Mohon tunggu...
Wuri Handoko
Wuri Handoko Mohon Tunggu... Penikmat Kopi dan Belajar Menulis

Arkeolog, Peneliti, Penikmat Kopi, Pecandu Senja, Pencinta Telaga, Belajar Menulis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Persaudaraan Islam-Kristen: Belajar dari Budaya Maluku Masa Lampau

7 Juli 2020   14:15 Diperbarui: 7 Juli 2020   22:02 109 7 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Persaudaraan Islam-Kristen: Belajar dari Budaya Maluku Masa Lampau
Ilustrasi Persaudaraan, Sumber : https://docplayer.info/

"Ale rasa, beta rasa" (anda rasa saya rasa, ketika anda merasakan dan mengalami sesuatu, baik senang maupun susah, saya juga merasakannya)
"Potong di kuku rasa di daging" (seseorang mengalami susah atau sakit, orang lain merasakannya juga)
"Sagu salempeng dipatah dua" (Apa yang menjadi milikku, sebagian adalah milikmu juga, kita berbagi)

Ungkapan indah itu adalah sebagian ungkapan indah arti persaudaraan bagi masyarakat Maluku, yang lahir dari akar budaya masyarakat yang diwariskan oleh leluhur secara turun menurut dan menjadi ciri yang lekat dari budaya Maluku pada umumnya.

***

Satu waktu, di tahun 2017 saya diminta oleh Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku (LKDM) untuk menulis artikel ilmiah, untuk melengkapi buku Menelusuri Identitas Kemalukuan, yang diterbitkan oleh kerjasama LKDM dan Kanisius. Karena saya arkeolog, maka saya mengangkat isu multikulturalisme atau multibudaya dalam cara pandang sebagai seorang arkeolog. 

Bahkan kemudian saya diminta untuk menggarap awal penerbitan buku itu. Mulai dari mengumpulkan naskah, mengedit awal semua redaksi artikel, hingga berkomunikasi dengan Kanisius. Tentu kebanggaan luar biasa untuk saya. Mungkin saya satu-satunya, orang luar Maluku, yang dipercaya, mengawal proses penerbitan buku ini. 

Kepercayaan ini sungguh luar biasa, yang saya terima dari LKDM. Di LKDM, beberapa pengurusnya adalah guru saya di Pasca Sarjana Sosiologi Universitas Pattimura. Saya bangga diminta untuk terlibat aktif, proses penerbitan buku itu, di tengah orang-orang hebat di LKDM, putra-putra Maluku yang sangat berdedikasi yang saya kenal. 

Pengalaman saya melakukan riset arkeologi bidang arkeologi sejarah selama sepuluh tahun lebih di Maluku, tentu menjadi bekal saya untuk mempelajari budaya orang Maluku. Termasuk soal cikal bakal multibudaya orang Maluku, dalam kacamata arkeologi, kacama mata sejarah masa lalu. Tetapi sejatinya bukan itu saja. 

Tulisan yang saya angkat dalam buku itu, adalah soal relasi persaudaraan Islam-Kristen. Bukan semata-mata, karena pengetahuan yang saya peroleh berdasarkan penelitian saya. Jauh lebih dari itu adalah justru karena pengalaman saya sendiri selama kurang lebih sepuluh tahun hidup menjadi warga Maluku. Pengalaman saya berkebudayaan di Maluku, mengasah saya untuk lebih peka, belajar budaya Orang Maluku sesungguhnya.

Tahun 2005, setahun pasca konflik Maluku, saya datang sebagai orang baru yang betul-betul belum memahami kondisi sosial budaya setempat. Waktu itu, kondisi sosial budaya, paska konflik, bagi sebagian besar orang dari luar kota, mungkin tidak cukup nyaman. Tapi pengalaman saya pribadi, justru seratus delapan puluh derajat yang saya alami. 

Saya sangat nyaman dan diterima sepenuhnya sebagai seorang saudara. Kebetulan, saya yang muslim, bagi sebagian orang mungkin akan tinggal di lingkungan permukiman sesama muslim. 

Karena memang di Kota Ambon, antara permukiman orang Kristen dan Orang Islam, sendiri-sendiri. Setidaknya kondisi itu yang terjadi paska konflik disana. Tapi, saat pertama saya tinggal di Kota Ambon, saya justru memilih tinggal di lingkungan saudara-saudara saya yang Kristiani. Sebagai orang yang baru tinggal di kota Ambon, paska konflik itu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x