Mohon tunggu...
Wulan Eka
Wulan Eka Mohon Tunggu... Freelance

Nulis adalah obat | Belajar menuangkan kegelisahan dalam tulisan | Berharap tulisan yang masih amburadul ini bermanfaat bagi yang membaca | IG dan Twitter : @wulanekah |

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Pada Punggungnya yang Bungkuk, Terpanggul Segelumit Asa

7 Februari 2020   02:54 Diperbarui: 11 Mei 2020   00:23 130 16 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pada Punggungnya yang Bungkuk, Terpanggul Segelumit Asa
Sumber: Dok. Pribadi

Perempuan itu terbangun tepat saat kokok jago nyaring terdengar membelah kesunyian. Dengan sisa kantuk yang masih menggantung di pelupuk mata, ia memaksakan badannya bangun. Di tepian ranjang ia duduk termenung sambil melipat selimut. Tatapannya terarah pada laki-laki yang tidur di sebelahnya. Bibirnya tersenyum memandang suaminya itu.

Ingatannya berputar kembali ke hari kemarin disaat mereka membersihkan rumput yang menjejali tanaman kacang. Obrolan mereka tentang tenggat pembayaran buku persiapan ujian nasional SMP si bungsu membuatnya gundah. Panen kacang masih beberapa bulan lagi. Kambing yang dipelihara sebagai investasi juga lagi hamil, masih nanggung untuk dijual. Ditepisnya perasaan pilu itu dengan cepat-cepat mengamati jam yang tergantung di dinding kayu. Ia harus segera mempersiapkan sarapan.

Kaki membawanya melangkah ke dapur. Pinggang yang terasa makin nyeri menghentikan langkah kakinya sebentar. Ia menegakkan tulang punggungnya, terdengar bunyi gemeretak. Sayangnya beberapa detik kemudian tulang punggungnya kembali ke bentuk semula, condong ke depan. Beratnya kehidupan yang harus dia panggul membuat tulangnya mengalami gangguan tulang bungkuk.

Lampu dapur menyala. Ia berjalan ke arah pawon (alat memasak tradisional yang menggunakan kayu). Dengan lembut ia meletakkan bokongnya di dingklik (kursi kecil dari kayu) depan pawon. Tangannya memasukkan satu persatu bonggol kayu ke mulut pawon. Disulutnya kayu itu dengan api yang dinyalakan pada kertas bekas buku sekolah. Beberapa kali ia harus membenahi nyala api yang rentan padam. Setelah nyala api mulai lalap menjilati kayu, ia menumpangkan panci untuk mengaru beras.

Perempuan itu tenggelam dalam rutinitas paginya. Menanak nasi, memasukkan kayu dari gudang ke samping pawon, merebus air dengan ketel, mencuci panci mengaru dan perkakas lain, mengisi persediaan air bersih di genthong, mengisi air bak mandi, menyapu dapur, mengelap meja makan, membereskan dapur, membersihkan diri.

Selepas anaknya berangkat sekolah, ia dan suaminya pergi ke ladang. Pagi itu, tak banyak yang mereka bicarakan. Kepala masing-masing masih riuh memikirkan darimana mereka mendapatkan uang untuk besok. Tak terasa hari semakin siang, terik matahari kian membakar kulit yang makin hari makin kusam legam. Ketika matahari tepat di atas kepala, suami istri tersebut memutuskan untuk  pulang, istirahat.

TV di ruang tamu menunggu untuk diperhatikan. Perempuan itu memegang remot, mencari stasiun TV yang biasa menanyangkan acara serial drama tentang hukuman Tuhan bagi pendosa. Menonton drama tersebut membuatnya merasa bersyukur hidupnya tak lebih buruk dari tokoh antagonis. 

Tokoh yang digambarkan sebagai manusia jahat, kejam, penyiksa tokoh protagonis, pendosa yang di akhir drama akan mati dengan mendapat azab. Di akhir drama itu sering muncul tokoh penenang menyebutkan bahwa hukuman tersebut berasal dari Tuhan, sehingga kita tidak boleh meniru perbuatannya. Padahal jika dipikir lagi Tuhan mana yang tega menghukum umat-Nya dengan membuka aib umatnya di mata sesama manusia.

Angin sepoi-sepoi membelai lehernya. Perlahan kesadarannya menurun, ia ketiduran di depan TV. Nyawanya tersentak kembali ke raga saat mertuanya berteriak, "Hee.....bak yo matikan TV-nya kalo nggak ditonton, bikin boros biaya listrik aja. Bulan kemarin aja naik lima belas ribu dari biasanya. Itu lho wedhusmu bengok-bengok, daripada leha-leha bak yo mending cari rumput ke pinggir sungai sana. Jadi perempuan kok kerjaannya cuma santai-santai nonton TV. Nggak kayak waktu aku muda dulu. Biyuh, jaman sekarang jadi perempuan kok enak ya?"

Dengan bersungut-sungut ia menekan tombol off lalu enyah. Seperti biasa, setiap sore ia mencari rumput liar di tepi sungai untuk makan kambingnya. Dadanya terasa sesak mengingat perkataan mertuanya di rumah tadi. Tak disadari matanya memerah menahan tangis. Ini bukan pertama kalinya ia mendapat teriakan kasar dari mertua.

Hatinya remuk. Ia mendapat perlakuan kasar dari mertuanya. Bahkan orang tuanya sendiri tak pernah sedikitpun meneriakinya. Semua berawal dua puluh tiga tahun yang lalu saat pacarnya yang baru kenalan enam bulan terakhir melamarnya. Kebahagiaannya membuncah waktu itu. Senang membayangkan akan hidup layak dengan laki-laki yang saat itu moncer-moncernya memiliki usaha sewa pompa air dan jasa traktor bajak sawah. Termakan tingginya ekspektasi, ia mengiyakan lamaran tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x