Mohon tunggu...
Akhir Fahruddin
Akhir Fahruddin Mohon Tunggu... Perawat

Seorang perawat dari dusun terpencil Sumbawa, NTB yang mengembara ke Saudi Arabia.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Ustaz Abdul Somad dan Jawaban terhadap Kaum Provokatif

19 Agustus 2019   13:30 Diperbarui: 19 Agustus 2019   13:54 0 5 3 Mohon Tunggu...
Ustaz Abdul Somad dan Jawaban terhadap Kaum Provokatif
UAS | Foto dari Kanigo.com

Saya mengawali tulisan ini dengan harapan untuk menyudahi berbagai antitesa yang terjadi di tengah isu yang kian marak diperdebatkan. Kejelasan akan isu yang berkembang dan pemeriksaan kembali terhadap isu yang beredar patut untuk dilakukan bukan sekedar menerima informasi yang belum diketahui kemudian disebarluaskan. Pendidikan terhadap ini sangat penting dan terus kita lakukan agar kita tidak terjebak dalam kebodohan berjamaah.  

 

Seorang penceramah pada dasarnya adalah seorang yang dengan kapasitasnya mampu memberikan pencerahan juga memberikan pendidikan kepada masyarakat perihal masalah-masalah dalam agama seperti syariat, ibadah dan muamalah. Dalam konteks ceramah yang disampaikan, seorang penceramah juga dituntut untuk meneguhkan sekaligus menguatkan keimanan para jamaahnya. Ini merupakan ranah pribadi yang tidak bisa serta-merta dilaporkan atau diperkarakan ke pengadilan.

 

Dalam menegakkan keimanan, Islam mengajarkan kita untuk tidak melakukan paksaan terhadap orang lain agar percaya terhadap ajaran agama kita, tapi kita dituntut untuk menjadi penceramah yang menyampaikan kebaikan-kebaikan yang ada dalam Islam, minimal bagi keluarga dan orang terdekat kita. Tidak adanya paksaan dipertegas dalam Al Quran "La iqro hafiddiin" (tidak ada paksaan dalam Islam). Firman ini mulia sekali jika dilihat dalam konteks kerukunan antar umat beragama apalagi jika firman ini menjadi dasar bagi para penceramahan untuk memperkaya khazanah manusia tentang keberagamaan.

 

Islam sebagai rahmatan lil alamiin atau rahmat bagi seluruh alam dari sejak Piagam Madinah sampai sekarang sangat menjaga apa yang disebut dengan keberagamaan juga perbedaan, hal ini menjadi bukti bahwa Islam selama ini diidentikkan dengan ajaran yang menghendaki perdamaian, kerukunan dan juga persaudaraan tidak hanya bagi kalangan sesama muslim namun juga yang berbeda keyakinan. Ini sangat mulia sekali meski kita sering lupa terhadap sejarah di masa lalu.

 

Dalam perspektif lain, kita diajarkan oleh orang tua untuk mentaati tempat-tempat ibadah umat lain, tidak mengganggu aktivitas ibadah orang lain juga menebar salam kepada orang lain meskipun kita berbeda keyakinan. Pembelajaran ini terjadi dalam ranah kehidupan seorang muslim yang memiliki efek jangka panjang bagi proses kehidupan generasi mendatang. Tidak heran jika kita melihat atau berkunjung ke berbagai kota di Indonesia, sebuah Masjid berdiri dekat gereja dan Pura. Ada kesejukan memandanganya sekaligus ada pendidikan didalamnya betapa perbedaan merupakan sebuah rahmat yang terus dipelihara eksistensinya.

 

Akan tetapi, Islam dan agama-agama yang lainnya juga mengajarkan tentang iman. Tentu di dalam setiap ceramah para ustdaz selalu menekankan tentang takwa yaitu menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala laranganNya. Dalam setiap ceramah internal kita ditekankan untuk menjauhi dosa besar yang disebut dengan "Syirik" atau menyekutukan Allah SWT misalnya murtad atau keluar dari agama Islam. Akan sangat wajar jika penceramah menekankan pentingnya iman dengan mempertegas kaidah-kaidah yang terkandung didalam Islam itu sendiri, sebagaimana pendeta dalam setiap khutbah selalu mengatakan hal serupa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2