Mohon tunggu...
wulanekah
wulanekah Mohon Tunggu... Freelance

Nulis adalah obat | Belajar menuangkan kegelisahan dalam tulisan | Berharap tulisan yang masih amburadul ini bermanfaat bagi yang membaca | IG dan Twitter : @wulanekah |

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Pesan-pesan Nasionalis Tersembunyi dalam Film Box Office Bollywood "Bharat"

5 Juli 2020   16:28 Diperbarui: 5 Juli 2020   16:24 54 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pesan-pesan Nasionalis Tersembunyi dalam Film Box Office Bollywood "Bharat"
Sumber Gambar : imdb.com

"Kau tahu kenapa Ayah memberimu nama Bharat?"

Pertanyaan itu membawa kita menyelami menit demi menit putaran film Bharat. Nama yang sama dengan nama yang diberikan oleh para pejuang kemerdekaan India untuk negaranya. Kalau di Indonesia mungkin mirip kayak nama Nusantara. Dari judulnya aja udah tercium bau-bau nasionalisme ya?

Film ini sendiri menceritakan kisah hidup Bharat. Seorang anak yang memegang mandat ayahnya untuk menjaga keluarganya di tanah pengungsian. Kayak nggak asing ya premisnya? Mirip sama satu film blockbuster di Korea? Memang, film ini diadaptasi dari Ode to My Father. Film yang menggunakan setting cerita sejarah saat perang Korea. Film ini diadaptasi, jadinya disesuaikan sama sejarah dan budaya India.

Cerita Bharat bermula saat partisi (pemisahan) Pakistan-India pada 1947. Bharat dan keluarganya tinggal di Desa Mirpur, Lahore. Sore itu di tahun 1947, perang saudara antara orang Hindu dan Islam masih berkobar. Desa di antara Amritsar dan Lahore sudah dibakar habis. Tak aman bagi orang Hindu untuk tetap tinggal di sana. Satu-satunya cara menyelamatkan diri yaitu hijrah ke India dengan menaiki kereta terakhir yang berangkat pada sore itu juga.

Ayah dan Ibu Bharat dengan masing-masing menggendong satu anak berlari tergesa menembus gerombolan orang yang berebut menaiki kereta. Bharat kebagian tugas membawa adiknya yang kedua bernama Gudiya. Bharat menarik tangan Gudiya agar langkahnya tak terlalu ketinggalan dengan kedua orangtuanya yang sudah jauh di depan.

Isi kereta sudah penuh sesak. Bharat menggendong Gudiya saat memanjat atap kereta. Satu tangannya menahan lengan Gudiya. Dia berebut naik tangga bersama puluhan orang dewasa lainnya. Tanpa sengaja pundak Gudiya terinjak tapak kaki seseorang. Gudiya jatuh. Genggaman Bharat pada lengan Gudiya lepas. Genggamanya hanya menyisakan sobekan kain baju Gudiya.

Di atap kereta, sang ayah panik melihat Gudiya belum naik. Sang ayah memutuskan untuk kembali ke kerumunan orang untuk mencari Gudiya. Sebelum turun, sang ayah mewariskan jam tangannya kepada Bharat sambil berpesan untuk selalu menjaga keluarga, menggantikan peran ayahnya sebagai kepala keluarga selama sang ayah belum menyusul. Ayah meminta Bharat mendatangi ke toko adiknya, Hind Ration Store di Delhi.

Ayahnya turun mencari Gudiya dengan meningglakan pesan terakhir "Bharat, ada ikatan keluarga dan ikatan dengan tanah airmu. Kau diberkahi keduanya Nak". Kereta melaju meninggalkan Lahore termasuk orang-orangnya yang tidak bisa naik kereta sore itu.

Kehidupan Bharat di Delhi membuka kisah-kisah baru. Perjalanan hidupnya banyak menyiratkan pesan-pesan nasionalis yang sepertinya sengaja disisipkan kepada penontonnya. Berikut beberapa pesan yang berhasil saya tangkap setelah menonton film Bharat ini :

1. Saat Bharat mencari ayahnya di wilayah pengungsian dengan membawa papan nama, dia bertemu dengan Vilayati. Vilayati adalah anak yang berkerja serabutan di wilayah itu.  Vilayati mengakrabi Bharat dengan menanyakan "Ayahmu bernama Gautam?". 

Vilayati ikutan mengenalkan nama ayahnya, Mukhtar. Bharat tahu jika nama tersebut merupakan nama orang muslim. Bharat bertanya juga kalau Vilayati beragama Islam, kenapa dia tidak ke Pakistan yang memang notabene warganya mayoritas beragama Islam? Waktu itu Pakistan menjadi negara yang aman bagi penduduk beragama Islam saat perpecahan perang antar agama terjadi. 

Vilayati yang polos menjawab kenapa harus ke Pakistan, India adalah tanah airnya. Ayahnya yang muslim telah gugur menjadi pejuang kemerdekaan India. Vilayati tak tahu kenapa pengorbanan ayahnya justru dibalas pembakaran rumah dan toko saat kerusuhan antar agama terjadi. Percakapan itu menjadi pembuka hubungan persahabatan keduanya.

Adegan ini seolah mewakili suara para kaum Muslim India pada masa kerusuhan perang saudara pada tahun 1947-an. Mereka ikut memperjuangkan kemerdekaan India, namun saat kerusuhan antar agama pecah, mereka yang minoritas diserang habis-habisan oleh sesama penduduk India hanya karena berbeda agama. 

