Mohon tunggu...
Hanif Sofyan
Hanif Sofyan Mohon Tunggu... Freelancer - penyuka kopi rumahan

Buku, De Atjehers series 1-2: Dari Serambi Mekkah Ke Serambi Kopi;

Selanjutnya

Tutup

Entrepreneur

Memanusiawikan Dua Tamu Penjaja Keliling

8 Desember 2021   15:43 Diperbarui: 27 Desember 2021   01:29 60 5 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

kompas.com

Ada dua orang penjaja keliling yang kadangkala singgah di rumah. Jika bukan menawarkan dagangan, biasanya mereka singgah untuk beristirahat, sambil menikmati segelas air putih. Mereka menolak es, bahkan di kala panas begitu terik. Air putih saja, lebih sehat, begitu selalu kata mereka.

hhhhhhhhhhh-61c05f1517e4ac3131544522.jpg
hhhhhhhhhhh-61c05f1517e4ac3131544522.jpg
merdeka.com

Bu Asnah-Penjaja Tikar Keliling
November kemarin Ibu Asnah (67) penjaja tikar keliling singgah, di rumah. Kebetulan pada saat bersamaan seorang tante yang baru pulang studi dari Birmingham mampir ke rumah. Awalnya ibu penjaja keliling itu menawarkan, karena saya bilang mereka mungkin berminat. Ketika melihat ragam tikar untuk alas duduk,  tak disangka tanteku suka. Maka semua corak yang berbeda diborongnya. Singkat cerita ludes dagangannya. Berkah, berkah, berkah, kata Ustad Al Untung- seperti  di sinetron Amanah Wali 5.

anyaman-pandan-bagus-61b0d22362a7047c2a330432.jpg
anyaman-pandan-bagus-61b0d22362a7047c2a330432.jpg
steemit.com

Bahkan tanteku meminta nomor kontak untuk mendapatkan corak yang katanya lebih banyak lagi. Maka sejak saat itu, marketing produk bu Asnah, penjaja keliling, itu sudah sampai ke Jakarta, Bandung, Semarang, Inggris dan Jerman sekaligus. Ternyata produk itu diminati para rekan tante di luar negeri. Kalau di Indonesia jadi alas tempat duduk, di Jerman dan Inggris jadi hiasan dinding dirumah-rumah minimalis.

Padahal sebelumnya Bu Asnah, harus memulai perjalanannya dari Pidie, berjarak kurang lebih 2,5 jam perjalanan dari Banda Aceh. Produk dagangannya adalah buatannya sendiri dan titipan teman. Biasanya setiap bulannya, dengan menggunakan angkutan umum bersama seorang rekannya Bu Asnah, membawa puluhan produk tikar kerajinan tangan (hand made) dari kampungnya ke Ibukota propinsi Aceh, Banda Aceh, lalu singgah di rumah seorang kenalan yang berbaik hati memberinya penginapan gratis dan makan gratis, selama mereka berada di Banda Aceh.

Pengalaman itu menjadi pembelajaran buat Bu Asnah dan teman-teman di kampungnya, begitu juga kami. Selama ini kami tak pernah memikirkan bagaimana membantunya, ternyata begitu mudah caranya. Dengan berbekal gadget,  itupun  dilakukan oleh cucu Bu Asnah, tikarnya laku di tempat yang bahkan tidak pernah dijangkaunya.

Kini pesanan melalui aku, dan tanteku selalu datang. Begitu ada orderan, kami akan menelepon untuk menyiapkan produknya. Kadangkala disertai dengan permintaan motif, bahkan bisa diorder sEcara khusus.

Dunia online, marketing online kini menjadi bagian dari dunia Bu Asnah. Jika dulu dalam sebulan mereka hanya bisa menjajakan hanya 10 potong tikar, maka kini bisa mencapai puluhan dan ratusan, bahkan tanpa harus berkunjung ke Banda Aceh lagi. Dari kampungnya di Pidie, paket-paket orderan dipacking, dan dikirim ke alamat, atau jika di Banda bisa melalui perantaran kami untuk menghemat ongkosnya.

Bu Siti Penjaja jamu keliling
Kisah dan pengalaman kedua, bersama Bu Siti (53), yang selama ini berjualan jamu keliling. Beruntung jika dulu berjualan sambil berjalan kaki, kini bahkan telah berganti dengan sepeda motor-bantuan program dari Baitul Mal, rasanya lebih manusiawi daripada menggendong bakul jamu itu. Kita yang melihatnya saja berat, apalagi yang menggendongnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Entrepreneur Selengkapnya
Lihat Entrepreneur Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan