Mohon tunggu...
Akhlis Purnomo
Akhlis Purnomo Mohon Tunggu... Penulis

Menulis, kesehatan dan olahraga

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Penulis Diinjak, Penulis Berontak

7 Januari 2021   14:26 Diperbarui: 9 Januari 2021   12:58 801 40 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Penulis Diinjak, Penulis Berontak
Photo by Darius Bashar on Unsplash

PAGI itu saya menemukan diri saya duduk di depan seorang pegawai bank. Saya mengurus kartu ATM saya yang rusak. Mulanya saya menduga mesin ATM langganan yang rusak tetapi begitu hal yang sama juga terjadi saat saya hendak menarik uang di mesin ATM lain, saya simpulkan,"Wah, kartu ATM ini sudah soak kayaknya..."

Akhirnya sampailah saya di sebuah kantor cabang bank penerbit kartu ATM tersebut. Pelayananannya cepat dan petugasnya ramah. Tidak ada keluhan berarti yang merusak keindahan pagi.

Tatkala saya menunggu itulah, sebuah pertanyaan meluncur dari bibir sang petugas. "Pekerjaan bapak apa?"

"Pekerjaan saya?" saya terhenyak. Saya malas menjawab wartawan, karena meskipun itu juga benar, saya pikir jawaban itu terlalu lazim. Sudah biasa.

Saya jawab singkat,"Penulis. Pekerjaan saya menulis."

Air muka si petugas menampakkan kebingungan. Entah kenapa. "Menulis? Oh, menulis apa?"

"Status Facebook, artikel, buku, semuanya..." Saya tidak sedang bercanda soal yang pertama, karena saya memang bekerja sebagai admin media sosial juga.

Ia tersenyum tipis lalu melanjutkan mengetik dengan satu tangan dan tangan lainnya memegang kartu ATM baru saya yang mengkilap, siap dipakai.

Sebenarnya saya ingin mengatakan "pekerja kata" tetapi itu akan membuat saya harus menjelaskan lebih panjang dan kernyitan di dahinya akan tambah dalam. Saya putuskan untuk tidak terlalu menunjukkan sisi eksentrik saya di sini. Saya masih harus bekerja setelah ini, saya membatin seraya menengok jam tangan. Sudah pukul sembilan lebih. Hampir pukul sepuluh pagi.

Di negeri ini, mungkin susah mempercayai seseorang bisa menghidupi diri dengan menulis semata-mata. Kenapa? Karena pekerjaan ini sungguh tidak menghasilkan uang dalam jumlah melimpah ruah. 

Doktrinasi masa kecil anak-anak Indonesia selalu diwarnai dengan profesi-profesi 'arus utama' (mainstream) seperti dokter, polisi, insinyur, dan sebagainya. Bagaimana dengan penulis? Tidak ada. 

Di pawai-pawai tujuhbelasan yang diadakan tiap Agustus pun, mana ada kita temukan anak kecil yang memakai kostum khusus yang menunjukkan bahwa dirinya penulis? Bisa dipahami, karena memang tidak ada pakaian khusus yang dipakai seorang penulis dalam bekerja. 

Ia bisa saja menulis dalam berbagai balutan busana, bahkan sekalipun tanpa busana, sah-sah saja dan bisa saja ia bekerja, asalkan di dalam kamar atau rumah sendiri, bukan?

Saya dibesarkan dalam lingkungan yang didominasi dengan pegawai negeri sipil, pegawai swasta, petani dan wirausaha. Saya hampir tidak pernah menemukan seorang penulis yang bisa menghidupi dirinya sendiri dengan menjual karya-karyanya. 

Kalaupun ada yang bisa menulis itupun wartawan, dan saya yang hidup di kota kecil, tidak tahu apakah pekerjaan wartawan selain mengirimkan artikel ke koran yang mempekerjakannya. Dan menurut saya, menulis untuk koran atau lembaga lain dari menulis yang ide-idenya digagas oleh diri sendiri.

Di tengah kelangkaan teladan itulah, saya mencoba terus memupuk minat dan ketrampilan saya dalam bidang bahasa. Setelah saya lulus dan bekerja, saya menemukan fakta bahwa memang menjadi penulis tidaklah mudah, dan karena itulah saya harus berkompromi dengan keadaan. 

Saya 'banting stir' untuk menjadi wartawan, praktisi media sosial, penerjemah, pokoknya apapun yang masih berkaitan dengan bahasa yang menjadi minat utama saya.

foto oleh Andre Neel di Unsplash.com
foto oleh Andre Neel di Unsplash.com

Karena itu, saya iri dengan Amy Elliott, karakter dalam novel "Gone Girl" karya Gillian Flynn. Kisah thriller psikologis itu menceritakan Amy yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan penulis yang berkecukupan dan sukses dalam hal finansial. 

Mereka bukan penulis yang miskin, hidup dalam nestapa, terlunta-lunta. Dikisahkan Amy terlahir dalam keluarga penulis. Bapak ibunya penulis terkenal yang menulis buku fiksi anak dengan menggunakan Amy sebagai tokoh inspirasinya. 

Amy juga bergaul dengan penulis-penulis hebat dalam lingkungan profesionalnya. Ia yang 'hanya' bekerja sebagai penulis kuis majalah wanita merasa minder jika harus berkumpul dengan penulis-penulis lain yang mengangkat beragam isu terkini. Di dalam sebuah pesta penulis itulah, ia bertemu dengan Nick Dunne, yang kelak menjadi suaminya. Dan Nick juga seorang penulis majalah.

Jika Anda sudah membaca buku tersebut, Amy dengan bangga mengaku dirinya sebagai penulis. Dalam berbagai kesempatan yang mengharuskannya menjawab pertanyaan soal pekerjaan misalnya saat dalam wawancara atau saat harus mengisi kuesioner dan formulir, ia menjawab tanpa ragu-ragu dirinya bekerja sebagai penulis. Dan tidak muncul keraguan dalam benak orang di sekitarnya bahwa profesi itu dapat diandalkan sebagai sumber mata pencaharian.

Tentu saya sudah memiliki kebanggaan yang juga ditunjukkan Amy saat mengaku sebagai penulis. Namun, masyarakat di sekitar saya masih menganggap bahwa pekerjaan penulis hanya sebuah pekerjaan sampingan. 

Saat saya mengatakan saya penulis, orang di sekitar saya - seperti petugas bank di atas - seakan tidak percaya bahwa itu satu-satunya pekerjaan saya. "Pasti ada pekerjaan utamanya," gumam mereka. Pokoknya, tidak mungkin menulis menjadi satu-satunya sumber pemasukan.

Di negara berkembang seperti Indonesia, menjadi seorang penulis yang mandiri secara finansial memang masih suatu fantasi belaka. Status penulis kaya raya masih hanya disandang segelintir orang saja. Bahkan penulis-penulis terkenal itu juga tidak sekaya yang kita pikirkan. 

Mereka terus berjuang agar lebih mapan secara keuangan, saking memprihatinkannya kondisi dunia penerbitan kita yang belum berpihak sepenuhnya pada penulis. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x