Mohon tunggu...
Akhir Fahruddin
Akhir Fahruddin Mohon Tunggu... Perawat

| Bachelor of Nursing at Universitas Muhammadiyah Jakarta

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Merawat Optimisme

30 Januari 2020   11:40 Diperbarui: 30 Januari 2020   11:43 26 0 0 Mohon Tunggu...

Seingat saya waktu di Saudi, banyak dari rekan-rekan yang kreatif dalam bekerja. Bukan karena mereka menemukan hal baru sebagai perawat yang inovatif dalam bekerja tapi mencari pekerjaan lain diluar jam bekerja. Kalimat "Part Time" kadang menjadi solusi ditengah himpitan keras ekonomi juga harapan untuk memperbaiki kehidupan.

Memang disadari atau tidak, himpitan itu akan selalu ada, mau atau tidak, dia akan selalu datang pada saat kita berada dalam suasana yang baik maupun sebaliknya. Himpitan kehidupan bagaikan percikan api yang menyulut bara harapan agar kita memaknai, bagaimana rasa berada dalam keadaan tiada.

Orang-orang sukses maupun gagal sama-sama memiliki waktu dan kesempatan untuk dirundung himpitan bahkan melalui himpitan itu, ada yang berhasil melaluinya dengan usaha, namun juga banyak yang mengalah karena situasi dan kondisi tertentu yang belum bisa diselesaikan segera.

Memaknai kehidupan memang seperti ini, baiknya memang dimaknai, karena pemaknaan akan melahirkan kebesaran jiwa untuk mau memahami takdir juga jatah kehidupan. Orang-orang yang biasanya memaknai akan cenderung memotivasi yang lain agar berubah dan sekaligus mengubah cara pandang yang keliru dalam melihat kehidupan secara universal.

Saya sendiri kadang sering merenungkan bagaimana proses kehidupan ini berubah setiap saat dari sedih menjadi gembira, atau duka berubah bahagia. Komponen ini kita lalui dalam setiap rentang waktu yang bernama usia. Bukan berarti di usia muda kita lantas tidak boleh memberi makna tapi memang di setiap usia ada kebijaksaan yang terpendam dari keseluruhan cerita hidup yang kita lakoni.

Kita boleh menyembunyikan duka dan boleh juga menebar bahagia, tapi bukan berarti kita memaknai itu sebagai pengalaman melainkan semata-mata juga pembelajaran. Ada hikmah dari setiap proses tersebut untuk berbenah karena kehidupan setelahnya akan dimaknai sebagai refleksi hasil kerja masa lalu dan masa kini.

Lalu apa yang kita cari dalam proses pemaknaan itu ? saya sendiri melaluinya dengan penuh pembelajaran dimana saya bertemu mereka-mereka yang sukses di berbagai bidang namun juga harus tertatih membangun kehidupan keluarga, ada juga yang gembira berkumpul bersama keluarga namun harus berjuang melawan kerasnya kehidupan ekonomi.

Saya bertemu mereka-mereka yang curang dan culas namun pada akhirnya menerima segala konsekuensi dari apa yang mereka lakukan. Barangkali mereka berbuat karena himpitan, tapi harus disadarai bahwa sukses terbaik itu bukan urusan kita tapi urusan Allah SWT. Ketika keinginan kita bertemu dengan keinginan Allah SWT, itulah takdir sesungguhnya yang sedang kita hadapi.

Lantas ideal hidup itu dimana ? apakah kesenangan, kekayaan atau popularitas? Lantas saya mengulik banyak kisah tentang mereka-mereka yang hijrah dari berbagai kesenangan dan kepopuleran itu. Kita cukup belajar dari mereka betapa semuanya fana.

Saya teringat sebuah cerita disaat Umar Radiyallahu Anhu mendapati Rasullullah SAW sedang tidur di sebuah tikar yang terbuat dari pelepah kurma, disaat Rasul bangun dari tidur, Umar menangis melihat bekas tikar di punggung Rasulullah SAW. 

Lantas Umar bertanya kepada Rasul, "Wahai, Rasulullah, aku sedih melihat bekas pelepah kurma di punggungmu, bukankah engkau seorang utusan Allah SWT yang maha agung. Aku melihatmu berbeda dari sebahagian pemimpin-pemimpin lain yang tidur diatas Kasur yang bagus, hidup di istana yang megah dan mereka memakai pakaian-pakain yang layak".

Rasululllah SAW kemudian menjawab "Wahai Umar, apakah engkau masih belum yakin bahwa kehidupan akhirat lebih kekal dan kita akan mendapatkan kemenangan di kehidupan nanti". Umar kemudian menangis mendengar jawaban Rasulullah SAW.

Ketinggian makna yang diajarkan Rasulullah SAW kepada sahabat telah mendarah daging dalam kehidupan umat muslim itu sendiri, bahwa kesenangan dunia akan membinasakan bagi mereka yang mengejar segalanya bukan semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Kalau semua yang kita inginkan hanya untuk diakui dunia bagaimana mungkin kita mendapatkan balasan berupa indahnya surga.

Rupanya pentas hidup sepert ini, kita melaluinya dalam cerita yang berbeda tapi juga belajar dari setiap cerita yang ada agar kita mengambil hikmah betapa proses telah mengajarkan manusia untuk mau melihat kedalam tentang segala laku disetiap detik waktu yang dilaluinya. Betapapun tinggi kita, pentas hidup akan selalu mengajarkan kita bagaimana rasanya tiada dan duka juga sedih dan bahagia.

Pemaknaan terindah itu rupanya bukan tentang seberapa lama kita hidup tapi seberapa besar kita berbuat. Perbuatan yang kita lakukan setidaknya membuat kehidupan orang lain lebih baik bukan sebaliknya berbuat tidak baik demi mendapatkan kesenangan sementara yang membinasakan.

Saya melihat tidak ada yang ideal dalam kehidupan ini selain berharap agar jatah kehidupan dapat kita lalui dengan melakukan refleksi, berbuat yang terbaik dengan mengarungi jalan takwa dan saling menasehati dalam kebaikan dan kebenaran.

VIDEO PILIHAN