Mohon tunggu...
Wiwin Zein
Wiwin Zein Mohon Tunggu... Non-Partisan.

Tinggal di Cianjur

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Fenomena "Suami Takut Istri" Bukti Adanya Toxic Relationship

25 November 2020   06:48 Diperbarui: 25 November 2020   07:06 214 31 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Fenomena "Suami Takut Istri" Bukti Adanya Toxic Relationship
Ilustrasi (japanesestation.com)

Dalam budaya paternalistik seperti yang dianut oleh kebanyakan masyarakat kita, suami biasa diposisikan sebagai kepala keluarga. Suami lebih dominan dalam berbagai pengambilan keputusan. Hal itu karena suami merupakan pihak yang dianggap lebih bertanggung jawab terhadap keluarga dibanding istrinya.

Walaupun begitu, suami yang baik tidak akan memandang relasi dengan istrinya seperti relasi "atasan-bawahan". Tetapi suami akan memandang istrinya itu sebagai "partner". Artinya suami akan melibatkan istrinya dalam berbagai hal menyangkut keluarga.

Di sisi lain dalam budaya paternalistik ada fenomena yang kontra dengan budaya paternalistik itu sendiri. Banyak kaum istri malah bersikap dan bertindak dominan terhadap suaminya. Celakanya sang suami "tidak berdaya" dan "tidak kuasa" berhadapan dengan istrinya yang seperti itu.

Fenomena istri lebih dominan daripada suaminya kemudian memunculkan istilah "suami takut istri". Para suami yang dikategorikan sebagai "suami takut istri" ini senantiasa tunduk patuh, manut, atau selalu mengikuti keinginan sang istri. Dalam kasus "suami takut istri", kendali keluarga lebih berada dalam tangan istri.

Mengapa fenomena "suami takut istri" ini bisa terjadi ? Beberapa faktor diyakini menjadi penyebab hal itu terjadi.

Pertama, si suami mungkin terlalu mencintai istrinya. Si suami sangat takut kehilangan istrinya. Sehingga apa pun permintaan atau keinginan istrinya akan dipenuhi dan dikabulkan.

Suami semacam itu menjadi bucin sejati. Ia rela menjadi budak bagi istrinya, dengan memberikan sebagian kebebasannya demi untuk "membahagiakan" istrinya.  

Kedua, si suami tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sementara penghasilan istrinya cukup besar. Si suami menjadi insecure di hadapan istrinya. Si suami tidak memiliki cukup kuasa untuk "melakukan perlawanan" istrinya.

Si suami bersikap seperti itu demi  keamanan finansial  keluarga. Sebab kalau ia macam-macam terhadap istrinya, tidak manut terhadap istrinya, dikhawatirkan istrinya itu akan "mengembargo" ekonomi keluarga. 

Bisa juga jika si suami tidak manut terhadap istrinya, ia khawatir akan "digugat" oleh istrinya tentang segala kebutuhan keluarga yang selama ini dipenuhi oleh istrinya.

Ketiga, si suami memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah dari istrinya. Misalnya si suami hanya tamatan SLTA sementara istrinya S.2 (Strata dua).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN