu.

Begitu juga aku dan Fia.  Tidak akan muncul rasa cinta dan sayang kalau nafsu itu tak membersamainya. Aku mengenalnya tiga tahun yang lalu, tepat Ketika ia diminta oleh salah satu kakak senior di pramuka untuk ikut menjadi panitia persami (perkemahan sabtu minggu) di sekolah binaan ekstrakurikuler pramukan MAN Satu Putat.  

Sejak saat itu, kami mulai akrab dan saling bertukan nomor hp. Setiap malam, selepas mengaji atau menjelang tidur, kami sempatkan untuk berbalas pesan, kadang waktu telponan, saat itu operator juga mendukung dengan memberi fasilitas paket satu nomor telpon bisa gratis ke lima nomor lain sesame operator.

Liburan pondok, kami isi dengan berbalas pesan, jika dikumpulkan mungkin akan menjadi satu buku tebal. Tiada hari tanpa berbalas pesan dan berkabar menjelang tidur, kadang sampai ketiduran pas lagi telponan. Perjalanan cinta yang sederhana, namun menyenangkan. Tiba-tiba kangen, rindu membuncah, senang kegirangan selepas menelpon atau membalas pesannya. Terbayang-bayang, mengangan-angan kedepan, dan anda pasti pernah mengalami apa yang disebut "cinta monyet."

__________

Selepas ia menyelesaikan jenjang aliyahnya, ia melanjutkan kuliah ke salah satu kampus ternama di Malang. Sebut saja UIN. Dari mulai pendaftaran, mengantarkan tes dan mencari keperluannya saat di Ma'had aku lakukan tanpa beban, melihat ia bahagia, kebutuhannya terpenuhi, itu saja sudah membuatku tenang.

Jarak dari pesantrenku ke Kampusnya sekitar tiga puluh kilometer, tetapi bertahun-tahun aku jalani untuk bertemu dengannya di waktu senggang, makan bersama, pergi ke toko buku, ke Batos, Coban Parang Tejo, dan mendaki gunung ke Panderman. Perjalanan cinta itu membuat kami saling mengenal satu sama lain. Sehingga memantapkan diri untuk ke jenjang lebih serius.

Aku memberanikan diri untuk mengajaknya menikah, selepas ia lulus, di kuliah tahun ke duanya, aku juga sudah bekerja di salah satu penerbitan di Malang, di samping juga berjualan buku online maupun offline. Selepas boyong dari pondok, dan lulus dari Kampus, aku mencari pekerjaan di malang, di samping biar dekat dengan Fia, pun karena bidang yang aku gemari adalah perbukuan.

Sehari-hari di depan komputer, mengedit beberap naskah, mempostk buku baru di salah satu media jual beli online, bazzar di alun-alun bundar, dan makan bersama Fia.

Fia mengiyakan ajakanku untuk menikah, bahwa saat liburan semester aku pergi ke rumahnya dan membicarakan langsung dengan Abahnya. Beliau menanggapi positif, walaupun belum benar-benar jelas merestui hubungan itu. Tetapi tampak dari gelagatnya ia menyetujuinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x