Mohon tunggu...
Wulan Eka
Wulan Eka Mohon Tunggu... Freelance

Nulis adalah obat | Belajar menuangkan kegelisahan dalam tulisan | Berharap tulisan yang masih amburadul ini bermanfaat bagi yang membaca | IG dan Twitter : @wulanekah |

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Jalebi, Film Tontonan Wajib untuk Kaum Susah Move On

9 Agustus 2020   22:07 Diperbarui: 9 Agustus 2020   22:11 203 16 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jalebi, Film Tontonan Wajib untuk Kaum Susah Move On
Sumber Gambar : imdb.com

"Kenapa kau melakukannya Dev? Kau mengkhianatiku selama ini. Kau punya istri. Juga seorang anak kecil. Aku salah. Kau tak pernah mencintaiku. Aku merusak diriku, karenamu. AKU MERUSAK DIRIKU, KARENAMU!"

Jalebi, sebuah nama makanan khas India yang bercitarasa manis. Sungguh judul yang sesuai untuk membawakan sebuah kisah cinta yang legit. Jalebi merupakan film Bollywood yang rilis pada tahun 2018 akhir. Film ini dibintangi oleh Varun Mitra (sebagai Dev), Rhea Chakraborty (sebagai Aisha) dan Digangana Suryavanshi (sebagai Anu).

Film ini bermula ketika Aisha, penulis pemula yang mencari bahan tulisan dengan mendatangi Manor Netaji di Old Delhi. Manor tersebut ceritanya peninggalan pejuang kemerdekaan yang dulunya sebagai tempat perlindungan mereka. Tour guide yang sekaligus mejadi pemilik Manor,Dev memikat hati Aisha. Ketampanan, kecerdasan, dan dedikasinya pada peninggalaan leluhur membuat Dev terlihat seksi di mata Aish. Hari berikutnya, Aisha nekat mem-booking semua kuota house tour Dev. Rencana awal Aisha yang ingin observasi bahan tulisan justru berubah menjadi persemaian bibit-bibit cinta.

Beberapa hari bersama Dev, Aisha memutuskan untuk melamar Dev. Wedyannnnn. Dev sama tergila-gilanya. Mereka merayakan pernikahan ala adat India. Aisha yang berasal dari kota metropolisnya India, Mumbai, merasa bahwa pernikahan adat begitu melelahkan. Banyak ritual yang non-sense dan undangan yang harus disambut dengan hahahihi. Capekk ati menurutnya. Rasa capai ia luapkan dengan merokok diam-diam di balkon kamarnya.

Sebagai perempuan modern, Aisha merasakan banyak gap antara dirinya dan keluarga besar suami. Memang, di India masih banyak budaya join family (beberapa keluara tinggal bersama). Aisha tidak terbiasa untuk tinggal secara terbuka dengan banyak orang. Terlihat pada adegan dimana ibunya Dev menegur Dev tentang kelakuan Aisha yang suka menutup pintu kamar di siang hari. Kelakuan Aisha yang juga bikin gedeg mertuanya adalah merokok.

Aisha benar-benar digambarkan sebagai perempuan progresif dalam film tersebut. Ia tidak bisa memasak. Mertua dan iparnya yang melakukan tugas kerumahtanggan tersebut. Aisha menggunakan pakaian jaman sekarang yang cukup pendek dan terbuka jika di dalam rumah. Aisha mengambil pekerjaan freelance penulis. Ia juga lebih mendominasi hubungan percintaan. Sebuah penggambaran perempuan yang menerjang realita masyarakat India yang sampai kini masih dikenal sangat patriarkis.

Beberapa bulan berlalu. Aisha merasa bosan tinggal di dalam rumah Manor terus. Sementara Dev sibuk dengan usaha house tour-nya. Aisha diam-diam menambil pekerjaan fulltime. Dev merasa terkejut bahwa keputusan Aish diambil tanpa sepengetahuan dia. Aish mengajak Dev untuk memulai hidup baru, meninggalkan keluarga intinya. Tapi Dev keberatan. Dev telah menganggap bahwa dirinya terikat dengan Manor Netaji. Ia ingin mewujudkan mimpi kakeknya untuk membuka Manor untuk siapapun. Pendidikan sejarahnya yang sampai Phd. bukanlah apa-apa baginya. Ambisi untuk menjalani usaha house tour sudah menjadi pilihan hati dan identitas Dev.

"Aish, rumah ini, Old Delhi, house tour, bagiku ini bukan cuma pekerjaan. Ini tentang siapa aku. Itulah hidupku. Sejarah menghubungkan aku dengan rumah ini. Kami pindah dari Lahore tanpa memiliki apapun dan relik ini yang menjadi pelindung kami. Sudah menjadi kakek untuk selalu membuka istana ini untuk siapapun. Mungkin aku terdengar melodrama, tapi bukan Aish. Jika aku meninggalkan rumah dan keluarga ini, maka aku tak akan pernah menjadi milikmu. Karena aku tak lagi menjadi diriku sendiri Aish."

Sayangnya menua bersama di relik tua peninggalan pejuang bukan tujuan akhir Aish. Hari demi hari perdebatan suami istri ini semakin sering terjadi. Ditambah beberapa waktu kemudian, Aish hamil. Aish merasa dirinya belum siap untuk mengandung dan memiliki anak. Aish merasa bahwa di usianya yang masih dua puluhan tahun masih ingin mengejar karir kepenulisannya, traveling ke berbagai negara. Dev menenangkan Aish. Ia membujuk Aish untuk menunda karirnya selepas anaknya lahir. Menurutnya, janin adalah makhluk yang berhak hidup. Aish akhirnya setuju dan melanjutkan kehamilannya. Seperti budaya India pada umumnya, kabar menggembirakan semacam ini dirayakan dengan berbagi manisan dengan sanak saudara. Mereka berdua terhanyut dalam romantisme kembali.  

Dipilihlah nama calon jabang bayi, DIsha, gabungan dari nama Dev + Aisha. Disha juga memiliki makna yang bagus dalam bahasa Hindi yaitu tujuan. Seperti menggambarkan tujuan pernikahan keduanya bukan lagi tentang diri masing-masing namun demi sang anak.

Sayangnya masalah kembali mendera. Tanpa sengaja janin Aish keguguran. Mertua dan kerabat menyalahkan Aisha atas kecelakaan tersebut. Menurut mereka, jika Aish di rumah aja dan nggak keluar-keluar rumah, mungkin janinnya masih aman sampai sekarang. Aish yang mengalami mental breakdown merasa sudah cukup kesabarannya dalam mempertahankan pernikahannya. Ia merasa hidup dengan Dev tidak membuatnya bahagia lagi. Keputusannya sudah bulat untuk pulang sendirian ke rumah ayahnya di Mumbai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x