Mohon tunggu...
Wiwin Zein
Wiwin Zein Mohon Tunggu... Non-Partisan.

Tinggal di Cianjur

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Online Atau Bukan, Menghina Tetaplah Tindakan Tak Terpuji

2 Oktober 2020   11:38 Diperbarui: 2 Oktober 2020   12:27 85 11 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Online Atau Bukan, Menghina Tetaplah Tindakan Tak Terpuji
Silvany Austin Pasaribu, diplomat RI di PBB (manado.tribunnews.com)

Tindakan Vanuatu menyerang Indonesia dalam sidang umum PBB menyangkut masalah Papua merupakan tindakan resek yang seharusnya tidak dilakukannya. Vanuatu tidak memiliki hak apa pun mencampuri urusan rumah tangga Indonesia.

Tindakan resek Vanuatu itu tidak dibiarkan begitu saja oleh diplomat Indonesia. Sang diplomat, Silvany Austin Pasaribu memberikan jawaban tegas atas serangan Vanuatu terkait Papua tersebut.

Kita sebagai warga negara Indonesia wajar dan pantas jika tersinggung atas tindakan yang dilakukan Vanuatu. Akan tetapi bukan berarti kita kemudian bebas balik menghina atau menumpahkan kemarahan kepada Vanuatu.

Tidak semua warga negara Indonesia bisa menahan diri. Sebagian warga Indonesia, atau lebih tepatnya warganet Indonesia berupaya menumpahkan sikap kesal dan marahnya itu melalui media sosial. Para warganet Indonesia itu balik menyerang Vanuatu dengan kata-kata sinis dan bernada pejoratif.

Bicara masalah berkata nyinyir dan menghina di media sosial, bagi sebagian warganet   adalah hal biasa. Bahkan sebagian warganet Indonesia memiliki "skill dewa" dalam hal itu. Warganet Indonesia memang dikenal cukup "sadis" dalam memberikan suatu respon di media sosial.

Tidak hanya warganet biasa, warganet yang "makan sekolahan", artis, publik figur, politisi, bahkan tokoh agama sekali pun tak jarang pula suka melakukan tindakan kurang simpatik di media sosial. Mereka seringkali membuat postingan atau komentar yang kasar, tidak sopan, nyinyir dan bahkan menghina pihak lain. Postingan atau komentar mereka di media sosial tak jarang membuat kuping memerah dan sakit hati pihak lain.

Sewaktu mereka berseteru dengan sesama warganet, tak jarang mereka saling ejek, saling memojokkan, bahkan saling menghina di media sosial. Diksi-diksi yang mereka gunakan pun "sangat kotor" dan "menjijikan".

Ada hal yang lebih menyedihkan sekaligus menjijikkan. Yakni sewaktu warganet yang "makan sekolahan", artis, publik figur, politisi, bahkan tokoh agama memainkan isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) dalam menyerang atau memojokkan pihak lain yang berseberangan di media sosial.

Penggunaan istilah"kadrun" dan "aseng" adalah bukti paling kasat mata dan sahih akan hal itu. Di media sosial, kedua diksi itu masih terus digunakan sampai saat ini. Padahal penggunaan kedua diksi itu sama saja dengan mengabadikan permusuhan dan membuat keterbelahan antar elemen bangsa terus ada.

Kedua istilah itu yakni "kadrun" dan "aseng" adalah ungkapan bersifat rasis. Berarti siapa pun yang menggunakan kedua istilah itu adalah orang yang rasis.

Sebagaimana diketahui bahwa istilah "kadrun" kependekan dari "kadal gurun". Istilah itu digunakan untuk menyebut kalangan Islam atau yang bersifat ke-arab-araban.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN