Mohon tunggu...
A. Dahri
A. Dahri Mohon Tunggu... Penulis - Santri

Alumni Sekolah Kemanusiaan dan Kebudayaan Ahmad Syafii Maarif (SKK ASM) ke-4 di Solo

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Katanya Pemimpin Itu Mentor Bukan Mandor

24 September 2019   09:31 Diperbarui: 24 September 2019   09:46 176
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Komisariat PMII Ibnu Sina Malang (dokpri)

Baru kemarin di berbagai media riuh dengan pembahasan aksi damai terkait kebijakan pemerintah, dan entah memang momentumnya diangkat kebali dari titik di mana era Orde Baru disuguhi aksi besar oleh para mahasiswa atau kebetulan saja ada momentum yang sama. 

Secara lugas hal ini menjawab akan sikap pemuda yang hari ini dinilai abai kepada kebijakan publik, bahkan ini yang paling miris mahasiswa menuai pandangan "agak kurang dipercaya di masyarakat", kalau anda tidak percaya bisa datang ke daerah selatan, daerah pantai selatan di jawa timur. 

Dan aksi damai serentak ini saya kira salah satu bentuk untuk menunjukkan bahwa pemuda,yang dalam hal ini diwakili oleh mahasiswa benar-benar peduli atas kegundahan yang terjadi di masyarakat, baik isu-isu lokal maupun nasional. Semoga istiqamah.

Namun jauh dari keriuhan itu, saya bertemu dengan sekumpulan mahasiswa yang sedang berdiskusi, katanya diskusi ini kegiatan rutin seminggu sekali, dengan tema yang beragam, baik yang menyangkut isu-isu lokal, nasional, bahkan curhatan-curhatan gen z yang sedang berkembang. Mereka tergabung dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Ibnu Sina Malang.

Seperti diskusi-diskusi pada umumnya, mereka menawarkan berbagai argument sesuai dengan pemahaman mereka. Kebetulan tema yang diangkat adalah "Pemimpin bukan mandor, tapi mentor." 

Keberagaman pola pikir dan latar belakang pendidikan sosial mencadi siklus diskursif yang hidup dan dialektis. Seperti halnya pemimpin diartikan sebagai Rois dan khodim, hal ini sesuai dengan latar pendidikan lingkungan sosial personalnya, salah satu peserta diskusi mengemukakan bahwa rois itu seperti kepala yang mengatur setiap anggota badan, sedangkan pemimpin dalam arti khodim, ia sebagai pelayan, melayani masyarakat.

Pihak lain mengartikan pemimpin sebagai Imam, di mana ia memiliki peran sebagai pemimpin bukan hanya pada wilayah horizontal saja, melainkan ada pertanggung jawaban yang diemban di wilayah vertikal. Sehingga apa yang dilakukan pemimpin tersebut memiliki ruang gerak terbatas, dan lebih hati-hati.

Di sela-sela diskusi ada satu pertanyaan, "bagaimana dengan DPR? Ia mendaulatkan diri sebagai wakil rakyat. Nah kita ini kan rakyat, diwakili dalam hal apa?" disambung dengan gelak tawa dan suara sumbang yang riuh. 

Dari beberapa jawaban, ada dua jawaban yang memiliki keeratan. Pertama Mereka memiliki ruang pengamatan yang luas dengan fasilitas yang memadahi untuk meninjau -- kembangkan potensi dari berbagai aspek kehidupan masyarakat. 

Kedua mereka dituntut untuk mampu menyelesaikan konflik atau persoalan-persoalan yang sedang berkembang di masyarakat.  Hal ini menjadi diacu oleh pengertian bahwa pemimpin adalah pelayan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun