Mohon tunggu...
Wiwin Winarti
Wiwin Winarti Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Seseorang yang sering menghabiskan waktu luangnya dengan mendengarkan lagu dan membaca komik.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Komik Pupus Putus Sekolah Mengajarkan bahwa Belajar Tidak Hanya di Sekolah

26 Juni 2022   03:43 Diperbarui: 26 Juni 2022   04:54 528 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sumber: Webtoon Pupus Putus Sekolah

Pupus Putus Sekolah merupakan komik karya Kurnia Harta Winata yang diunggah di platform Webtoon setiap hari Senin dan Jumat. Komik yang saat ini sudah memasuki season kedua tersebut menceritakan kehidupan seorang anak perempuan yatim piatu bernama Pupus. Di season pertama, awalnya Pupus tinggal berdua dengan neneknya. Kegiatan sehari-hari yang dilakukan Pupus hanya sekolah dan menjaga warung milik neneknya. Ada suatu hari di mana Pupus merasa dipermalukan oleh gurunya, saat itu Pupus ditanya berapa jumlah tiga telur jika ditambah empat telur, kemudian Pupus menjawab Rp14.000. Mungkin itu adalah jawaban yang benar jika ditanyakan di warung neneknya, tetapi karena pertanyaan itu ditanyakan di sekolah, maka jelas jawabannya salah. Semenjak kejadian tersebut, sebenarnya Pupus sudah malas untuk berangkat ke sekolah, tetapi karena gurunya mau meminta maaf kepadanya, ia pun mau tidak mau harus berangkat ke sekolah karena ia merasa tidak enak kepada gurunya yang sudah bersikap baik.

Sayangnya, tidak lama kemudian, sang nenek meninggal dunia. Setelah itu, Pupus tinggal dengan berpindah-pindah tempat. Saat itu, Pupus tinggal bersama Pak Liknya. Selama tinggal bersama Pak Lik, ia diajak untuk membantu bersih-bersih di kampus, tempat di mana Pak Liknya bekerja. Saat sedang menyapu halaman kampus, Pupus bertemu dengan salah satu profesor yang mengajar di kampus tersebut. Profesor tersebut bernama Suryo dan biasa dipanggil Prof. Suryo. Kemudian, Prof. Suryo bertanya kepada Pupus mengapa ia tidak bersekolah. Pupus pun menjawab bahwa bagaimana ia mau sekolah, sedangkan ia saja tinggal berpindah-pindah. Selain itu, ia juga mengatakan kalau lebih baik jika langsung praktek dibandingkan belajar teori di sekolah, seperti langsung praktek dalam menyapu. Merasa iba dengan Pupus yang tidak bersekolah dan tinggal berpindah-pindah, Prof. Suryo pun mengajak Pupus untuk tinggal bersamanya. Prof. Suryo meminta Pupus untuk bantu beres-beres di rumahnya, seperti membuatkan teh, menyapu, mengepel, mencuci pakaian dan piring. Sebagai gantinya, Prof. Suryo akan membantu Pupus belajar. Prof. Suryo mengatakan kepada Pupus untuk menganggap bahwa itu sama saja seperti sekolah, bedanya di sekolah itu Pupus yang akan menjadi murid sekaligus kepala sekolahnya, lalu Pupus juga yang menentukan aturan dan kurikulumnya.

Sesampainya di rumah Prof. Suryo, Pupus dikenalkan kepada pemilik warung makan yang ada di dekat rumah Prof. Suryo, yaitu Mak Luwe. Prof. Suryo mengatakan bahwa Pupus boleh makan apa saja yang ada di warung makan tersebut jika sudah jam makan siang dan Prof. Suryo sedang tidak ada di rumah, tetapi dalam sebulan tidak boleh lebih dari Rp300.000. Selain itu, Pupus juga dibawa menuju kamar yang nantinya akan ditempatinya. Keesokan harinya, Prof. Suryo memberitahu apa yang harus dikerjakan Pupus, seperti mencuci pakaian karena Prof. Suryo tidak punya baju bersih untuk dipakai besok. Di rumah Prof. Suryo sudah menggunakan mesin cuci untuk mencuci pakaian dan Pupus tidak paham tulisan bahasa Inggris yang tertera di mesin cuci tersebut. Mau tidak mau, Pupus pun harus menelpon Prof. Suryo yang sedang mengajar di kampus. Prof. Suryo menyarankan Pupus untuk mengambil kamus bahasa Inggris di rak buku besar. Akhirnya, pekerjaan mencuci pakaian harus memakan waktu yang lama karena Pupus harus mencari satu-satu arti katanya di kamus. Pupus merasa adanya teknologi malah menyusahkan bukan mempermudah. 

Pada malam hari, saat Pupus sudah menyelesaikan semua pekerjaan, ia bertanya harus melakukan apa kepada Prof. Suryo. Prof. Suryo menyarankan Pupus untuk mulai baca-baca buku apa saja yang ada di rak. Kemudian, Pupus menghabiskan waktu luangnya dengan membaca komik. Namun, Pupus tidak sekadar membaca komik, ia penasaran mengapa komik Eropa berwarna, sedangkan komik Jepang hitam putih. Bukannya menjawab pertanyaan Pupus, Prof. Suryo malah mengajari Pupus untuk menggunakan 'Mbah Google' untuk mencari tahu alasannya. Jawaban yang Pupus peroleh dari 'Mbah Google' adalah dulu ada orang bernama Hitler, ia memiliki kumis yang lucu. Hitler juga suka melukis, tetapi tidak diterima di sekolah seni. Hitler malah main politik, lalu menjadi pemimpin Jerman. Kemudian, Jerman membuat Perang Dunia II. Jepang menjadi teman Jerman di perang tersebut, lalu menyerang Amerika Serikat. Amerika Serikat pun marah dan mengebom dua kota di Jepang, Nagasaki dan Hiroshima. Jepang kalah dan menjadi miskin. Akibatnya, saat membuat komik, Jepang hanya menggunakan kertas jelek berwarna hitam putih agar biaya percetakannya murah. Akhirnya, hal tersebut menjadi gaya Jepang sendiri dalam membuat komik dan dipertahankan sampai sekarang.

Di suatu pagi, saat Prof. Suryo sedang minum teh, ia menceritakan bahwa cangkir yang digunakannya adalah hadiah dari istrinya yang sudah meninggal. Oleh karena itu, setiap Prof. Suryo meminum teh dari cangkir itu, ia akan kembali mengenang mendiang istrinya dan saat bibirnya mengenai bibir cangkir, ia merasa sedang mengecup bibir sang istri. Jadi, Prof. Suryo berpesan kepada Pupus agar hati-hati dengan cangkir itu karena menyimpan banyak kenangan Prof. Suryo dengan mendiang istrinya. Pupus yang mendengar cerita dari Prof. Suryo pun menjadi cekikikan karena merasa bahwa Prof. Suryo ternyata termasuk orang yang romantis. Namun, karena terlalu merasa senang, Pupus tidak sengaja menjatuhkan cangkir kesayangan Prof. Suryo itu. Pupus langsung panik dan mencari cara untuk menyembunyikan pecahan cangkir itu. Tiba-tiba, Pupus terpikirkan cara agar tidak ada yang bisa menemukan pecahan cangkir itu, yaitu dengan cara menguburnya di pekarangan belakang rumah Prof. Suryo. Kemudian, Pupus memutuskan untuk tidur, tetapi ia bermimpi didatangi mendiang istri Prof. Suryo. Di dalam mimpinya, mendiang istri Prof. Suryo meminta Pupus untuk mengembalikan cangkirnya yang pecah. Pupus pun menjadi terbangun karena bermimpi buruk. Akhirnya, saat Prof. Suryo sudah sampai di rumah setelah mengajar, Pupus mengakui kesalahannya. Bukannya marah, Prof. Suryo malah mengajak Pupus untuk membeli cangkir baru. Menurut Prof. Suryo, yang lalu biarlah berlalu, sekarang waktunya untuk membuat kenangan baru.

Di hari yang lain, Pupus bertemu pegawai bank di warung Mak Luwe. Pegawai bank tersebut mengatakan kalau rajin belajar nanti bisa kerja di bank, mendapatkan gaji yang besar, setiap hari rapi dan wangi. Pada malam harinya, Pupus menyampaikan kepada Prof. Suryo kalau ia ingin belajar secara malas-malasan saja agar tidak kerja di bank. Pupus tidak mau jika setiap hari harus rapi dan wangi. Kemudian, Prof. Suryo menanyakan apa yang diinginkan Pupus. Mendengar pertanyaan tersebut, Pupus menjadi diam karena ia sadar kalau tidak tahu ingin jadi apa nantinya. Prof. Suryo mengatakan bahwa manusia itu akan tumbuh ke arah apa yang ia inginkan, seperti tanaman tumbuh ke arah matahari. Kalau Pupus tidak ingin apa-apa, ke mana Pupus akan tumbuh. Bisa-bisa, Pupus hanya akan membuang waktu dan tenaga, berputar-putar di tempat yang sama. Beberapa hari setelahnya, Prof. Suryo mengajak Pupus ke tempat kerajinan tanah liat. Saat sudah sampai, Prof. Suryo menjelaskan bahwa di hadapan orang yang hanya bisa membuat batu bata, semua tanah liat hanya akan jadi batu bata atau teronggok percuma. Di hadapan guru yang hanya tahu bahwa sukses adalah jadi pegawai rapi dan wangi, semua murid adalah calon pegawai bank. Pilihan untuk mereka hanya kita akan jadi karyawan atau kita jadi tidak berguna. Beruntunglah murid yang ingin jadi karyawan dan celakalah yang tidak. Namun, tanah liat tidak bisa apa-apa tanpa pengrajinnya, berbeda dengan manusia. Kita memiliki kemampuan untuk membentuk diri kita sendiri. Kalau Pupus belum tahu ingin jadi apa, paling tidak Pupus bisa belajar cara untuk membentuk dirinya sendiri, seperti banyak membaca, banyak mengamati, banyak mencoba, kenali diri sendiri, temukan batas-batas yang dimiliki, dan cari cara untuk melampauinya.

Di season kedua, kehidupan Pupus tetap dipenuhi dengan pengalaman-pengalaman baru dan ia semakin belajar banyak hal. Diawali dengan Pupus yang baru mengetahui bahwa Thomas Alva Edison pernah gagal ribuan kali sebelum bisa membuat bola lampu. Pupus merasa tidak adil jika penemu terkenal saja boleh salah ribuan kali, sedangkan anak sekolah tida boleh. Anak sekolah yang belum benar-benar bisa harus terpaksa melanjutkan pelajaran yang lainnya. Hal itu akan menyebabkan anak sekolah akan semakin bingung dan akan dicap sebagai anak bodoh. Kalau sudah dicap sebagai anak bodoh, maka guru akan malas untuk mengajarinya.

Pada suatu pagi, Prof. Suryo sakit maag karena telat makan. Kemudian, Prof. Suryo menyuruh Pupus untuk minta dibuatkan bubur oleh Mak Luwe karena ia harus memakan makanan yang lembut-lembut. Pupus juga minta untuk dibuatkan bubur agar senasib sepenanggungan dengan Prof. Suryo. Setelah buburnya matang, Pupus langsung menyajikan bubur buatan Mak Luwe untuk Prof. Suryo dan dirinya di meja makan. Saat memakan bubur tersebut, Pupus merasa rasa buburnya tidak enak. Hal itu disadari oleh Prof. Suryo, sehingga ia mengatakan bahwa sebenarnya Mak Luwe tidak bisa memasak bubur, tetapi karena ia sering sakit maag dan kesulitan untuk mencari bubur di sekitar rumah, Mak Luwe berinisiatif membuatkan bubur untuknya. Mendengar perkataan Prof. Suryo, Pupus menjadi tergerak untuk mencoba belajar membuat bubur. Awalnya, Pupus belajar dari internet, tetapi selalu gagal. Kemudian, Prof. Suryo mengenalkan Pupus dengan temannya yang seorang koki profesional, Lilyana atau yang biasa dipanggil Madam Lie. Madam Lie memiliki sebuah restoran, dan di belakang restorannya ada rumah yang dapurnya sering dipakai untuk melatih koki lain. Madam Lie terkejut mendengar bahwa Pupus hanya ingin belajar membuat bubur, ia merasa terhina karena ia menguasai bermacam-macam masakan dan Pupus hanya ingin belajar membuat bubur.

Selain Pupus, ada koki lain yang juga belajar masak dengan Madam Lie. Koki tersebut bernama Oky. Selama belajar masak, Pupus dan Oky sering dimarahi oleh Madam Lie. Semua rasa makanan harus sesuai dengan apa yang Madam Lie buat. Bahkan ada saat-saat di mana Pupus merasa ingin menyerah karena terlalu sering dimarahi, tetapi Oky selalu menyemangatinya. Oky mengatakan tiap kali perasaan kesal muncul karena habis dimarahi Madam Lie, ia akan mengingat kembali mimpinya. Oky bermimpi mempunyai restoran sendiri di kampung halamannya, restoran sederhana yang terbuat dari bambu tetapi menyuguhkan masakan kelas internasional. Oky menyebut itu sebagai mantra untuk mendapatkan kekuatan lagi agar bisa tetap bertahan. Mendengar hal itu, Pupus pun menjadi terpacu untuk membuat mantranya sendiri. Mantra yang dimiliki Pupus adalah 'demi Profesor'.

Sampai di episode terakhir season kedua, Pupus masih terus belajar membuat bubur agar jika Prof. Suryo sakit maag lagi, Prof. Suryo bisa memakan bubur yang rasanya enak. Melalui tokoh Pupus, kita bisa mengambil pesan bahwa kita bisa belajar di mana saja, tidak hanya di sekolah. Gurunya bisa siapa saja, karena semua orang adalah guru. Sekolahnya di mana saja, karena semua tempat adalah sekolah. Semua orang bebas mempelajari apa yang disukainya, kapan saja dan di mana saja. Selama kita memiliki semangat untuk terus belajar, kita bisa mewujudkan apa yang diinginkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan