Mohon tunggu...
Akhlis Purnomo
Akhlis Purnomo Mohon Tunggu... Penulis - Copywriter, editor, guru yoga

Suka kata-kata lebih dari angka, kecuali yang di saldo saya. Twitter: @akhliswrites

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Mencegah Laut Indonesia Makin 'Plastik'

16 Oktober 2017   15:52 Diperbarui: 16 Oktober 2017   16:00 1442
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Jika sikap dan pola konsumsi kita tidak berubah, sebuah studi memprediksi bahwa gunungan sampah yang mengapung di lautan dunia akan makin banyak dan tidak akan musnah setidaknya dalam seribu tahun setelahnya atau 10 abad.

Solusi Efektif

Sebelum kita menyalahkan pemerintah karena semua masalah ini, mari kita cermati apa saja yang mereka sudah lakukan sejauh ini sebagaimana dikutip dari goodnewsfromindonesia. Pertama, penerapan kebijakan kantong plasyik berbayar yang saya pikir tidak efektif. Kenapa? Karena harga kantong plastik masih terlalu murah. Untuk mencegah orang memakai plastik, kita perlu membuat mahal plastik agar makin sedikit orang yang mau memakainya. 

Kedua, sudah ada deklarasi komitmen pengurangan sampah plastik di perairan kita yang diikuti 10 negara penghasil sampah terbesar di dunia tetapi sebagaimana biasanya, deklarasi semacam ini bisa jadi formalitas bagi para petinggi yang dampaknya di lapangan hampir tidak ada.  Dan ketiga penyusunan Rencana Aksi Nasional pada Agustus 2016 dalam rangka pengurangan sampah plastik di laut yang setahu saya tidak ada gaungnya sampai sekarang (apakah ada di antara Anda yang tahu aksi nasional yang dimaksud?). Itulah yang saya maksud dengan "jangan menggantungkan diri pada pemerintah".

Tidak bisa tidak. Kita harus memulai bersama-sama upaya untuk mencegah hal yang lebih buruk lagi terjadi pada laut kita. Dan ini bukan hanya berlaku pada mereka yang sering bepergian ke laut atau tinggal di pesisir. Kita yang hidup di darat juga memiliki kontribusi dalam mencegah makin parahnya tingkat pencemaran sampah plastik di laut. Kenapa? Karena alam kita ini saling terkait. Sampah plastik yang kita buang di daratan pasti sebagian ada yang larut dan hanyut ke sungai, dan sungai-sungai itu bermuara di lautan. Jadi, apakah yang bisa dilakukan untuk mencegah semua ini memburuk?

Berikut ini adalah kebiasaan-kebiasaan yang perlu kita pupuk dan tanamkan pada diri sendiri serta orang lain di sekitar kita agar lingkungan ini tidak makin tercekik oleh plastik, tanpa harus menunggu pihak lain menggerakkan kita dalam kampanye ini.

TINGGALKAN SEDOTAN PLASTIK

Sedotan plastik patut dianggap haram jika Anda sudah tahu bahwa ia hanya bisa dipakai sekali. Karena itulah jika saya ditawari minum jus, saya tak mau memakai sedotan plastik. Tinggal teguk saja, apa susahnya?

PAKAI TAS BELANJAAN DARI KAIN YANG BISA DIPAKAI LAMA

Akan lebih baik jika bahan tas belanjaan itu juga material alami seperti katun. Material artifisial turunan plastik seperti nilon mungkin memang juga awet dan lebih baik daripada memakai kantong plastik yang sekali pakai.  

STOP MAKAN PERMEN KARET

Saya saja baru tahu permen karet ada bahan plastiknya. Toh, meninggalkan permen karet tidak akan membuat Anda kurang gizi, bukan? Masih banyak makanan lain yang lebih berguna dan sehat.

PILIH KEMASAN KARDUS

Alasannya simpel saja, karena bahan kardus ialah kertas yang lebih ramah lingkungan. Kalaupun memilih bentuk kemasan botol sebisa mungkin pilih material kaca. Jangan yang dibuat dari plastik.

PILIH KEMASAN ISI ULANG

Apapun yang bisa diisi ulang itu lebih baik daripada yang sekali pakai. Jadi, pilihlah minum dari air kemasan dalam wadah galon daripada air minum dalam kemasan sekali pakai.

PAKAI LAGI WADAH KACA

Kalau Anda memiliki botol sirup atau minuman apapun dari kaca, simpan dan pakai sampai suatu saat ia pecah atau retak. Kaca lebih ramah lingkungan daripada plastik dan ia bisa didaur ulang dengan mudah.

BELI WADAH  DAN ALAT MAKAN YANG BISA DIPAKAI LAGI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun