Mohon tunggu...
wulanekah
wulanekah Mohon Tunggu... Freelance

Nulis adalah obat | Belajar menuangkan kegelisahan dalam tulisan | Berharap tulisan yang masih amburadul ini bermanfaat bagi yang membaca | IG dan Twitter : @wulanekah |

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Panen: Tak Semua Penuai Itu Memetik

7 April 2020   02:22 Diperbarui: 12 Mei 2020   15:43 46 8 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Panen: Tak Semua Penuai Itu Memetik
Petani merontokkan biji padi Foto : news.trubus.id

Hari ini mamak bilang tanaman padi di sawah yang sempat terendam genangan sungai itu bisa dipanen.
"Alhamdulillah, hasil panen seperti biasanya. Sembilan belas karung. Tak kurang. Tak lebih", ujarnya.

Syukur. Padi yang terendam biasanya hanya akan jadi makanan ikan. Jumlah panenan yang tak berkurang dalam kondisi begitu seharusnya bisa menjadi salah satu hal yang patut disyukuri.

Sudah hampir aku meminta pada emak, "Mak, stok berasku sudah habis di kosan. Bisa tidak kalau Yani nanti ditransferi uang saja. Kan emak baru saja panen. Biaya ongkir kalau emak ngirim beras kan mahal. Mending berasnya emak jual disitu, trus uangnya transfer ke Yani. Ya Mak? Boleh?"

Tapi kata-kata permohonanku itu hanya lancar digaungkan benakku, tertahan dalam tenggorokan. Karena emak tiba-tiba saja menyahut, "Nanti ya Nduk, kalau gabah hasil buruh tani emak ke tetangga udah kekumpul dan kering dijemur, emak bakalan jual, trus uangnya nanti emak transfer."

Aku hanya bisa tercekat, mencerna apa yang emak katakan. Bagaimana bisa, ada sistem pekerjaan dimana penggarap sawah tak mendapat bagian sepeserpun gabah dari sawah yang digarapnya. Pemilik sawah bilang, gabahnya panenan sawah sendiri tak boleh dicuil, sudah dipakai untuk makan sehari-hari keluarga emak. Jika emak perlu kebutuhan lain selain makan, ya silahkan buruh mencari upah harian.

Aku terbungkam. Diam. Menahan geram. Dendam.

Pada sebuah sistem perbudakan yang diterapkan di dunia agraria. Oleh seorang bos kecil yang tengil.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x