Mohon tunggu...
Wulan Eka
Wulan Eka Mohon Tunggu... Freelancer - Freelance

Belajar menuangkan kegelisahan dalam tulisan~

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Sebulat Donat dan Memoar Mengenang Sahabat

8 Desember 2021   21:59 Diperbarui: 16 Desember 2021   15:03 129 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Mas Dimas Galon (baju merah). Perankan tokoh Bos dalam pertunjukan Ndek-Ndek Sur. Foto : Dok. Teater IDEoT.

Agustus 2020 akhir, di ruang pertemuan salah satu SMA negeri di Malang. Tepatnya pukul 2 siang. Saya kala itu sedang mendedikasikan diri membantu sebuah komunitas teater, mengurus manejemen produksi pertunjukan. Selain mengurus administrasi yang sungguh memuakkan, saya juga menyamar sebagai staf produksi yang salah satu tugasnya meramut (alias meng-puk puk) pemain atau actor.

Saking banyaknya yang perlu diurus, jujur saja saya yang memang mageran kerap lupa dan (sengaja) nggak bawa bekal makan siang. Sarapan aja boro-boro kalau inget, wkwkkwk. Salah satu pemain yang akrab dipanggil Mas Dimas "Galon" tiba-tiba menyajikan kotak bekalnya di hadapan saya. 

"Kamu sudah makan ? Bawa bekal? Ini ada satu lagi donat, buatan Ibu saya," katanya kala itu. Mungkin sedikit banyak kalimat ini sudah saya modifikasi alias parafrase sejauh ingat saya.

Donat dagangan ibunya inilah yang akhirnya mendekatkan hubungan kami. Sebagai tukang pukpuk  actor dengan actor-nya. Beberapa kali beliau meminta dipotretkan untuk dokumentasi. Ada program pengabdian masyarakat dari kampus, bilangnya. Benar, beliau memang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Malang.

Meski telah menjadi akademisi, kesan humble tak bisa dilepaskan dari sosoknya. Berbaur dengan pemain lain yang sebagian besar masih kelas 3 SMA, tak menerapkan relasi senioritas. Beliau menyesuiakan diri bahkan dengan pemain yang masih kelas 2 SMA. 

Sebuah manifestasi ego nan berhasil dikelola dengan baik. Saya langsung memasukkannya dalam daftar kakak, meski baru kenal sekira satu bulanan. Sering kami curhat tentang hubungan romansa atau daily lide. Dia mengisahkan memiliki istri yang tinggal di Kediri (atau Nganjuk?). 

Waktu itu istrinya sedang mengandung anak kedua, jadi tak bisa ke Malang. Hampir seminggu sekali, ia bertandang ke Kediri (atau Nganjuk). Sebuah kisah heroisme perbucinan duniawi lainnya. Hehehhehehehehe.

Pengalamannya bermain peran yang jam terbangnya lebih tinggi, membuatnya didapuk jadi Asisten Sutradara. Bermain peran sekaligus melatih adik-adik SMA, jika sang sutradara berhalangan. Halus tutur katanya, tak pernah sepatah bentakan keluar dari mulutnya. (Kecuali pas acting dan scene-nya lagi berlagak galak). Sosok yang sungguh menerapkan anti-senioritas, tanpa banyak fafifu.

Pertama kali saya bertandang ke rumahnya di  Sukun yakni saat mengantar berkas pengajuan sponsorship acara. Rumahnya yang berada di dalam gang, sungguh membingungkan.

 Apalagi 'cewek gabisa baca maps', itu benar adanya.  Dengan sabar beliau menuntun kami dengan bantuan share loc dan beberapa kali panggilan telpon, "Mas Dim, sama masjid ini, mananya?" atau "Mas Gang berapa, gang warna apa?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan