Mohon tunggu...
wulanekah
wulanekah Mohon Tunggu... Freelance

Nulis adalah obat | Belajar menuangkan kegelisahan dalam tulisan | Berharap tulisan yang masih amburadul ini bermanfaat bagi yang membaca | IG dan Twitter : @wulanekah |

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tips Mengakali Selera Lidah yang Kurang "Masyokk" dengan Cita Rasa Makanan di Perantauan

12 Mei 2020   14:09 Diperbarui: 12 Mei 2020   14:15 43 15 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tips Mengakali Selera Lidah yang Kurang "Masyokk" dengan Cita Rasa Makanan di Perantauan
Makanan daerah nan unik dan khas/ Foto : https://resepkoki.id/ 

Setiap daerah di Indonesia memiliki kuliner khas dengan citarasa nan unik. Keunikan tersebut terlihat pada perbedaan rasa masakan atau bahan yang digunakan. Sebut saja gudeg dan bacem Jogja yang cenderung manis, rendang dan masakan Padang lainnya yang cenderung pedas dengan rempah yang kental, atau rujak cingur di Surabaya dengan penggunaan bahan irisan mulut sapi dan sambel petis yang gurih.

Sebagai perantau yang sudah hampir 4 tahun tinggal di Malang, saya pun turut merasakan perbedaan antara citarasa makanan yang ada di perantauan dengan yang ada di rumah. Delapan belas tahun mengecap manisnya masakan yang telah menjadi selera lidah wong Jawa Tengah (khususnya yang dekat dengan Jogja), saya sempat merasakan cultural shock (kagok dengan makanan-makanan di Malang.

Masakan di Malang cenderung lebih pedas daripada masakan daerah saya di Wonogiri, mulai dari tingkat kepedasan sambel, kepedasan nasi goreng, hingga kepedasan masakan rumahan yang biasa dijual di warteg-warteg sekitaran kampus (misal : tumis, balado, pecel). 

Tak elak saya sering jadi bahan becandaan temen saya, katanya selera pedas saya terlalu cemen. Terbukti kalau sedang njajan mie super pedas yang biasa dilabeli dengan merk jenis-jenis hantu (mie setan, mie iblis) saya hanya kuat menakhlukkan level pedas nomor dua.

Pedas level satu aja udah bikin muka saya abang ireng, sementara temen saya ini minimal pesan level pedas tiga (cabai antara 10-15an). Huasyemm koen, emang teko cilik pangananku cenderung manis kok, emange yakapa sih cara menikmati makanan pedes ? Pernah sesekali  nekat makan pedes lho kok malah tercem. Hahaha.

Selain tingkat kepedasan, saya juga belum bisa menikmati yang namanya sambel petis. Sambel ini selalu mengiringi orang Malang kalau lagi makan gorengan, rujak cingur, tahu tek, tahu telur, lontong balap, krengsengan, dan juga tahu petis. Bagi saya sambel petis terasa geli di lidah.

Sambel petis Foto : resepkoki.id
Sambel petis Foto : resepkoki.id

Rasa asin dan  gurih udang yang terpadu dalam sambal pasta sepertinya tidak masyokk pada lidah yang biasa memakan sambel cabuk Wonogirinan. Sambel cabuk ini berasal dari wijen yang disangrai, ditumbuk, dicampur air lalu direbus. Mirip petis yang ada bumbu setengah matangnya, sambel cabuk mentahan ini juga masih perlu dipepes dengan parutan kelapa, cabai, gula jawa, dan daun kemangi. Sambel cabuk sering dianggap tidak menggugah selera karena tampilannya yang hitam legam dengan dibungkus daun pisang yang gosong. Namun, jika berkenan menyicip, kalian akan merasakan gurihnya wijen dan parutan kelapa, dengan sedikit rasa getir dari daun kemangi.

Sambel cabuk Foto : cnnindonesia.com
Sambel cabuk Foto : cnnindonesia.com

Namun masalah persambelan ini kayaknya kembali lagi ke selera lidah sih ya, nggak semua orang juga masyokk kok sama sambel cabuk ini. Jadi, yasudah lanjut aja makan sambel yang sesuai seleramu, gak usah sikut-sikutan gara-gara selera sambel yang berbeda.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x