Mohon tunggu...
wiwik kurniaty
wiwik kurniaty Mohon Tunggu... mahasiswa

mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Kelompok Agama Eksklusif dan Intoleransi

14 September 2019   12:42 Diperbarui: 14 September 2019   12:47 0 0 0 Mohon Tunggu...
Kelompok Agama Eksklusif dan Intoleransi
Sumber gambar: Islami.co

Pada bulan Mei 2019 lalu, Setara Institute merilis penelitian yang mereka lakukan pada sepuluh universitas negeri yang ada di Indonesia. Mereka menemukan bahwa di universitas-universitas itu tumbuh kelompok-kelompok belajar agama yang bersifat tertutup dan eksklusif.

Kelompok-kelompok ini ada sejak tahun 1990 dan berkembangdan sangat baik dan subur saat reformasi. Malah reformasi seakan memberi kondusifitas bagi kelompok-kelompok ini karena didukung dengan sarana penghubung yang privat yaitu smartphone.

Kelompok belajar agama yang ekslusif ini adalah salah satu bibit tumbuhnya sikap intoleran pada kebanyakan mahasiswa baru dan masuk pada kelompok-kelompok eksklusif itu. Mereka mengajarkan agama yang menurut mereka asli dari tanah timur tengah sehingga beberapa kebiasaan pada Islam di Indoensia, tidak mereka anggap sebagai ajaran murni.

Mereka juga menganggap bahwa ajaran agama Islam yang sedang mereka pelajari adalah yang paling benar dan di luar itu, adalah pengajaran agama yang salah. Ini tidak saja anara agama, semisal Islam melihat Kristen,tapi juga Islam Sunni dan Syiah, dimana mereka sama-sama Islam tapi beda mahzab.

Anggapan bahwa ajaran mereka yang paling benar inilah yang memicu sikap intoleransi. Karena mereka cenderung tidak mentolelir hal yang berbeda dengan mereka. Mereka menganggap di luar mereka adalah salah. Kelompok eksklusif itu adalah salafi-wahabi, tarbiyah dan tahririyah. Juga kelompok yang terafiliasi dengan ormas yang sudah dilarang di Indonesia yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

Mereka juga mengganggap bahwa Islam sedang terancam dengan berbagai keyakinan yang tidak sesuai dengan islam sehingga keyakinan mereka itu patut dibela dari para musuh Islam. Para musuh Islam ini dianggap akan mendesak mereka dengan segala pengaruhnya.  Ini adalah wacana yang sering dilontarkan  oleh kelompok-kelompok eksklusif ini. Inilah yang kurang lebih menjadi temuan dari penelitian Setara Institute itu.

Kesepuluh PTN itu adalah Universitas Indonesia, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah, Institut Teknologi Bandung, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Brawijaya, dan Universitas Airlangga. Ini sejalan dengan temuan yang dilakukan oleh salah satu instansi pemerintah soal intoleransi.

 Pemecahan atas situasi ini mungkin adalah memperbanyak diskusi antar kelompok sehingga terjadi dialog. Dengan begitu wacana akan lebih kaya dengan narasi-narasi berbeda dan tidak hanya satu seragam. Narasi yang tidak seragam ini memperkaya perbendaraan soal perbedaan yang juga harus kita junjung bersama.

Pancasila dibangun dengan segala perbedaan yang ada di Indonesia. The Founding Fathers kita melihat bahwa persatuan bisa kita bangun diatas perbedaan itu. Karena itu maka tidak ada gunanya untuk menjadi eksklusif dan mengira diri kita lebih dari yang lain. 

KONTEN MENARIK LAINNYA
x
14 September 2019