Persahabatan antara Bharat dan Vilayati yang berbeda agama juga mengisyaratkan pesan pada warga India saat ini agar melakukan hal yang sama demi menghindari konflik antar warga. Memang isu perang antar agama di India bukanlah rahasia lagi, berkali-kali terjadi pada sejarah perjalanan bernegaranya.

2. Saat Bharat menemani sahabatnya Vilayati hendak COD menjual selimut curian di toko bibinya, Bharat membatalkan transaksi. Dia kekeh dengan pendapatnya. Bharat berkata,"aku tidak jadi menjualnya (selimut)....di toko, mereka menghormati kita. 

Sekarang kita pencuri, selimut ini telah melucuti kehormatan kita." Vilayati tak terima jika uang yang sudah diterima dari pembeli harus dikembalikan. Bharat melanjutkan keyakinannya,"aku boleh saja kelaparan, tapi aku tidak akan mencuri." Alhasil Bharat dan Vilayati babak belur dihajar calon pembeli karena uangnya sudah mereka diterima, sementara barangnya tak jadi diberikan.

Adegan ini kayaknya mau nitip petuah pada warga India untuk menjaga kehormatan dan harga dirinya dari tindakan buruk, apapun yang terjadi. Dengan berperilaku yang bermartabat, orang atau negara lain akan menghormati mereka.

3. Dengan luka memar yang memberkas di wajah, Bharat pulang ke rumah bibinya. Ibunya akhirnya juga mengetahui kejadian perkelahian antara Bharat, Vilayati dan calon pembeli selimut curian. Bharat mengakui kesalahannya. Bharat juga meminta maaf karena waktu itu tidak bisa menjaga Gudiya. 

Ibunya Bharat justru memberi wejangan pada Bharat agar ia memenuhi janjinya kepada sang ayah. "Daripada berkubang dalam kesalahan, pikirkan janji yang kau buat untuk Ayahmu. Bahwa kau akan selalu menjaga keluarga ini. Dan lain kali kalau tindakanmu benar, balaslah, jangan diam saja dihajar mereka." 

Wejangan tersebut menjadi penyuntik semangat Bharat. Sejak saat itu tujuan hidup Bharat hanyalah satu yaitu bekerja keras untuk tetap menjaga keluarganya. Di usianya yang masih anak-anak ia bekerja menjadi pengelap mobil di jalanan dan penyemir sepatu.

Adegan ini menyiratkan pesan bahwa warga atau negara India sendiri pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Namun, untuk kedepannya lebih baik untuk tidak terlalu tenggelam dalam kedukaan dan lebih memikirkan masa depan. Janji Bharat untuk menjaga keluarganya seperti menggambarkan janji negara India untuk menjaga kerukunan penduduknya. Negara juga sebaiknya mengambil langkah untuk menghidupi penduduknya dengan berbagai usaha dan kerja nyata yang bisa dilakukan, seperti Bharat yang rela menjadi pekerja serabutan di jalanan Delhi.

4. Pada saat Bharat dewasa, ia dan Vilayati mengikuti bursa kerja. Mereka menemukan lowongan kerja sebagai pekerja tambang di Timur Tengah. Saat wawancara kerja, Bharat ditanya nama belakangnya. Bharat menjawab : Ayahku memberiku nama seperti nama negara (India), Bharat. Jika aku harus memakai nama di belakang Bharat itu akan mempengaruhi kewibawaan dan keadaan negara (India).

Pesan yang sungguh nasionalis yah? Negara emang gak ada wibawa-wibawanya kalau ditambahin nama belakang yang biasanya berupa kata kerja, kata sifat, atau keterangan. Kan lucu kalo negara punya nama belakang Prasetyo, Rahayu, Widodo, Pangestuti, Kurniawan, Susanto atau Handayani ?

Kayaknya adegan ini juga ngangkat isu tentang penggunaan nama marga yang menjadi nama belakang. Di India yang mayoritas Hindu memang warganya memiliki nama marga tersendiri. Nama marga tersebut juga tergantung pada tingkat sosial-ekonomi pemiliknya. Termasuk juga mempengaruhi prestige pemiliknya. 

Contohnya pemilik nama dengan marga seperti Khan, Kapoor, Bhatt, Malholtra, Dutta, dll biasanya berasal dari keluarga yang ekonomi sosialnya tinggi. Konsep marga yang membatasi pergaulan manusia, akses ke pekerjaan maupun pendidikan membuat pengotak-kotakkan kondisi warga. 

Warga miskin tetap miskin, sementara kaya tetap kaya. Sistem marga memang menjadi problem sosial di India yang saat ini sedang diusahakan untuk dihapuskan demi tujuan pemerataan kesejahteraan warga. Semoga lekas runtuh ya, tembok-tembok pengotakan tingkat sosial-ekonomi warga India karena sistem marganya?

5. Saat team Bharat ditolak lolos seleksi kerja, Bharat protes. Pihak reqruitment menjelaskan bahwa pekerja yang dibutuhkan 90 orang, sementara pelamar terlalu banyak. Jika mau pelamar diharap datang lagi 6 bulan kemudian. Bharat justru dengan lantang berorasi "6 bulan terlalu lama Pak. Negara ini tiap detik terus berubah. Lebih dari separuh bangsa ini banyak yang tidak bugar, apa mereka tidak berhak bekerja? 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x