Mohon tunggu...
Pius Sujarno
Pius Sujarno Mohon Tunggu...

hanya orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Politik

Hit and Run ala Prabowo untuk Menangkan Pilpres

5 Juni 2014   04:35 Diperbarui: 20 Juni 2015   05:17 179 3 7 Mohon Tunggu...

Sebagai jenderal lapangan, tentu Prabowo juga ahli strategi. Jika Prabowo menganggap pilpres seperti perang (Amin Rais ibaratkan “Perang Badar”), maka Prabowo bisa dipastikan jauh lebih siap dibandingkan Jokowi. Prabowo lebih siap karena dia telah lama memimpikan momen pilpres ini dan dia menjadi salah satu kandidatnya. Beda dengan Jokowi, sampai hari-hari terakhir menjelang dicapreskan oleh PDIP dia belum tahu apakah akan nyapres atau tidak.

Meski tahu bahwa Jokowi berpeluang untuk menjadi rivalnya, Prabowo tidak menduga kalau Jokowi benar-benar akan bertarung melawan dirinya di arena pilpres. Tak ada teman abadi dalam politik tampaknya berlaku umum dalam kamus perpolitikan, termasuk untuk orang selugu Jokowi. Prabowo yang turut mengusung Jokowi menjadi orang nomor satu di DKI awalnya menduga kalau Jokowi akan sungkan melawan dirinya. Tetapi dugaan Si Jendral keliru. Jokowi adalah politisi, sama dengan dirinya. Apalagi Si Jendral telah terbaca gelagatnya sebagai penumpang gelap di kereta Jokowi oleh Mega, numpang popularitas, tak ada alasan bagi Jokowi untuk merasa sungkan.

Bisa dibayangkan betapa sakit hatinya Prabowo pada Jokowi. Survey kala itu menunjukkan Prabowolah presiden jika Jokowi tidak ikut nyapres. Tetapi kalau Jokowi nyapres, Prabowo nggak ada apa-apanya. Tetapi bukan jendral yang hebat kalau tidak punya strategi. Dalam taktik perang gerilya, selalu ada cara untuk memukul lawan yang kekuatannya lebih besar. Tentu bukan dengan pertempuran frontal. Mencari sisi lengah dari musuh, melakukan serangan mendadak, kemudian kabur. Hit and run, pukul kemudian lari. Sepertinya itulah yang dilakukan oleh kubu Prabowo dalam melemahkan mental pendukung Jokowi.

Prabowo tahu bahwa pertahanan yang paling lemah adalah pertahanan yang dianggap paling aman. Area yang paling aman biasanya dengan penjagaan yang paling lemah. Maka, Prabowo menyerang daerah yang paling aman dari Jokowi. Kubu pendukung Jokowi terus bibombardir dengan serangan-serangan kampanye hitam. MakaSatu per satu isu ditembakkan. Mulai dari isu moral, bahwa Jokowi tidak amanah karena meninggalkan tugas belum habis masa jabatannya. Isu pasukan nasi bungkus. Isu pencitraan. Isu nasionalisme, bahwa Jokowi pro Amerika. Isu SARA, Jokowi adalah Kristen dan China. Isu korupsi Transjakarta. Satu per satu ditembakkan ke kubu Jokowi. Satu persatu para simpatisannya pun bertumbangan. Jokowi yang baru saja mencoba konsolidasi dengan barisan pendukung, serangan telah dihujamkan bertubi-tubi. Ketika kubu Jokowi mencoba mengklarifikasi serangan-serangan itu, mencoba untuk mencounter balik, mereka telah lari. Mereka lari menghindar, karena mereka memang menyerang pada sisi yang aman sebenarnyaTetapi korban sudah berjatuhan. Ada yang tertolong, ada juga yang tidak.

Pada saat yang sama Prabowo membangun kekuatan dengan merangkul barisan sakit hati. Orang-orang sakti yang sakit hati ditampungnya untuk memperkuat pasukannya. Mereka semakin solid karena menghadapi musuh yang sama. Inilah strategi konspirasi. Tak peduli latar belakang idiologi, yang penting sama-sama menjadi musuh Jokowi. Dan ketika kekuatan telah berimbang, strategi penyerangan diubah. Ketika pihak Jokowi masih sibuk merawat para simpatisan yang gugur mentalnya akibat serangan kampanye hitam, kini Prabowo tampil seolah-olah bersih dan mengutuk serangan ala pengecut itu. Prabowo tampil seperti seorang ksatria sejati, siap bertarung secara jantan. Head to head.

Siapa yang menang dalam pertempuran yang berimbang kelak? Agak sulit diprediksi. Baratayuda menelan korban yang tak terhingga, tetapi pemenangnya adalah Pandawa. Pertempuran ini bakal sengit. Jokowi akan berdarah-darah. Tapi kalau Tuhan masih berpihak pada orang baik, insyaallah, Jokowi menang.

VIDEO PILIHAN