Mohon tunggu...
Wuri Handayani
Wuri Handayani Mohon Tunggu... Peneliti yang juga peduli kucing terlantar

Peneliti hidrologi dan konservasi tanah di Balai Litbang Teknologi Agroforestry, Badan Litbang dan Inovasi, Kementrian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Ig @wuri7395

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Alih Teknologi Hasil Riset untuk Mencerdaskan dan Memandirikan Petani Hutan

19 April 2021   13:39 Diperbarui: 20 April 2021   09:21 67 3 0 Mohon Tunggu...

Sungguh menarik mengikuti kegiatan yang dilaksanakan oleh P3SEKPI (Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim) Bogor secara off line dan online, pada tanggal 7 April 2021, mengenai Kegiatan Pelibatan Publik untuk Penguatan Pehutanan Sosial: Menghubungkan hasil Riset dengan Kebijakan, Petani dan Pasar. Kegiatan tersebut merupakan kerjasama Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan hidup dan Kehutanan dengan ACIAR (Autralian Center for International Agricultural Research) yang dikemas dalam kegiatan penelitian Enhancing Community Based Commercial Forestry. Tidak jarang hasil penelitian hanya dapat dinikmati oleh sebagian kalangan, dan tidak tersampaikan kepada pengguna yang membutuhkan, dalam hal ini adalah petani hutan. Padahal sangat penting dan bermanfaat jika hasil penelitian tersebut benar-benar dapat diterapkan. Salah satu pemaparan yang menarik bagi saya adalah pelatihan master tree grow karena adanya alih teknologi langsung kepada petani. Pelatihan master tree grow dilahirkan oleh Rowan Reid yang profesinya sebagai dosen universitas Melbourne Australia sekaligus petani. Pelatihan ini bertujuan untuk membangkitkan kemauan petani menanam dan memelihara pohon sesuai permintaan pasar.

Menurut Menteri LHK Siti Nurbaya, ada dua hal penting dalam perhutanan sosial yaitu  akses kelola dan produktivitas. Masyarakat memiliki hak yang perlu dihormati untuk bisa memanfaatkan kawasan hutan dan produktivitas yang didapat bukan hanya untuk memenuhi kehidupan sehari-sehari semata tetapi juga dapat menumbuhkan perekonomian desa (Sumber). Bagaimana masyarakat petani dapat berperan serta menumbuhkan ekonomi desa, maka petani harus memiliki bekal yang kuat, tangguh dan mandiri. Disinilah peran peneliti dengan hasil penelitiannya dan campur tangan pemerintah seperti kebijakan, peraturan yang mendukung pengelolaan kayu rakyat, dan lain sebagainya.

Menurut Djajapertjunda, perkembangan hutan rakyat dipengaruhi oleh ketersediaan lahan, kemauan masyakat bertanam kayu, aspek teknis yang menjanjikan keberhasilan, aspek ekonomi, sosial, industri dan pemasaran. Pemilihan jenisnya kebanyakan ditentukan oleh faktor ekonomi dan sosial, dan tidak banyak yang didasarkan faktor ekologi  Pemilihan jenis oleh faktor ekonomi misalnya memiliki harga jual tinggi dan bisa dijadikan tabungan masa depan, cepat tumbuh dan menghasilkan. Sedangkan faktor sosial antara lain, warisan, ikut-ikutan lingkungan sekitarnya atau yang sedang marak, tersedia bibit gratis. Petani tidak melihat, apakah tanaman yang ditanam sudah sesuai dengan kondisi biofisik lahan seperti jenis/ kondisi tanah, topografi, iklim, sehingga tanaman kayu yang ditanam dapat tumbuh baik dan bagus, tanpa beban biaya pemeliharaan yang tinggi. Apalagi petani yang menanam dengan pengetahuan dan ketrampilan minim serta cenderung mengikuti trend, maka tanaman yang ada hanya dibiarkan sekedar tumbuh. Tidak berhenti disitu, yang dilakukan petani hutan rakyat untuk menjual hasil kayunya, sering dilakukan dengan cara tebang butuh. Ketika mereka memerlukan biaya untuk suatu hajatan perkawinan anaknya, misalnya, tanaman kayu dijual sebelum masak atau ukuran diameter dan volume kayunya belum mencapai optimal. Tentu saja harganya menjadi rendah. Selain itu harga bisa dipermainkan oleh tengkulak kayu yang lebih mahir dalam menghitung kubikasi kayu.  Kondisi petani hutan rakyat yang demikian dijumpai juga di daerah Ciamis.

Ciamis yang memiliki hutan rakyat luas di daerah Jawa Barat, merupakan salah satu wilayah kerja Balai Litbang Teknologi Agroforestry. Di bawah satu atap kementrian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, sebagaimana P3SEKPI balai ini juga sudah menghasilkan beberapa teknologi yang dapat digunakan petani dengan mudah, yang ditemukan oleh seorang peneliti bernama Budiman Achmad yakni alat sidik cepat pemilihan jenis tanaman dan pita volume. Sidik cepat pemilihan jenis tanaman dikemas dalam bentuk yang sederhana dari hasil-hasil penelitian terdahulu, sehingga petani hanya tinggal mencocokan karakter lahannya, dan terbacalah jenis-jenis tanaman apa yang bakal cocok di tanam di lahannya dengan pertumbuhan dan produktivitas yang bagus tentunya. Informasi yang terdapat dalam alat sidik cepat tersebut, adalah daur tebang yang diinginkan (lebih atau kurang dari 10 tahun), tekstur (berlempung, berpasir, berkapur), ketinggian tempat (di bawah atau di atas 500 m dari permukaan laut), dan yang terakhir hasil hutan rakyat yang diinginkan (kayu atau non kayu). Sedangkan pita volume, dibuat untuk memintarkan petani dalam menghadapi tawaran tengkulak kayu karena petani dapat mengetahui volume kayu hanya dengan menggunakan pita ini. Mirip dengan pita meteran yang biasa dipakai penjahit, dengan lebar hanya sekitar 3 cm, pita ini memiliki dua deret angka untuk membaca lingkar kayu dan deret angka sebelahnya  menunjukkan volume kayu tersebut. Bisa dibayangkan, dengan ditambah pelatihan master tree grow, maka petani akan semakin cerdas dan mandiri, mampu menghasilkan kayu yang berkualitas dan memenuhi permintaan pasar. Petani hutan menjadi semakin sejahtera,  dan  petumbuhan ekonomi desa dapat terwujud.

#KLHK

#ACIAR

#P3SEKPI

#CBCF

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x